MMD UB 10 Berdayakan ODGJ Wonorejo Lewat Inovasi, Edukasi & Pengelolaan UMKM

Mahasiswa Universitas Brawijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aisyah Dinda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Wonorejo, Kabupaten Malang — Mahasiswa Membangun Desa 2025 kelompok 10 Desa Wonorejo dengan dibimbing oleh Safarudin Hisyam Tualeka, S. Tr.Kom., M.A.B sebagai Dosen Pembimbing Lapangan melaksanakan pemberdayaan bagi Eks Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam kegiatan posyandu jiwa dengan menciptakan karya baru berupa batik udeng dan kaos tie-dye. Kegiatan ini diikuti oleh 10 pasien posyandu jiwa di Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Pada Senin (14/07/2025), beberapa penyintas ODGJ bersama Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya melakukan kegiatan rutin bulanan Posyandu Jiwa di Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sekretaris Kader Posyandu Jiwa Desa Wonorejo, Siti Aminah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap bulan, biasanya dilaksanakan pada minggu ketiga. Selain membatik dengan metode batik ciprat, para eks ODGJ bersama kader Posyandu Jiwa dan dimeriahkan oleh Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya serta mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang juga membuat berbagai produk rumah tangga seperti kemoceng, bros, dan keset.
“Dengan begitu, para eks ODGJ bisa mendapat penghasilan dan mendapatkan kegiatan yang bermakna,” ujar Aminah.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi bukti bahwa penyintas ODGJ juga mampu memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Aminah menjelaskan, total pasien di Posyandu Jiwa mencapai puluhan orang. Mereka akan di jemput oleh kader Posyandu Jiwa dan dibantu oleh mahasiswa yang tengah menjalani KKN. Usia pasien bervariasi, berkisar antara 20 tahun hingga lansia. Beberapa dari mereka juga sudah bisa berkomunikasi dengan baik bahkan sudah menjalani kehidupan seperti manusia normal pada umumnya. Namun demikian, mereka harus tetap menerima terapi pengobatan dari RSJ Lawang.
“Mereka yang ikut kegiatan ini juga tetap menerima pengobatan,” imbuhnya. Di Posyandu Jiwa, mereka akan menjalani pemeriksaan kesehatan, seperti pengukuran berat badan, tekanan darah, serta diberikan obat rutin untuk menjaga stabilitas mentalnya. Selanjutnya, mereka akan melaksanakan kegiatan yang diadakan oleh kelompok 10 MMD UB 2025 yaitu kegiatan senam pagi, membuat batik udeng dengan teknik cap, dan kaos tie-dye.
“Dengan kegiatan yang dilakukan oleh kelompok 10 MMD UB 2025 sangat amat berkesan dan mampu memiliki target pasar yang efektif dengan tidak meninggalkan unsur budayanya,” ujar Mas Wahid, salah satu kader Posyandu Jiwa.
Produk tersebut dipilih bukan tanpa alasan,
“karena Desa Wonorejo masih memiliki ketertarikan dengan Suku Tengger yang menggelar Upacara Kasada. Dalam upacara Kasada, pemakaian udeng dari kerabat jauh dan orang yang spesial akan menambah nilai dari produk tersebut,” jelas Pak Halim, Sekretaris Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari.
Afrizal Difa Rahmansyah, selaku ketua kelompok 10 MMD UB 2025 dan ketua acara dalam kegiatan pemberdayaan ODGJ juga mempertimbangkan aspek dari ilmu psikologi. Menurutnya, kegiatan yang bermakna dapat membantu meningkatkan kesehatan mental para eks ODGJ, terutama jika didukung oleh lingkungan sekitar. Melalui Posyandu Jiwa dan pemberian materi di SMP Negeri 4 Satu Atap Desa Wonorejo diharapkan dapat memahami pentingnya kesehatan mental dan membangun interaksi yang baik dengan ODGJ dikarenakan keduanya akan saling melengkapi untuk mewujudkan hak setiap manusia, yaitu memanusiakan manusia.
Desa Wonorejo menunjukkan komitmen kuat dalam memberdayakan eks Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), tidak hanya sebagai subjek rehabilitasi, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi produktif. Salah satu program utama yang dijalankan adalah pelatihan pembuatan batik ciprat yang bertujuan meningkatkan keterampilan, kesehatan, dan kesejahteraan para eks ODGJ. Sebagai respons terhadap potensi produk pemberdayaan tersebut yang tidak hanya sebagai subjek rehabilitasi tapi juga dapat berpotensi mengurangi penurunan angka Dependency Ratio dari Desa Wonorejo.
Pada Jumat (18/7/2025), Aisyah Dinda Fathiyya dan Khalda Khoirunnisa Sudrajad yang merupakan anggota Kelompok 10 MMD UB melakukan pendampingan pengelolaan UMKM dalam marketplace kepada kader Posyandu Jiwa. Pendampingan ini bertujuan agar hasil karya teman-teman ODGJ dapat dikelola dan dipasarkan secara lebih luas dikarenakan melihat permasalahan yang ada, yakni strategi pemasaran produk batik oleh komunitas ODGJ di Desa Wonorejo belum terkelola secara optimal.
Pendampingan UMKM ini dilaksanakan di Posyandu Jiwa Desa Wonorejo dengan empat pembahasan utama yaitu pencatatan keuangan secara digital menggunakan aplikasi Spreadsheet, informasi terkait legalitas yang perlu dimiliki UMKM, tata cara ekspor barang, dan digital marketing.
Pendampingan yang dilakukan mendapatkan respons yang positif dari para kader Posyandu Jiwa. Beberapa kader sudah dapat mengaplikasikan program yang ada di Spreadsheet dan mengadaptasi untuk pengelolaan pencatatan penjualan. Adapun terkait legalitas yang perlu dimiliki UMKM sudah diketahui oleh para kader, bahkan produk dari teman ODGJ ini sudah mempunyai Hak Merek Dagang bernama “Danakirti”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kader Posyandu Jiwa sudah peduli dan memahami legalitas yang harus dimiliki dari entitas UMKM.
“Terkait NIB dan Hak Merek Dagang saya sudah pernah mendapat pelatihan di kecamatan, untuk NIB dapat mengajukan online dan Hak Merek Dagang milik Batik Danakirti sendiri sudah punya. Mungkin di NPWP karena kita termasuk BUMDes jadi ikut desa, yang sulit itu pengajuan Surat Izin Usahanya saja karena pengurusannya lumayan,” jelas Wahid salah satu kader Posyandu Jiwa.
Sama halnya dengan digital marketing, para kader dibekali pemahaman seputar pengelolaan media sosial hingga penggunaan platform marketplace agar produk yang dihasilkan dapat dikenal secara lebih luas. Pendampingan ini juga mencakup pemberian template content media sosial dan katalog produk secara digital. Tak hanya itu, kami juga membantu proses pembuatan akun Instagram, TikTok dan Shopee. Template content yang diberikan terdiri dari format yang sudah mencakup desain visual dan struktur caption, sehingga para kader hanya perlu menambahkan foto produk dan deskripsi produk sesuai kebutuhan. Melalui pendampingan ini, diharapkan pemasaran produk yang telah dihasilkan oleh teman-teman ODGJ dapat dilakukan secara optimal dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Kegiatan pendampingan ini diharapkan dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang. Oleh karena itu, kami memberikan guidebook atau buku panduan yang memuat seluruh materi yang ada pada saat pendampingan yang telah dilakukan. Guidebook ini merupakan bentuk konkret dari transfer pengetahuan dan praktik yang telah dilakukan juga sebagai harapan agar para pelaku UMKM yang dalam hal ini para kader Posyandu Jiwa dapat menjadi acuan dalam menjalankan dan mengelola UMKM secara mandiri. Selain itu, keberadaan guidebook ini juga berfungsi untuk mencegah terjadinya stagnasi pengetahuan, dengan memastikan bahwa ilmu, strategi, dan langkah-langkah pemberdayaan yang telah diberikan tidak terputus, melainkan dapat terus diterapkan dan ditingkatkan dalam jangka panjang.
