Chhaupadi: Ketika Menstruasi Menghentikan Pendidikan Anak Perempuan di Nepal

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aisyah Zakiyah Nur Aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Praktik tradisi Chhaupadi di Nepal merupakan aksi ekstrim yang mengharuskan perempuan untuk mengasingkan diri atau membatasi diri dari dunia luar selama masa menstruasi atau pasca persalinan. Kata Chhaupadi sendiri dalam dialek Raute merupakan gabungan dari dua kata, yaitu 'Chhau' yang berarti 'tidak tersentuh, najis atau tidak murni' dan 'Padi' yang berarti 'menjadi'. Apabila digabungkan, kata Chhaupadi berarti 'menjadi tidak murni' yang mengacu pada perempuan yang sedang menstruasi atau pasca melahirkan.
Beberapa kasus praktik Chhaupadi seperti di Distrik Achham, Nepal bagian barat memiliki dampak yang serius. Seorang gadis remaja bernama Roshani Truwa ditemukan meninggal dunia saat menjalani pengasingan Chhaupadi di gubuk atau biasa disebut Chhau-hut. Ia dipaksa untuk tidur di gubuk kayu sempit tanpa ventilasi saat musim dingin. Otoritas setempat mencatat, ia tewas karena keracunan asap saat membakar api kecil untuk menghangatkan diri.
Kasus Roshani bukan satu-satunya. Menurut laporan dari Human Rights Watch (2017), Chhaupadi telah menyebabkan banyak kematian setiap tahunnya, baik karena serangan binatang seperti gigitan ular, hipotermia, atau komplikasi kesehatan lain. Tetapi yang tidak banyak dibicarakan adalah efek jangka panjang tradisi ini terhadap akses perempuan terhadap pendidikan.
Chhaupadi dan Dampaknya Pada Pendidikan
Chhaupadi adalah praktik mengucilkan perempuan saat menstruasi. Mereka dianggap najis dan tidak boleh menyentuh makanan, air, hewan ternak, bahkan anggota keluarga. Di beberapa wilayah seperti Karnali dan Sudut Paschim, praktik ini masih dilakukan oleh 77% perempuan usia produktif, berdasarkan data dari Nepal Demographic and Health Survey (NDHS) 2016.
Chhaupadi pada hal ini memiliki dampaknya terhadap pendidikan yang sangat serius. Studi dari WaterAid Nepal (2020) menunjukkan bahwa 41% siswi di daerah pedesaan Nepal absen dari sekolah saat menstruasi, karena tidak tersedia fasilitas sanitasi memadai atau karena tekanan budaya untuk menjalani Chhaupadi.
Penelitian dari UNESCO (2014) juga menyebutkan bahwa anak perempuan bisa kehilangan hingga 20% waktu belajar tahunan akibat menstruasi, karena stigma dan praktik diskriminatif.
Dalam jangka panjang, ini menyebabkan banyak anak perempuan tertinggal pelajaran, drop-out, dan sulit melanjutkan pendidikan menengah.
SDG 4 dan Kenyataan di Lapangan
Nepal adalah salah satu negara yang berkomitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Namun realita Chhaupadi menunjukkan bahwa sejumlah target SDG 4 masih jauh dari tercapai. Hal ini dapat terlihat di beberapa target seperti:
Target 4.1: Menjamin semua anak laki-laki dan perempuan menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah secara gratis, setara, dan berkualitas. Chhaupadi pada hal ini membuat anak perempuan sering absen, ketinggalan pelajaran, dan akhirnya putus sekolah.
Target 4.5: Menghapus disparitas gender dalam pendidikan. Namun, pada tradisi Chhaupadi aktivitas dan peran perempuan pada kehidupan sosial sangat dibatasi termasuk pada hal pendidikan. Hal ini dikarenakan anggapan bahwa perempuan 'tidak suci' pada masa menstruasi, sehingga harus melakukan pengasingan dan apapun yang disentuh akan turut menjadi tidak suci. Sementara itu, laki-laki tetap bebas mengakses pendidikan penuh.
Target 4.a: Meningkatkan fasilitas pendidikan yang sensitif gender, termasuk air bersih, sanitasi, dan kebersihan menstruasi. Sebuah laporan dari UNICEF (2023) menyebutkan hanya 53% sekolah dasar di Nepal yang memiliki toilet terpisah untuk siswi. Ini membuat siswi enggan datang saat haid.
Dengan kondisi seperti ini, mustahil Nepal mencapai target SDG 4 sepenuhnya tanpa menyelesaikan problem budaya yang mendiskriminasi.
Upaya Pemerintah dan Kelemahan Implementasi
Secara hukum, pemerintah Nepal telah mengambil langkah. Pada 2017, pasal 168 Undang-Undang Pidana Nepal menyatakan bahwa praktik Chhaupadi merupakan tindakan kriminal dan dapat dihukum. Siapapun yang mempraktikkan Chhaupadi dengan hukuman penjara tiga bulan dan/atau denda 3.000 Rupee Nepal atau setara dengan 26 USD yang dijelaskan pada Pasal 168 ayat (4).
Berdasarkan laporan The Kathmandu Post (2020), implementasi hukum ini masih lemah. Hukuman yang dijatuhkan juga dinilai masih tergolong hukuman yang ringan sehingga susah untuk merendam praktik Chhaupadi terutama di pedesaan.
Hingga 2020, belum ada satu pun vonis pidana yang dijatuhkan atas pelaku Chhaupadi. Banyak keluarga tetap melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Bahkan beberapa perempuan sendiri menolak keluar dari tradisi karena tekanan sosial atau keyakinan agama.
Harapan dari Inisiatif Lokal dan Organisasi
Meski hukum masih lemah, secercah harapan muncul dari inisiatif lokal dan LSM. Menstrual Hygiene Management (MHM) program yang didukung oleh UNICEF dan Plan International telah menyediakan sanitasi layak, pelatihan guru, serta edukasi menstruasi di lebih dari 500 sekolah. Beberapa desa seperti Turmakhand (Achham) telah mendeklarasikan diri sebagai "Chhaupadi-free village", meskipun pengawasan masih menjadi tantangan.
Beberapa aktivis lokal perempuan juga mulai mengampanyekan pendidikan menstruasi di komunitas, membongkar stigma dari dalam. Chhaupadi memperlihatkan betapa pendidikan bisa menjadi hak yang tertunda hanya karena tubuh perempuan dianggap najis. Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi soal keadilan.
Jika Nepal (dan dunia) benar-benar serius dengan komitmen pada SDGs, terutama pendidikan yang setara dan inklusif, maka pendekatannya tidak cukup hanya dengan hukum. Butuh perubahan budaya, dukungan komunitas, fasilitas yang mendukung, dan—yang paling penting—kemauan politik yang kuat.
Menstruasi Bukanlah Hal yang Tabu
Menstruasi adalah tanda biologis kehidupan, bukan kutukan. Perempuan tidak seharusnya diasingkan karena proses alami ini. Dan anak perempuan tidak seharusnya kehilangan hak pendidikannya hanya karena sedang haid. Nepal masih punya waktu untuk berubah. Tapi perubahan tidak datang hanya dari atas. Ia datang dari suara yang bersatu—dari perempuan, guru, kepala desa, dan pemerintah—yang berkata cukup pada tradisi yang menyakitkan.
