Konten dari Pengguna

Nasib Bangsa yang Dipengaruhi oleh Sejarah dan Geografi

Aisyah Badriyah

Aisyah Badriyah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisyah Badriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

seorang perempuan yang melihat sejarah dan geografi keadaan bangsa.
zoom-in-whitePerbesar
seorang perempuan yang melihat sejarah dan geografi keadaan bangsa.

Mengapa bentuk bangsa itu kini seperti ini? Sedangkan bangsa lain memiliki bentuk yang berbeda? Kadang banyak hal yang kita bingungkan tentang perubahan bentuk bangsa, yang paling sering terlihat adalah dari segi bentuk wilayahnya. Apa yang mempengaruhi perubahan bentuk wilayah bangsa tersebut? Jawabannya adalah karena adanya pengaruh dari geografi. Tapi bukan hanya dari segi bentuk wilayah saja yang berbeda, tetapi setiap peristiwa-peristiwa bangsa juga berbeda-beda.

Kenapa itu bisa terjadi? Ya karena adanya sejarah bangsa yang mempengaruhi. Menurut Rusdi Efendi dalam buku Geografi dan Ilmu Sejarah (Deskripsi Geohistori Untuk Ilmu Bantu Sejarah) (119), sejauh mana alam geografis wilayah yang bersangkutan telah mempengaruhi berbagai tindakan manusianya dan kedua, sejauh mana sebaliknya manusia telah mengubah tawaran ataupun tantangan alam geografis diwilayah itu. Hal ini membahas sejauh mana tindakan manusia mempengaruhi sejarah dan geografi, serta menentukan nasib sebuah bangsa. Geografi dan sejarah memiliki hubungan yang selaras, yang menentukan arah nasib bangsa dari berbagai bentuk. Dalam praktiknya, Sejarah dapat menjawab kapan dan siapa suatu peristiwa terjadi (dimensi waktu), sedangkan geografi menjawab di mana peristiwa itu berlangsung dan mengapa kondisi alam mendukungnya (dimensi ruang).

Keadaan peristiwa sejarah berhubungan erat dengan aspek geografi dalam kurun waktu yang seterusnya. Menurut Antonius Ronaldo Hane dalam buku Peristiwa Sejarah dalam Memahami Konsep Ruang dan Waktu Aristoteles (37), dimensi spasial merupakan sebutan untuk ruang, sedangkan dimensi temporal merupakan sebutan untuk waktu. Ruang atau dimensi spasial ini merupakan tempat terjadinya sesuatu peristiwa dalam perjalanan waktu. Geografi dan sejarah merupakan latar dan juga kinerja dasar dalam memahami perjalanan suatu bangsa. Geografi tersendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi, ruang, dan fenomena geosfer dengan sudut pandang keruangan atau wilayah. Sementara itu, sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa dan perkembangan kehidupan manusia di masa lampau dalam dimensi waktu. Menurut Heryanti dalam buku Pengantar ilmu sejarah (10), sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan atau dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi di masa lampau. Pemahaman sejarah dan geografi membantu kita melihat kegiatan, permasalahan masyarakat secara menyeluruh.

Hubungan geografi dengan sejarah sangat erat. Tanpa geografi, sejarah akan sulit menggambarkan kondisi suatu peristiwa. Sebaliknya, geografi tidak akan bisa tanpa adanya suatu peristiwa Menurut Rusdi Efendi dalam buku Geografi Dan Ilmu Sejarah (Deskripsi Geohistori untuk Ilmu Bantu Sejarah) (169), geografi tanpa sejarah itu bagaikan jerangkong tanpa gerak, sedangkan sejarah tanpa geografi itu bagaikan kelana tanpa tempat tinggal.

Salah satu contoh yang dapat menggambarkan mengenai nasib bangsa yang dipengaruhi oleh sejarah dan geografi digambarkan oleh kerajaan Tarumanegara. Menurut Wulan Safitri, Sani Safitri, dan Rani Oktapiani dalam buku Peran Kondisi Geografis Terhadap Perkembangan dan Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara (3), hasil penelitian menunjukkan bahwa letak kerajaan yang berada di sepanjang Sungai Citarum, Cisadane, dan Ciliwung memberikan keuntungan dalam sektor pertanian, perdagangan, dan pengembangan budaya Hindu-Buddha. Geografi membawa kemajuan bagi kerajaan, tapi tak selamanya geografi membawa kemajuan melainkan kemunduran. Hal ini menunjukkan bahwa geografi tak hanya akan mendukung tetapi juga membawa kemunduran kerajaan.

Menurut Heryanti dalam buku Pengantar ilmu sejarah (102), sejarah yang bersifat geografis, yakni penyelidikan mengenai pengaruh kondisi-kondisi geografi (keadaan lingkungan dan lokasi) terhadap jalannya sejarah. Dapat kita pahami bahwa dengan adanya gabungan ilmu sejarah dengan geografi, suatu peristiwa dapat tergambarkan, baik segi orang, kondisi alam dan lain-lainnya. Pengaruh sebuah nasib bangsa tidak hanya dipengaruhi oleh sejarah tetapi juga dipengaruhi oleh geografi. Ini membuktikan ilmu sejarah selalu berdampingan dengan ilmu lainnya. Pada topik kali ini ilmu sejarah berdampingan dengan geografi. Menurut Rusdi Efendi dalam buku Geografi Dan Ilmu Sejarah (Deskripsi Geohistori Untuk Ilmu Bantu Sejarah) (ii) "...ilmu Sejarah tidak bisa berdiri sendiri dan harus meminta bantuan disiplin ilmu lain dalam merekonstruksi sebuah peristiwa sejarah, salah satunya adalah cabang ilmu yang membantu adalah cabang dari Ilmu Geografi yakni Geografi Sejarah." Dengan adanya kerja sama antara dua ilmu ini, kita dapat melihat suatu peristiwa dengan lengkap dan dapat memahaminya.

Banyak hal yang membuat kita lupa bahwa nasib yang kita rasakan, kita pijak tiap harinya merupakan warisan sejarah dan pengaruh geografi masa lalu. Menurut Heryanti dalam buku Pengantar ilmu sejarah (5) "Dengan kata lain pengetahuan dan kesadaran atas eksistensi serta kondisi kekinian kita hanya bisa dipahami dengan membuka tabir transparan masa lalu." Melalui pemahaman mengenai hubungan geografi dengan sejarah, kita dapat mengerti perjalanan bangsa terdahulu secara utuh. Kita juga bisa belajar menghargai warisan masa lalu untuk melangkah ke masa depan.