Anak di Tenda, Ego di Puncak?

Saat ini sedang menempuh pendidikan strata-1 di Universitas Negeri Surabaya dengan program studi Psikologi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari aisyahalifatuzafira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang ironis ketika perjalanan menuju puncak justru membuat seseorang kehilangan arah dalam menentukan prioritas. Puncak gunung mungkin telah menjadi tujuan yang lama direncanakan, namun bagaimana bila untuk mencapainya, seseorang justru meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya tidak bisa ditinggalkan?
Kasus balita yang diduga ditinggalkan sendirian di dalam tenda oleh kedua orang tuanya saat mendaki Gunung Prau, sebagaimana diberitakan detikSumut pada 17 Oktober 2026, memunculkan pertanyaan penting mengenai pengasuhan. Peristiwa ini tidak hanya berkaitan dengan keputusan untuk melanjutkan pendakian, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menimbang keinginan pribadi ketika berhadapan dengan keselamatan anak.
Di tengah budaya yang semakin akrab dengan dokumentasi pengalaman dan pencapaian di media sosial, kasus ini layak untuk dijadikan bahan refleksi: apakah keinginan untuk mencapai sesuatu terkadang membuat kita lupa mempertanyakan apakah sesuatu itu memang harus dicapai?
Ketika Keinginan Berubah Menjadi Ketakutan untuk Melewatkan
Salah satu konsep psikologi yang dapat digunakan untuk memahami fenomena ini adalah Fear of Missing Out (FOMO). Przybylski dan koleganya (2013), melalui penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior, menjelaskan FOMO sebagai kekhawatiran bahwa orang lain sedang memperoleh pengalaman berharga yang tidak kita alami. Penelitian tersebut menemukan hubungan antara FOMO dan keterlibatan yang lebih tinggi dengan media sosial.
Dalam konteks pendakian, konsep ini dapat dijadikan sebagai salah satu lensa untuk mempertanyakan mengapa seseorang mungkin merasa perlu menuntaskan pengalaman yang sudah direncanakan. Namun, kita tidak memiliki bukti bahwa FOMO mendorong keputusan orang tua dalam kasus Gunung Prau. Pertanyaan yang sekiranya lebih relevan adalah apakah keinginan mencapai tujuan pribadi tetap dievaluasi ketika situasi menuntut perubahan prioritas.
Ketika Pengalaman Menjadi Pembuktian Diri
Dalam kajiannya mengenai presentasi diri di media sosial, Hollenbaugh (2021) menjelaskan bahwa platform digital menyediakan berbagai kesempatan bagi individu untuk mengelola kesan yang ingin mereka tampilkan kepada orang lain. Apa yang dibagikan seseorang tidak terlepas dari tujuan presentasi dirinya maupun karakteristik audiens yang melihat unggahan tersebut.
Gagasan ini membuka pertanyaan mengenai budaya dokumentasi pencapaian: apakah pengalaman masih dinikmati sebagai pengalaman pribadi, atau mulai dipandang sebagai sesuatu yang perlu ditampilkan dan diakui orang lain? Tentu saja, membagikan foto pendakian tidak otomatis berarti orang lain mencari validasi secara berlebihan. Namun, kasus Gunung Prau dapat menjadi titik refleksi tentang pentingnya membedakan kepuasan pribadi dalam mencapai tujuan dari tanggung jawab terhadap orang lain.
Ketika Prioritas Pengasuhan Diuji
Bagaimana orang tua mempersepsikan risiko cedera pada bayi dan balita di lingkungan rumah dikaji oleh Foetigger dan koleganya (2021), penelitian tersebut menunjukkan bahwa persepsi risiko berkaitan dengan berbagai pertimbangan, termasuk perkembangan dan karakteristik anak serta pengalaman sebelumnya.
Meskipun penelitian itu tidak membahas pendakian gunung, gagasannya relevan untuk mengingatkan bahwa penilaian risiko merupakan bagian penting dari perlindungan anak. Dalam kegiatan di alam terbuka, orang tua perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, kebutuhan anak, serta kemungkinan bahaya sebelum menentukan apakah suatu rencana aman untuk dilanjutkan. Ketika keselamatan anak tidak dapat dipastikan, pencapaian pribadi seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan risiko tersebut.
Pada akhirnya, kasus Gunung Prau mengingatkan kita bahwa tidak semua pencapaian layak diperjuangkan dengan pengorbanan hal yang lebih mendasar. Media sosial boleh dijadikan ruang untuk berbagi pengalaman, merayakan keberhasilan, dan mengekspresikan diri, tetapi pengakuan orang lain tidak seharusnya menjadi ukuran yang mengalahkan tanggung jawab. Menjadi orang tua bukan berarti harus berhenti mengejar impian, melainkan mampu memahami kapan sebuah keinginan perlu dikesampingkan demi keselamatan anak. Sebab, keberhasilan mencapai puncak tidak selalu mencerminkan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan. Ada kalanya keputusan paling dewasa bukanlah melanjutkan perjalanan, melainkan bersedia mengubah arah. Karena setinggi apa pun puncak yang ingin dicapai, tanggung jawab melindungi anak seharusnya tetap menjadi prioritas.
