Sederhana Cara Natsir

Dosen Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aji C Baskoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pria berkacamata itu meninggalkan rumah dengan mengangkat koper yang sama dengan yang ia bawa ketika pertama kali menempatinya setahun lalu. Kali itu, ia harus meninggalkan rumah dinasnya yang terletak di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, beserta seluruh fasilitas yang ia terima dari negara, menyusul pengunduran dirinya dari kursi perdana menteri. Negara sebenarnya menyediakan dana takstis yang jumlahnya lumayan, tetapi ia bersikukuh tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
Ia adalah Mohammad Natsir, pria kelahiran Solok, Sumatra Barat pada 17 Juli 1908. Pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan dan Perdana Menteri. Ia juga pencetus mosi integral Negara Kesatuan Republik Indonesia. Natsir terkenal dengan gaya hidupnya yang sangat sederhana. Sebuah gaya hidup yang sulit dicari padanannya di kalangan elite politik zaman sekarang.
Cerita tentang kesederhanaan Natsir terkenang dalam benak putra bungsunya, Ahmad Fauzi Natsir. Fauzi menuturkan, ayahnya memang bukan tipe pejabat yang aji mumpung. Rumah dan mobil dinas segera ia kembalikan kepada negara selepas mengundurkan diri sebagai perdana menteri. “Meski Aba mantan menteri penerangan dan perdana menteri kehidupan kami tetap sederhana. Kami hidup biasa-biasa saja” tulis Fauzi, dalam buku 100 Tahun Mohammad Natsir: Berdamai dengan Sejarah. “Kami tidak pernah aji mumpung dengan berbagai jabatan penting yang pernah dijalani oleh Aba,” lanjut Fauzi. Oleh anak-anaknya, Natsir disapa Aba, merujuk pada kata dalam bahasa Arab yang berarti ayah.
Dalam buku yang terbit tahun 2008 itu, Fauzi menceritakan momen lain tentang kesederhanaan ayahnya. Yakni ketika ia menolak pindah dari rumah di Jalan Cokroaminoto no. 46. Ketika itu, Natsir sudah sakit-sakitan. Anak-anaknya pun berunding dan membujuk Natsir untuk menjual rumah itu dan pindah ke permukiman di kawasan Kebayoran baru yang relatif lebih tenang, lebih nyaman dan tidak dilalui angkutan umum. Namun, Natsir tidak setuju.
“Tamu saya kan orang-orang yang naik bus, pakai sandal jepit,” kata Natsir sebagaimana diingat Fauzi. Menurut Fauzi, ketika itu ayahnya berpikir bahwa kalau ia pindah ke Kebayoran Baru tentu akan sulit dijangkau tamu-tamunya yang kebanyakan orang kecil itu.
Sederhana Sejak Lama
Kesederhanan Natsir sebenarnya bukanlah cerita baru. Indonesianis asal Amerika Serikat George McTurnan Kahin sudah melihat hal itu sejak pertama kali bertemu Natsir tak lama setelah Indonesia Merdeka, ketika Natsir masih menjabat sebagai Menteri Penerangan. Kesederhanaan itu membuat Kahin heran. Pasalnya, penampilan Natsir sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang menteri.
“Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah manapun,” tulis Kahin dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-Kenangan dan Perjuangan. Menurut Kahin, ketika itu Natsir juga hanya memiliki dua helai kemeja yang warnanya sudah kusam.
Guru besar Cornell University itu juga bertutur bahwa ketika menjabat Menteri Penerangan, Natsir bersama istri dan kelima anaknya tinggal menumpang di rumah sahabatnya, Prawoto Mangkusasmito – yang belakangan menjadi ketua Masyumi – di Kampung Bali, Jakarta Pusat. Mereka tinggal sendiri setelah pemerintah menyediakan rumah dinas pada 1946. Setelah menjadi Perdana Menteri pada 1950, negara memberikan rumah dinas yang lebih layak. Meskipun ada fasilitas penjagaan, pengawalan hingga tukang cuci, toh istri Natsir tetap memilih berbelanja sendiri ke pasar.
Sabam Sirait dalam buku M. Natsir dalam Panggung Sejarah Republik mengatakan bahwa gaya hidup sederhana merupakan sudah menjadi ciri khas Natsir. Gaya hidup sederhana, menurut Sabam, merupakan salah satu warisan Natsir yang mesti dihidup-hidupkan hari ini. “Kita belajar hidup sederhana dan konsisten dari Natsir,” simpul Sabam.
