Konten dari Pengguna

Antara Petilasan, Nyadranan, dan Jaranan: Cerita Budaya Andongrejo

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisyah Putri Camilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kawasan pegunungan Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, terdapat sebuah desa yang menyimpan cerita panjang mengenai hubungan masyarakat dengan sejarah dan budaya lokal. Desa Andongrejo tidak hanya dikenal melalui keberadaan Petilasan Mbah Andong, tetapi juga melalui tradisi Nyadranan dan kesenian Jaranan Sari Budoyo Pangestu yang hingga kini masih dipertahankan masyarakat.

Namun, budaya di Andongrejo tidak hanya berbicara tentang tradisi yang masih hidup. Di balik keberlangsungannya, terdapat berbagai pemaknaan, perubahan, bahkan perbedaan pandangan masyarakat dalam melihat hubungan antara sejarah, kepercayaan, dan kehidupan sosial.

Petilasan Mbah Andong: Jejak Sejarah dan Budaya Desa Andongrejo

Petilasan Mbah Andong di Desa Andongrejo Sumber: Dok. Tim Ekspedisi Netra Nocturna

Di Desa Andongrejo, Petilasan Mbah Andong menjadi salah satu bagian penting dalam ingatan masyarakat mengenai sejarah lokal desa. Keberadaan tempat ini tidak hanya dipandang sebagai lokasi fisik, tetapi juga sebagai simbol hubungan masyarakat dengan cerita leluhur yang berkaitan dengan asal-usul wilayah Andongrejo.

Nama Andongrejo sendiri memiliki keterkaitan dengan keberadaan Mbah Andong. Masyarakat memaknai kata “andong” yang berkaitan dengan kendaraan tradisional, sedangkan “rejo” berarti ramai dan berkembang. Namun, cerita mengenai asal-usul Mbah Andong berkembang dalam beberapa versi.

“Tapi petilasannya bukan di situ,” Kata Mbah Arifin

Sedangkan menurut Mbah Suyadi

“Kalau Mbah Andong itu sejarahnya begini. Jadi orang babat, membuka hutan di sini. Tahu-tahu di situ ada tanaman bunga andong.”

Kedua keterangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pemahaman mengenai asal-usul Petilasan Mbah Andong. Mbah Arifin menyebut bahwa lokasi tersebut bukan merupakan tempat makam asli Mbah Andong, sedangkan Mbah Suyadi mengaitkan cerita asal-usulnya dengan keberadaan tanaman bunga andong yang kemudian menjadi dasar penamaan wilayah. Perbedaan versi tersebut menjadi bagian dari sejarah lisan masyarakat yang berkembang secara turun-temurun.

Salah satu tradisi yang masih berkaitan dengan Petilasan Mbah Andong adalah Tradisi Nyadranan yang dilaksanakan setiap bulan Suro. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat melalui rangkaian kegiatan berupa kirab obor menuju Petilasan Mbah Andong, doa bersama, penyampaian narasi sejarah oleh sesepuh atau tausiah, pembawaan ambeng berupa nasi uduk, ingkung, serta makanan pendukung lainnya, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dan pertunjukan seni jaranan.

Selain berkaitan dengan tradisi Nyadranan, Petilasan Mbah Andong juga memiliki pemaknaan lain bagi sebagian masyarakat. Beberapa warga mempercayai petilasan tersebut sebagai tempat untuk menyampaikan hajat atau ungkapan rasa syukur ketika memperoleh suatu keberhasilan. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari hubungan masyarakat dengan ruang budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Jaranan dan Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Andongrejo

Papan nama Sanggar Seni Omah Kuno, tempat pelestarian kesenian tradisional di Desa Andongrejo. Sumber: Dok. Tim Ekspedisi Netra Nocturna

Selain Tradisi Nyadranan, salah satu warisan budaya yang masih bertahan di Desa Andongrejo adalah Jaranan Sari Budoyo Pangestu yang dilestarikan melalui Sanggar Seni Omah Kuno. Sanggar ini dikelola oleh Mbah Suyadi, tokoh budaya yang berperan dalam menjaga keberlangsungan kesenian lokal melalui latihan, pertunjukan, dan regenerasi generasi muda.

"Tahun 1990 baru duduk di sini dan saya sendiri yang memelihara. Yang tua-tua sudah meninggal. Jadi sekarang mulai tahun 1992 saya jadi ketua jaranan"

Kesenian jaranan sempat mengalami masa berhenti sebelum kembali dikembangkan oleh Mbah Suyadi. Hingga saat ini, Sanggar Seni Omah Kuno tidak hanya mempertahankan jaranan, tetapi juga berbagai kesenian lain seperti tari jatil, barongan, dan tari Burung Garuda.

Mbah Suyadi bersama topeng peninggalan turun-temurun yang menjadi bagian dari kesenian tradisional. Sumber: Dok. Tim Ekspedisi Netra Nocturna

Selain menjadi tempat latihan seni, Sanggar Seni Omah Kuno juga menyimpan berbagai peninggalan budaya berupa alat musik tradisional dan koleksi topeng yang telah ada sejak tahun 1916 yang masih dirawat oleh Mbah Suyadi.

“Topengnya itu sudah ada dari tahun 1916, yang hitam namanya Mbah Drono, yang putih Siti Fatimah. Saya rawat sejak tahun 1991.” Kata Mbah Suyadi

Keberadaan Sanggar Seni Omah Kuno menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui perawatan benda budaya, penyimpanan sejarah, dan proses pewarisan kepada generasi berikutnya.

Latihan kesenian jaranan oleh generasi muda di wilayah Bandealit sebagai bentuk upaya pelestarian budaya lokal. Sumber: Dok. Tim Ekspedisi Netra Nocturna

Upaya pelestarian budaya juga mulai berkembang di wilayah Bandealit, melalui kegiatan latihan jaranan yang dilakukan kembali oleh masyarakat, khususnya generasi muda pada malam hari. Hal tersebut menjadi tanda bahwa keberlangsungan budaya Andongrejo tidak hanya bergantung pada tokoh lama, tetapi juga pada keterlibatan generasi baru yang mulai mengambil peran sebagai penerus kesenian lokal.