Diskon, FOMO, dan Uang Saku: Tantangan Mahasiswa di Era Belanja Digital

Saya sebagai mahasiswa aktif di Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari AJAY SURATNO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital saat ini, belanja bukan lagi sekadar kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan hadirnya media sosial dan berbagai platform belanja online, seseorang dapat membeli barang kapan saja dan di mana saja hanya melalui telepon genggam. Kemudahan ini tentu memberikan manfaat, tetapi juga dapat menimbulkan kebiasaan konsumtif jika tidak diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri.
Sebagai mahasiswa, kita sering menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tugas kuliah, ujian, organisasi, hingga persoalan keuangan. Dalam kondisi tertentu, sebagian orang memilih berbelanja sebagai cara untuk menghibur diri atau mengurangi stres. Misalnya, setelah menyelesaikan tugas yang menumpuk, seseorang membeli pakaian, makanan, atau barang yang sedang tren sebagai bentuk penghargaan kepada dirinya sendiri.
Sekilas, kebiasaan tersebut terlihat wajar. Namun, jika belanja dilakukan secara berulang hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat, kita perlu mulai bertanya: apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut, atau justru sedang berusaha memenuhi kebutuhan emosional?
Mengenal Doom Spending dalam Kehidupan Mahasiswa
Salah satu fenomena yang menarik untuk dibahas adalah doom spending, yaitu kecenderungan berbelanja secara berlebihan sebagai respons terhadap stres, kecemasan, atau perasaan tidak pasti mengenai masa depan.
Dalam kehidupan mahasiswa, fenomena ini dapat muncul ketika seseorang merasa tertekan oleh tugas, membandingkan pencapaiannya dengan teman sebaya, atau merasa tertinggal dalam pergaulan. Belanja kemudian menjadi pelarian untuk memperoleh rasa senang, meskipun hanya sementara.
Contohnya, seorang mahasiswa awalnya hanya berniat melihat-lihat produk di aplikasi belanja online. Namun, setelah melihat diskon besar, promosi gratis ongkos kirim, dan ulasan pembeli, ia akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Setelah barang datang, rasa senang mungkin muncul. Akan tetapi, ketika melihat saldo rekening berkurang, muncul penyesalan karena uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan kuliah justru habis untuk belanja.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan membeli barang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan rasional. Terkadang, emosi ikut memengaruhi keputusan seseorang.
Mengapa Media Sosial Bisa Memengaruhi Kebiasaan Belanja?
Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk pola konsumsi generasi muda. Setiap hari, mahasiswa dapat melihat konten tentang gaya hidup, pakaian terbaru, tempat nongkrong, gawai, hingga barang-barang yang sedang populer.
Konten tersebut dapat menimbulkan keinginan untuk mengikuti tren agar tidak merasa berbeda dari lingkungan pertemanan. Keadaan ini berkaitan dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman atau tren yang sedang dinikmati orang lain.
Sebagai contoh, ketika banyak teman mengunggah barang baru atau pengalaman berbelanja, seseorang mungkin merasa harus memiliki hal yang sama agar tetap dianggap mengikuti perkembangan zaman.
Padahal, setiap mahasiswa memiliki kondisi ekonomi, kebutuhan, dan prioritas yang berbeda. Apa yang mampu dibeli oleh orang lain belum tentu sesuai dengan kemampuan keuangan kita.
Selain itu, promosi yang muncul secara berulang dan sistem rekomendasi pada platform digital dapat membuat seseorang terus melihat produk yang menarik perhatiannya. Jika tidak berhati-hati, kegiatan yang awalnya hanya untuk mencari hiburan bisa berubah menjadi kebiasaan berbelanja tanpa perencanaan.
Dampak Doom Spending bagi Mahasiswa
Kebiasaan belanja yang dipengaruhi emosi dapat menimbulkan beberapa dampak, terutama bagi mahasiswa yang masih bergantung pada uang saku orang tua atau memiliki penghasilan terbatas.
Pertama, kondisi keuangan menjadi tidak teratur. Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli buku, membayar transportasi, mengerjakan tugas, atau memenuhi kebutuhan makan justru digunakan untuk membeli barang yang tidak mendesak.
Kedua, muncul rasa bersalah dan kecemasan setelah berbelanja. Kesenangan yang diperoleh dari barang baru tidak selalu bertahan lama, sedangkan masalah keuangan dapat terus dirasakan setelah transaksi selesai.
Ketiga, mahasiswa dapat menjadi lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Keinginan untuk memiliki barang yang sama dengan teman atau mengikuti tren dapat membuat seseorang mengukur kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki, bukan berdasarkan kebutuhan dan pencapaiannya sendiri.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat mengganggu kemampuan mahasiswa dalam mengatur prioritas dan merencanakan masa depan.
Cara Menghindari Jebakan Belanja Emosional
Menghindari kebiasaan konsumtif bukan berarti mahasiswa tidak boleh menikmati hasil kerja atau uang sakunya. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan belanja yang sadar, terencana, dan sesuai kemampuan.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.
1. Bedakan kebutuhan dan keinginan.
Sebelum membeli barang, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena sedang tren. Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengambil keputusan dengan lebih rasional.
2. Terapkan jeda sebelum membeli.
Ketika ingin membeli barang yang tidak mendesak, berikan waktu kepada diri sendiri sebelum melakukan transaksi. Misalnya, tunggu 24 jam dan pertimbangkan kembali apakah barang tersebut masih diperlukan.
3. Buat anggaran bulanan.
Mahasiswa dapat membagi uang yang dimiliki untuk kebutuhan utama, transportasi, pendidikan, tabungan, dan hiburan. Dengan anggaran yang jelas, kita dapat menikmati kegiatan yang disukai tanpa mengorbankan kebutuhan penting.
4. Kurangi paparan promosi yang memicu belanja impulsif.
Jika konten diskon atau rekomendasi produk sering membuat kita ingin membeli barang, cobalah membatasi waktu melihat aplikasi belanja, mematikan notifikasi promosi, atau berhenti mengikuti akun yang memicu pengeluaran tidak terencana.
5. Cari cara lain untuk mengelola stres.
Belanja bukan satu-satunya cara untuk memperoleh kesenangan. Berolahraga ringan, membaca buku, berbincang dengan teman, beristirahat, atau melakukan kegiatan yang disukai dapat menjadi alternatif untuk memperbaiki suasana hati tanpa harus mengeluarkan uang.
Menjadi Mahasiswa yang Cerdas dalam Mengelola Konsumsi
Menurut saya, sebagai mahasiswa kita perlu memahami bahwa kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian penting dari proses belajar menjadi pribadi yang mandiri. Pendidikan di perguruan tinggi bukan hanya tentang memperoleh nilai akademik, tetapi juga tentang membangun kebiasaan dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi digital seharusnya membantu kita memenuhi kebutuhan, bukan membuat kita terus-menerus merasa kurang. Kita boleh mengikuti perkembangan zaman, menikmati hiburan, dan membeli barang yang disukai, tetapi keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan dan prioritas.
Kebahagiaan tidak harus selalu diperoleh melalui transaksi. Terkadang, rasa tenang justru muncul ketika kita mampu mengendalikan keinginan, memiliki tabungan untuk kebutuhan mendatang, dan tidak merasa terbebani oleh pengeluaran yang sebenarnya bisa dihindari.
Penutup
Fenomena doom spending menjadi pengingat bahwa keputusan belanja tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan barang, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi emosional, tekanan sosial, dan lingkungan digital.
Bagi mahasiswa, memahami pola ini merupakan langkah awal untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat. Dengan membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran, serta menemukan cara lain untuk mengelola stres, kita dapat menikmati kemudahan teknologi tanpa terjebak dalam perilaku konsumtif.
Pada akhirnya, mahasiswa yang cerdas bukan hanya mahasiswa yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mahasiswa yang mampu mengendalikan diri, mengelola keuangan, dan menentukan prioritas untuk masa depannya.
Sebab, kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak barang yang kita beli, melainkan juga oleh seberapa bijak kita mengelola apa yang kita miliki.
