Konten dari Pengguna

Penyemangat Diri : Resensi Buku Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan

Aisyah Fitri

Aisyah Fitri

Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Raden Mas Said Surakarta. Menyukai segala hal tentang musik, Anime, Korean Culture dan kucing.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisyah Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan karya Jeon Seunghwan, sumber dokumen pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Buku Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan karya Jeon Seunghwan, sumber dokumen pribadi.

Pepatah bilang, hidup itu pilihan. Kalimat klise tersebut seakan menjadi refleksi ketika memulai hidup maka manusia harus menentukan pilihannya. Pilihan itu lah yang akan menentukan proses seperti apa yang akan mereka lalui. Ya, layaknya melakukan perjalanan, hidup dipenuhi lika-liku. Akan ada banyak persimpangan yang kita temui. Akan kah kita berjalan lurus begitu saja? atau lebih baik berbelok ke kanan/kiri? atau justru kembali ke belakang? Tugas kita adalah memutuskan. Begitu pula dengan hidup. Ketika kita dihadapkan dengan banyak pilihan, kita tidak boleh serakah, pilih satu yang dirasa terbaik untuk diri kita. Telaah resiko dan kemungkinan-kemungkinan apa saja di dalamnya. Siapa sangka, setiap pilihan memiliki proses, pengalaman dan dampak yang berbeda kepada diri kita. Oleh karena itu, cermatlah dalam membuat pilihan.

Pilihan berangkat dari keinginan, begitu juga sebaliknya, keinginan menjadi dasar lahirnya banyak pilihan. Manusia memiliki keinginan yang tidak terbatas, yang terbatas adalah kemampuan mereka untuk mewujudkan keinginan tersebut. Setiap manusia hakikatnya memang memiliki keinginan dalam dirinya. Tapi pernahkah kita berfikir, sebenarnya apa sih keinginan kita?

Misalnya, sering kali kita merasa gagal, padahal usaha yang kita lakukan sudah mencapai batas maksimal. Sering kali kita merasa bahagia, tapi disertai kecemasan yang luar biasa. Terbesit pertanyaan yang sama, sebenarnya apa sih maunya diri ini? Apakah kita belum hidup dengan baik? Begitu banyak pertanyaan memenuhi kepala, mengundang kecemasan yang tak kunjung ada jawabnya.

Mengganggu bukan? sangat. Jika kita sendiri tak tahu apa keinginan diri kita, bagaimana kita bisa menikmati hidup? Akankah kita biarkan hidup berjalan selayaknya takdir Tuhan? Akankah kita menjadi manusia lemah yang hanya pasrah dan menyerah?

Jeon Seunghwan, seorang penulis buku berkebangsaan Korea Selatan menjawab keresahan tersebut dalam bukunya yang berjudul "Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan". Buku tersebut merupakan buku self improvement terbarunya yang berisi kalimat-kalimat manis yang menguatkan kita untuk lebih berani menjalani kehidupan. Secara garis besar buku ini dibagi menjadi 4 bagian, yaitu perihal mengenal perasaan kita, mengenal waktu kita, mengenal hubungan-hubungan kita dan melihat dunia kita.

Identitas Buku

Judul buku : Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan

Penulis : Jeon Seunghwan

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Desember 2021

ISBN : 978-602-06-5629-8

Tebal buku : 268

Harga Buku : Rp 86.000

Mengenal Perasaan, Waktu, Hubungan dan Melihat dunia

Pada bagian pertama, hal yang dibahas adalah perasaan-perasaan yang harus kita kenali. Perasaan itu berupa perasaan sedih, cemas, terluka, kesepian dan dendam. Kita perlu mengenali perasaan tersebut untuk memahami dengan baik proses menghadapi perasaan negatif.

"Tiada seorang pun yang tak pernah rapuh, atau tidak memiliki tekanan, perselisihan, maupun kecemasan dalam hatinya yang terdalam." (hlm. 13)

Jeon Seunghwan mengutip kalimat filosofi mengenai kehidupan dari Soren Kierkegaard seorang filsuf abad ke-19 asal Denmark, bahwasanya kita harus merasakan rasa sakit terlebih dahulu agar kita tahu bagaimana cara mengobati diri sendiri. Begitu pula dengan kecemasan. Kita perlu merasakan kecemasan agar hati kita mengerti bagaimana arah dan tujuan kita. Sehingga, ketika kita merasa cemas akan suatu hal, jangan jadikan hal itu sebagai beban. Jadikanlah sebagai dasar meraih tujuan.

"Yang harus dilakukan ketika sedang cemas adalah melihat hati kita terlebih dahulu, baru melihat kembali hubungannya. Dengan menghargai berbagai bentuk diri kita hingga sisinya yang kurang baik—dengan kata lain membuat diri kita menjadi dasar yang kokoh, kita bisa tetap menjaga kebahagiaan dengan tidak membiarkan diri hanyut dalam kecemasan terhadap apapun." (hlm. 14)

Pada bagian kedua, Jeon Seunghwan menyatakan tak semua hal perlu dikerjakan secara terburu-buru. Ada kalanya kita perlu berjalan perlahan demi memahami sekitar. Jeon Seunghwan menekankan bahwa waktu adalah uang. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan, karena waktu yang telah kita lalui tak mungkin diulang kembali.

"Sering kali kita terpaksa terus berjalan ke depan tanpa punya waktu untuk melihat ke kanan kiri. Malah, ada kala kita harus berlari cepat. Namun ketika berlari cepat, kita kehilangan momentum untuk bisa mengingat pemandangan di sekitar kita. Memang penting untuk mengejar impian dengan cepat, tapi kita juga perlu meluangkan waktu untuk berjalan. Karena, hidup bukanlah perlombaan yang mengharuskan seseorang melaju duluan untuk sampai di garis finis." (hlm. 81)

Bagian ketiga, menceritakan mengenai berbagai macam relasi dalam kehidupan. Teman, orang tua, kekasih merupakan tokoh yang tak terpisahkan dalam kehidupan. Setiap proses hidup, mereka adalah orang-orang yang nantinya akan memberikan dampak tersendiri untuk diri kita.

"Kita harus memiliki seseorang untuk berbagi rasa kesepian kita dengannya." (hlm. 167)

"Dalam hidup, memiliki orang yang kita cintai adalah pengalaman yang sangat berharga dan spesial." (hlm. 188)

Hidup memiliki makna yang luas. Pada bagian terakhir ini, Jeon Seunghwan memaknai hidup dengan berbagai impresi yang berbeda. Hidup adalah menjadi diri sendiri, hidup adalah menghadapi perpisahan, hidup adalah keberanian untuk memimpin, hidup adalah satu orang yang berarti dan hidup adalah cinta dan kebahagiaan.

"Kita memiliki hak hidup menjadi diri sendiri secara bebas dan kuat." (hlm. 217)

"Dalam menjalani hidup, kita tak bisa terhindar dari peristiwa mencintai dan berpisah, dan kenyataan bahwa kita harus menghadapi perpisahan dan kesedihan karena kita tak bisa lagi melihat orang yang kita cintai." (hlm. 221)

"Untuk membuat hidup kita menjadi berarti, kita harus bahagia, dan kebahagiaan terbesar datang dari cinta." (hlm. 234)

Ulasan

Inspiratif dan memotivasi, ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan isi buku. Sangat pas menemani kita ketika tengah berada di kehampaan dunia. Buku ditulis berdasarkan pengalaman pribadi pengarang dan mengambil kutipan filsuf dari buku yang ia baca, menambah nilai plus, selain hati kita tergerak untuk mengeksplorasi, pengetahuan literasi kita pun ikut bertambah. Setiap untaian kalimat yang dituliskan oleh Jeon Seunghwan rasa-rasanya sangat hangat dan relate dengan masalah kehidupan terkhusus anak muda. Sayangnya, karena berupa buku terjemahan Korea-Indonesia, ada beberapa kalimat yang sulit dimengerti. Namun, hal tersebut tidak mengurangi esensi buku ini layak untuk dinikmati.

Penasaran dengan kalimat-kalimat hangat dalam buku tersebut? Segeralah membaca, karena perubahan dimulai dari dirimu sendiri. Gail Sheehy mengatakan, "Jika tidak berubah, kita tidak akan pernah bertumbuh. Jika tidak bertumbuh, kita tidak benar-benar hidup. Pengembangan diri menuntut kita meninggalkan zona nyaman untuk sementara waktu."

Selamat membaca dan selamat bertumbuh!

Aisyah Fitri

Mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta