Konten dari Pengguna

Transformasi Penilaian Pembelajaran Ekonomi di Era Merdeka Belajar

Ajeng Alinda Amami

Ajeng Alinda Amami

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ajeng Alinda Amami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Kebijakan Merdeka Belajar yang dirancangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah membawa perubahan besar dalam paradigma pendidikan nasional. Salah satu aspek penting yang turut mengalami pergeseran adalah sistem penilaian pembelajaran, termasuk dalam mata pelajaran Ekonomi di jenjang SMA maupun SMK.

Selama ini, penilaian pembelajaran Ekonomi sering kali berfokus pada kemampuan kognitif siswa dengan mengukur seberapa jauh peserta didik mampu mengingat, memahami, dan menjelaskan konsep-konsep ekonomi. Pola ini menjadikan pembelajaran cenderung bersifat teoritis dan kurang mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Padahal, hakikat pendidikan Ekonomi di era sekarang adalah membentuk peserta didik yang mampu berpikir kritis, analitis, dan adaptif terhadap perubahan dinamika ekonomi masyarakat.

Era Merdeka Belajar mendorong terjadinya transformasi penilaian menuju bentuk yang lebih autentik dan berorientasi pada proses. Penilaian tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat seleksi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran itu sendiri (assessment as learning dan assessment for learning). Guru Ekonomi dituntut untuk mampu mengembangkan instrumen evaluasi yang menilai keterampilan nyata peserta didik, seperti proyek kewirausahaan, simulasi pasar, analisis kasus ekonomi digital, atau penelitian sederhana tentang fenomena ekonomi lokal.

Ilustrasi anak sekolah SD Negeri Foto: Shutter Stock

Pendekatan ini membantu siswa untuk tidak sekadar memahami teori, tetapi juga menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Melalui penilaian autentik, peserta didik diajak untuk menalar hubungan antara konsep ekonomi dan realitas sosial, sekaligus menumbuhkan kemampuan berinovasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Namun, transformasi ini tentu tidak lepas dari tantangan. Masih banyak pendidik yang perlu beradaptasi dengan paradigma penilaian baru ini, baik dari segi pemahaman konsep maupun kemampuan teknis dalam merancang instrumen yang sesuai. Dukungan pelatihan, pendampingan, dan kebijakan yang konsisten sangat dibutuhkan agar perubahan ini tidak berhenti pada tataran wacana.

Pada akhirnya, transformasi penilaian pembelajaran Ekonomi di era Merdeka Belajar merupakan langkah strategis untuk membangun budaya belajar yang lebih bermakna. Penilaian bukan lagi semata-mata alat pengukur hasil, tetapi menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran, refleksi, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Melalui perubahan ini, pendidikan Ekonomi diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya memahami teori ekonomi, tetapi juga siap menjadi pelaku ekonomi yang cerdas, kreatif, dan berintegritas.