Konten dari Pengguna

Belajar dari Mahasiswa untuk Mahasiswa: Solusi atau Ilusi?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ajeng Ayundha Aprilina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, cara belajar di perguruan tinggi telah berubah secara signifikan. Salah satu teknik yang semakin populer adalah mahasiswa yang melakukan presentasi sebagai metode utama dalam pembelajaran di kelas, sementara dosen hanya berfungsi sebagai pendukung yang tidak aktif dan dalam beberapa situasi, hampir tidak memberikan penjelasan sama sekali. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah pendekatan belajar antar mahasiswa ini adalah inovasi yang efektif ataukah sebenarnya hanya ilusi dari efektivitas pembelajaran?

Paradigma Pembelajaran Aktif

Dalam ranah pendidikan tinggi, metode pembelajaran aktif telah lama direkomendasikan. Mahasiswa dianjurkan untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga untuk berpikir kritis, terlibat dalam diskusi, dan mengekspresikan pemikiran mereka sendiri. Presentasi yang dilakukan oleh mahasiswa adalah bagian dari pendekatan ini, dengan keyakinan bahwa melalui proses penyusunan dan penyampaian materi, mahasiswa akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pelajaran.

Namun, sering kali penerapan metode ini tidak didukung dengan bimbingan dan pengawasan yang tepat dari dosen. Sebagai akibatnya, mahasiswa hanya "mengulangi" materi tanpa pengetahuan yang mendalam, sementara dosen tidak memberikan umpan balik, penjelasan, atau penguatan terhadap konsep. Di sini timbul pertanyaan: apakah mahasiswa benar-benar dapat belajar dengan efektif hanya dari teman sekelas mereka?

Kelebihan dan Potensi Model Ini

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembelajaran yang berorientasi pada presentasi memiliki banyak keuntungan yang penting. Pendekatan ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan public speaking mahasiswa, karena mereka harus menyampaikan materi dengan jelas di depan audiens. Selain itu, partisipasi mahasiswa dalam presentasi mendorong mereka untuk menjadi lebih aktif dalam proses belajar, bukan hanya sebagai penerima informasi tetapi juga sebagai penyampai pengetahuan. Dengan bekerja dalam kelompok untuk mempersiapkan presentasi, mahasiswa dilatih untuk berpikir analitis, berargumen, dan berkolaborasi dengan baik. Ini juga menciptakan kondisi kelas yang lebih hidup dan interaktif, berbeda dari metode pembelajaran satu arah yang biasanya membosankan.

Kelemahan yang Sering Terjadi di Lapangan

Namun, dalam implementasinya, pendekatan ini sering kali berakhir pada pembelajaran yang kurang mendalam dan tidak bermakna. Salah satu masalah yang sering muncul adalah bahwa materi yang disampaikan oleh mahasiswa biasanya bersifat seadanya, kerap kali hanya merupakan salinan dari sumber-sumber di internet atau buku tanpa pemahaman yang mendalam. Situasi ini semakin buruk karena rendahnya penguasaan konsep, karena mahasiswa umumnya belum memiliki landasan teori yang cukup kokoh untuk menjelaskan atau menganalisis materi secara akurat. Selain itu, kurangnya interaksi dari dosen yang seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang, penjelas, dan penilai mengakibatkan proses pembelajaran menjadi tidak terarah.

Peran Dosen yang Tak Tergantikan

Pendidikan tinggi bukan hanya soal "pemindahan informasi", tetapi juga melibatkan proses pengembangan ilmu berpikir, analisis kritis, dan pemahaman yang mendalam tentang konsep. Dalam situasi ini, dosen memiliki peranan yang sangat penting dan tidak bisa digantikan. Dosen tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga bertindak sebagai fasilitator diskusi yang positif, sebagai sumber verifikasi ilmiah untuk informasi dari mahasiswa, dan sebagai pengawas agar proses belajar tetap sesuai dengan tujuan kurikulum. Menghilangkan peran ini sama dengan membiarkan mahasiswa berkelana tanpa panduan di tengah hutan ilmu yang rumit, yang akhirnya bisa menghalangi pencapaian kemampuan akademis yang seharusnya dapat dicapai melalui pendidikan tinggi.

Solusi: Sinergi, Bukan Pengganti

Belajar dari rekan mahasiswa untuk sesama mahasiswa bukanlah satu-satunya cara, tetapi juga bukan sepenuhnya sebuah angan-angan. Pendekatan ini memiliki kemampuan untuk memperkaya pengalaman belajar, selama diterapkan dengan cara yang benar. Yang diperlukan adalah kolaborasi antara keaktifan mahasiswa dalam mengeksplorasi dan menyampaikan informasi, serta keterlibatan akademis dosen sebagai pendamping. Presentasi dari mahasiswa bisa menjadi langkah awal yang baik untuk memicu diskusi, namun agar proses pembelajaran menjadi benar-benar berharga, hal tersebut perlu diimbangi dengan penjelasan, pertanyaan yang mendalam, dan bimbingan dari dosen.

ilustrasi mahasiswa sedang belajar di perpustakaan. sumber: dokumentasi pribadi