Menjaga Si Bolang Tetap Relevan di Tengah Perubahan Penonton

Mahasiswa - ilmu komunikasi - universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yusuf restu wisuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan media digital membuat kebiasaan masyarakat dalam menikmati tontonan ikut berubah. Jika sebelumnya televisi menjadi salah satu pilihan utama untuk mendapatkan hiburan dan informasi, sekarang penonton memiliki banyak alternatif seperti YouTube, TikTok, dan berbagai platform streaming. Kondisi ini menjadi tantangan bagi program televisi, terutama program yang sudah hadir cukup lama dan harus tetap mempertahankan perhatian penonton.
Salah satu program yang menarik untuk diamati adalah Si Bolang (Bocah Petualang) yang tayang di TRANS7. Program ini menghadirkan kehidupan anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia dengan menampilkan aktivitas, lingkungan, permainan, serta kebiasaan masyarakat setempat. Saat ini, Si Bolang dijadwalkan tayang setiap Senin sampai Jumat pukul 12.45–13.30 WIB.
Saya mengamati salah satu episode Si Bolang berjudul “Persahabatan Darat dan Laut”. Episode ini memperlihatkan kehidupan anak-anak dan lingkungan di sekitar mereka. Salah satu bagian yang menarik perhatian saya terdapat sekitar menit 2.40, ketika program membahas kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan laut. Dalam tayangan tersebut diperlihatkan kebiasaan masyarakat di daerah tersebut yang menggunakan kapal sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk untuk beristirahat atau tidur di atas kapal.
Bagi saya, bagian tersebut menarik karena menunjukkan bahwa lingkungan tempat tinggal dapat membentuk kebiasaan dan cara hidup masyarakat. Kehidupan di wilayah yang dekat dengan laut tentu memiliki pengalaman yang berbeda dengan kehidupan masyarakat yang sehari-hari lebih banyak beraktivitas di daratan. Hal sederhana seperti tidur di atas kapal menjadi sesuatu yang cukup unik untuk dilihat karena mungkin tidak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sebagian penonton.
Bagian tersebut juga menjadi salah satu kekuatan Si Bolang. Program ini tidak hanya menampilkan aktivitas anak-anak sebagai hiburan, tetapi juga memperlihatkan kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Dengan cara tersebut, penonton dapat mengenal kebiasaan dan kondisi kehidupan di daerah lain yang mungkin belum pernah mereka lihat secara langsung.
Namun, di balik kekuatan tersebut terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Si Bolang merupakan program yang sudah cukup lama dikenal, sedangkan kebiasaan menonton masyarakat terus berubah. Saat ini penonton memiliki banyak pilihan tontonan yang dapat diakses kapan saja melalui media digital. Konten di TikTok, YouTube, dan platform streaming juga cenderung lebih cepat dan mudah disesuaikan dengan minat masing-masing penonton.
Kondisi tersebut membuat program televisi perlu memikirkan kembali bagaimana mempertahankan perhatian audiens. Masalahnya bukan berarti Si Bolang sudah tidak menarik, tetapi bagaimana program dengan konsep yang sudah lama tetap dapat menjangkau penonton yang pola konsumsinya sudah berubah.
• Melihat Persoalan dari Sisi Timing
Permasalahan tersebut dapat dianalisis menggunakan konsep Timing dalam Programming Media Penyiaran. Timing berkaitan dengan penempatan program berdasarkan waktu dan kondisi penonton. Sebuah program perlu mempertimbangkan kapan target audiens memiliki kesempatan untuk menonton dan bagaimana kebiasaan mereka pada waktu tersebut.
Si Bolang saat ini ditayangkan pada pukul 12.45–13.30 WIB, yaitu pada waktu siang. Jam tersebut dapat menjadi peluang karena sebagian penonton memiliki waktu istirahat atau waktu luang. Namun, efektivitas sebuah jam tayang tidak hanya ditentukan oleh waktunya. Stasiun televisi juga perlu memperhatikan kebiasaan target audiens serta persaingan dengan berbagai pilihan tontonan lain.
Di sinilah tantangan Si Bolang muncul. Program harus tetap menarik bagi penonton televisi, tetapi pada saat yang sama perlu hadir di lingkungan digital yang menjadi bagian dari kebiasaan menonton generasi sekarang.
• Solusi untuk Mempertahankan Daya Tarik
Menurut saya, solusi untuk menghadapi masalah tersebut bukan dengan mengubah seluruh konsep Si Bolang. Identitas program sebagai tayangan yang memperkenalkan kehidupan anak-anak dan keberagaman daerah justru merupakan hal yang perlu dipertahankan.
Yang dapat dilakukan adalahmemperkuat cara program tersebut menjangkau penonton. Misalnya, TRANS7 dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan episode yang akan tayang melalui potongan video singkat. Bagian menarik dari sebuah episode dapat dibuat menjadi konten pendek sehingga penonton yang lebih terbiasa menggunakan media digital mengetahui keberadaan program tersebut.
Episode seperti “Persahabatan Darat dan Laut” sebenarnya memiliki banyak materi yang dapat digunakan untuk promosi. Misalnya, potongan pada menit sekitar 2.40 yang memperlihatkan kehidupan masyarakat yang dekat dengan laut dapat dijadikan cuplikan pendek. Konten tersebut dapat memancing rasa penasaran penonton tanpa harus memberikan keseluruhan isi episode.
Selain itu, tema setiap episode dapat lebih ditonjolkan dalam promosi. Jadi, promosi tidak hanya memberitahukan bahwa Si Bolang akan tayang, tetapi juga memberikan alasan kepada calon penonton untuk mengikuti ceritanya.
Strategi lainnya adalah menghubungkan pengalaman menonton televisi dengan media digital. Penonton yang menemukan potongan Si Bolang di media sosial dapat diarahkan untuk menonton episode lengkap melalui platform resmi yang tersedia. Dengan cara tersebut, media digital dapat digunakan sebagai pendukung untuk memperluas jangkauan program.
• Mempertahankan Program Lama di Era Baru
Keberadaan Si Bolang menunjukkan bahwa program televisi tidak selalu harus baru untuk dapat memiliki nilai bagi penonton. Program yang sudah lama hadir tetap dapat dipertahankan apabila memiliki ciri khas dan mampu mengikuti perubahan kebiasaan audiens. Namun, mempertahankan program juga berarti memahami perubahan lingkungan media. Penonton sekarang tidak hanya melihat isi sebuah program, tetapi juga bagaimana mereka dapat menemukan dan mengakses program tersebut
Karena itu, persoalan Si Bolang bukan semata-mata apakah program tersebut masih menarik atau tidak. Tantangannya adalah bagaimana program yang memiliki konsep kuat dapat tetap relevan ketika cara masyarakat menonton sudah berubah.
Menurut saya, Si Bolang masih memiliki potensi untuk menarik penonton karena mengangkat cerita tentang kehidupan nyata, keberagaman daerah, dan pengalaman anak-anak Indonesia. Episode “Persahabatan Darat dan Laut” menjadi salah satu contoh bahwa program ini memiliki materi yang dapat memberikan hiburan sekaligus pengetahuan.
Pada akhirnya, televisi perlu melihat perkembangan media digital bukan hanya sebagai persaingan, tetapi juga sebagai peluang untuk memperkuat program yang sudah dimiliki. Dengan memperhatikan timing, memperkuat promosi digital, dan tetap mempertahankan karakter utama program, Si Bolang dapat terus memiliki ruang di tengah perubahan kebiasaan menonton masyarakat.
Bagi saya, menonton Si Bolang saat ini bukan hanya tentang melihat petualangan anak-anak, tetapi juga melihat bagaimana televisi masih dapat menghadirkan cerita tentang kehidupan dan keberagaman Indonesia di tengah banyaknya pilihan tontonan digital.
Tonton episode “Si Bolang – Persahabatan Darat dan Laut” di YouTube:
Si Bolang – Persahabatan Darat dan Laut | TRANS7�
