The Making of Haikal Malik, MVP Final Campus League Basket The Nationals

Muhammad Haikal Malik sukses mencuri perhatian di Campus League Basketball The Nationals Season 1 2026. Center milik Institut Perbanas itu tampil on fire dan berhasil menjadi Player of the Game sebanyak lima kali dari enam gim yang dijalani.
Puncak penampilannya hadir di final The Nationals, saat student-athlete asal Bengkulu Selatan itu berhasil menjadi MVP sekaligus membawa βRhinosβ Perbanas juara nasional. Di laga itu, Haikal menjadi penentu kemenangan tim dan mencatatkan 15 poin serta 11 rebound.
Namun, sinarnya di The Nationals tidak datang dengan mudah. Lahir dari daerah yang kultur basketnya tak begitu kuat, Haikal harus mencari banyak jalan agar mimpi basketnya tetap menyala.
Sepekan pasca-kemenangan fantastis Haikal di final Campus League The Nationals, Campus Sport Indonesia berkesempatan untuk berbincang dengan pemain bertinggi 191 cm itu. Haikal bercerita tentang awal perkenalannya dengan basket hingga rasanya mengantarkan Perbanas menjadi juara nasional. Berikut petikan wawancaranya:
Ceritain dong perjalanan Haikal mengenal bola basket dari awal.
Dari awal sih diajak teman, diajak teman main basket, itu cuman buat cari keringat doang awalnya. Terus lama-kelamaan ketagihan, sering main, terus tinggi badan juga drastis, jadi ikut terus sampai sekarang.
Itu SMP kelas satu SMP, kelas satu itu tingginya belum tinggi-tinggi banget, sekadar main-main doang. Terus lama-kelamaan seru banget itu basket, kok ketagihan gitu.
Datang dari Bengkulu Selatan, bagaimana ceritanya bisa berkarier di Jakarta?
Waktu itu karena DBL, bisa ke Jakarta karena DBL. Karena DBL All Star. Pastinya senang banget dong, bisa kepilih juga karena voting. Kan di DBL pertama kali buka event voting itu di tahun 2025 dan kebetulan aku ikut juga di situ. Alhamdulillah lolos sampai ke DBL All Star.
Itu voting-nya itu dari seluruh Indonesia, banyak itu pesertanya. Itu kalau siapa yang lima terbanyak itu yang bisa ke camp. Yang bisa ikut seleksi di camp."
Setelah DBL, Haikal jadi rebutan beberapa kampus. Mengapa akhirnya memilih Institut Perbanas dan apa alasannya?
Itu awalnya juga gara-gara DBL All Star, ada Bang Ijal (Zulfahrizal), pelatihku di Perbanas sekarang. Itu awalnya dia nawarin, sempat ngomong, 'Kal, ke Perbanas yuk, ada Zaki' kata dia. 'Iya, sebentar, Bang' aku bilang gitu. Terus dia nawarin lagi, 'Kal, gimana, Kal?', 'Sebentar Bang, selesaikan DBL dulu Bang baru ngomong ini baru mikir kampus'. Terus nawarin lagi dia, 'Gimana Kal, mau enggak?', 'Oh boleh Bang,' gitu, langsung lanjut ke sekarang."
(Milih Perbanas) Yang pertama karena kampusnya jago. Yang sudah terkenal sekarang, kemarin three-peat nasional dan tambah sekarang. Kampusnya jago sama pemain-pemainnya kan kebanyakan pemain yang IBL juga pro. Jadi kenalnya gara-gara itu, maunya karena itu juga. Jadi karena basketnya ya.
Haikal tampil on fire di Campus League Basket The Nationals dengan jadi Player of the Game lima kali dari enam game. Apa kuncinya?
Kalau menurutku sih ini ya fun aja mainnya, lepas gitu. Sama mentalnya harus kuat. Dari regional kemarin kan kelihatan banget aku nervous banget, terus mainnya enggak fun, jadi anjlok banget. Kalau di nasional kemarin aku belajar kalau misalnya main kayak gitu aku mainnya enggak lepas. Jadi bawa santai aja gitu mainnya. Sama mental dikuatin aja.
Haikal juga sukses membawa Rhinos Perbanas juara The Nationals sekaligus menjadi MVP di final. Sebahagia apa rasanya?
Jujur bahagia banget. Susah juga kalau mau diungkapkan sama kata-kata. Enggak expect-lah bisa menang di nasional, kalah di regional, juara tiga lagi di regional. Pokoknya senang banget lah bisa menang di nasional.
Itu enggak nyangka sih (jadi MVP) salah satu yang enggak kepikiran di otak aku gitu. Bisa juara sama MVP bonus lah bagi aku. Itu bangga banget, pokoknya bisa MVP itu udah bonus banget bagi aku. Sebenarnya enggak kepikiran buat MVP, kepikirannya cuman mau menang, tapi mungkin ini bonus dari Allah gitu.
Itu mungkin hadiah dari Tuhan ya buat aku. Bisa jadi MVP dan lima kali lagi. Bonuslah.
Apa arti gelar juara The Nationals dan MVP Final bagi Haikal?
Buat aku artinya anak kampung yang bisa bermain dan anak kampung yang dari Bengkulu Selatan yang bisa membanggakan nama daerah dan orang tua tentunya. Yang bisa berkembang di dunia luar atau di Jakarta.
Pebasket yang baru berusia 19 tahun ini menuturkan jika semua pencapaiannya di basket tak lepas dari dukungan orang tua. Baginya, orang tua adalah rumah sekaligus penyuntik motivasi saat lingkungan tak ramah padanya.
Haikal punya mimpi untuk menggapai karier basket setinggi-tingginya demi bisa membawa keluarganya umrah ke Arab Saudi.
Siapa sosok yang paling berpengaruh dalam karier basketmu?
Pastinya orang tua. Soalnya mereka support banget, sama kakak, adik, support banget mereka. Mereka sebelum aku bertanding pasti nelpon dulu. Nanyain kabar gimana, jangan lupa salat, terus tiap tanding kamu harus doa dulu. Jangan lupa doa, makan jangan lupa, pokoknya harus semangat terus di game nanti.
Menurut Haikal, karakter apa yang paling berubah setelah dari Bengkulu dan kini berkarier di Jakarta?
Lebih ke mental sih. Dulu mental sama sekali enggak ada. Mental dulu kalau bisa dibilang dari semua tim aku paling cupu. Paling cupu banget. Apalagi di Pra-Popnas kemarin. Sama sekali enggak ada mental di situ. Paling kulit hitam gini masuk lapangan bisa jadi putih karena panik gitu. Sekarang udah mentalnya udah kalau dibilang udah lumayan okelah. Oke banget malah.
Sejauh apa mimpi Haikal bermain di basket?
Timnas. Pengin banget (main buat) timnas. Kalau bisa sampai tua ya. Pengin banget juga (main pro), iya pengin banget.
Selain orang tua, ada satu sosok pelatih yang punya andil cukup besar dalam laju karier Haikal Malik. Ia adalah Zulfahrizal, Pelatih Tim Basket Putra Institut Perbanas.
Jauh sebelum bermain untuk Perbanas, Haikal dan Zulfahrizal sudah saling mengenal saat tergabung di tim DBL All-Star 2025. Haikal juga mengaku jika Coach R, sapaan akrab Zulfahrizal, adalah pelatih yang berperang hingga ia berkembang sampai titik ini.
Sosok Coach Zulfahrizal itu seperti apa sih?
Keren, dia keren. Dia salah satu coach yang paling percaya diri sama dirinya sendiri dan anak-anaknya. Terus mau ada hujatan apa pun dia tetap bangkit, dia tetap berdiri lagi. Pokoknya dia bakal jadi orang yang keren bagi aku. Keren pokoknya.
Sebesar apa jasa Coach Zulfahrizal bagi karier basket Haikal Malik?
Besar banget. Apalagi dia percaya banget kalau setiap aku main di Campus League kemarin. Pokoknya jasanya tuh enggak tertandingilah. Gede banget, gede banget iya, besar banget.
Pernahkah Haikal merasakan titik terendah saat bermain basket? Di momen apa?
Pernah banget waktu final kemarin, final di Lima (Regional Jakarta 2025). Kan pernah kalah karena aku salah passing. Nah itu momen yang paling sangat-sangat berbekas banget di aku. Kalah itu karena diri sendiri berdampak ke teman-teman yang lain. Jadi itu sangat-sangat fatal lah. Menderita banget, menderita banget. Sampai-sampai diejek terus sama teman-teman yang lain.
Dampaknya sih ke diri sendiri juga ya. Tapi untungnya aku di situ aku belajar. Kalau misalnya aku mentalnya enggak jadi terus kalau aku enggak dihujat gini aku enggak bakal belajar gitu.
Bagaimana cara Haikal bangkit dari keterpurukan itu?
Minta sama teman-teman percaya sama aku gitu. Kalau mereka enggak percaya sama aku mungkin aku mainnya juga enggak bakal lepas. Jadi ngomong satu-satu ke mereka, kali ini percaya sama aku gitu.
Jika digambarkan dalam tiga kata, siapa itu Haikal?
Pembeda saat krusial.
