Konten dari Pengguna

Latihan dan Pengembangan SDM sebagai Upaya Meningkatkan Kompetensi Karyawan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aji Paturizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, kita merasa sudah bekerja setiap hari, tetapi masih kesulitan menyelesaikan pekerjaan tertentu? Misalnya, pekerjaan yang seharusnya selesai dalam satu jam justru membutuhkan waktu lebih lama karena kita belum menguasai keterampilan yang dibutuhkan. Situasi seperti ini cukup sering terjadi di dunia kerja, terutama ketika teknologi dan sistem kerja terus mengalami perubahan.

https://www.pexels.com/id-id/foto/wawancara-kerja-profesional-di-lingkungan-kantor-modern-36733328/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/id-id/foto/wawancara-kerja-profesional-di-lingkungan-kantor-modern-36733328/

Menurut saya, pengalaman saja tidak selalu cukup untuk membuat seseorang semakin kompeten. Karyawan juga membutuhkan kesempatan untuk belajar, memperbarui pengetahuan, dan mengembangkan keterampilan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan perusahaan adalah melalui latihan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Pelatihan biasanya berfokus pada peningkatan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan saat ini. Contohnya, karyawan bagian administrasi mengikuti pelatihan Microsoft Excel agar dapat mengolah data dengan lebih cepat dan akurat. Sementara itu, pengembangan SDM memiliki cakupan lebih luas karena juga mempersiapkan karyawan menghadapi tanggung jawab dan tantangan pekerjaan di masa mendatang.

Manfaat Pelatihan Didukung oleh Hasil Penelitian

Pentingnya pelatihan bukan hanya berdasarkan pendapat pribadi. Penelitian yang dilakukan Arthur, Bennett, Edens, dan Bell pada tahun 2003, berjudul Effectiveness of Training in Organizations: A Meta-Analysis of Design and Evaluation Features, menganalisis 115 penelitian mengenai efektivitas pelatihan dalam organisasi. Hasilnya menunjukkan bahwa pelatihan secara umum memberikan dampak positif terhadap hasil belajar dan kinerja yang berkaitan dengan pekerjaan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan dapat menjadi salah satu cara untuk membantu karyawan meningkatkan kemampuan mereka. Meski demikian, hasilnya dapat berbeda-beda, tergantung pada metode pelatihan, materi yang diberikan, serta bagaimana keterampilan tersebut diterapkan setelah pelatihan selesai.

Sebagai contoh, seorang karyawan bagian keuangan yang sebelumnya mengolah laporan secara manual mungkin membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah mendapatkan pelatihan Excel dan memahami penggunaan rumus serta fitur pengolahan data, ia berpotensi menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk pekerjaan berulang dapat dialihkan untuk memeriksa ketepatan data dan menganalisis laporan.

Hal serupa juga berlaku bagi karyawan bagian gudang. Pelatihan mengenai pengendalian persediaan, pencatatan barang, dan penggunaan sistem inventaris dapat membantu mengurangi kesalahan pencatatan apabila materi tersebut diterapkan secara konsisten. Artinya, manfaat pelatihan tidak hanya dirasakan oleh karyawan, tetapi juga dapat mendukung kelancaran operasional perusahaan.

Pelatihan Harus Sesuai dengan Kebutuhan Pekerjaan

Sayangnya, pelatihan terkadang hanya dipandang sebagai kegiatan formalitas. Karyawan dikumpulkan, materi disampaikan, lalu kegiatan dianggap selesai tanpa adanya evaluasi. Padahal, keberhasilan pelatihan seharusnya tidak hanya dilihat dari jumlah peserta atau sertifikat yang diperoleh, tetapi juga dari perubahan kemampuan dan perilaku kerja setelahnya.

Perusahaan perlu mengetahui terlebih dahulu keterampilan apa yang masih perlu ditingkatkan. Jika masalahnya terletak pada kesalahan penginputan data, pelatihan sebaiknya berfokus pada ketelitian dan penggunaan sistem. Namun, jika tantangannya adalah kurangnya kemampuan memimpin tim, materi yang diberikan perlu berkaitan dengan komunikasi, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan.

Setelah pelatihan selesai, perusahaan juga perlu memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh. Atasan dapat melakukan evaluasi, memberikan masukan, dan membandingkan hasil pekerjaan sebelum dan sesudah pelatihan. Dengan cara ini, perusahaan dapat mengetahui apakah pelatihan benar-benar memberikan manfaat.

Selain perusahaan, karyawan juga memiliki tanggung jawab untuk terus mengembangkan diri. Kita tidak harus selalu menunggu pelatihan resmi untuk mulai belajar. Membaca informasi terbaru, mengikuti kursus daring, bertukar pengetahuan dengan rekan kerja, atau mempelajari fitur baru dalam aplikasi pekerjaan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Investasi pada SDM untuk Menghadapi Perubahan

Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan dunia kerja, kompetensi karyawan menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan perusahaan. Karyawan yang mampu beradaptasi akan lebih siap menghadapi perubahan sistem, tuntutan pekerjaan, dan kebutuhan pelanggan.

Namun, perusahaan juga perlu memahami bahwa setiap karyawan memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Oleh karena itu, program pengembangan SDM sebaiknya dirancang secara berkelanjutan, bukan hanya dilakukan ketika muncul masalah atau menjelang penilaian kinerja.

Menurut saya, hubungan antara perusahaan dan karyawan sangat menentukan keberhasilan proses ini. Perusahaan perlu menyediakan fasilitas dan kesempatan belajar, sedangkan karyawan harus memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, pelatihan tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi juga sarana untuk menciptakan perubahan positif dalam pekerjaan.

Pada akhirnya, keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh modal, teknologi, atau strategi bisnis, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang menjalankannya. Latihan dan pengembangan SDM merupakan salah satu investasi yang dapat membantu membangun karyawan yang lebih kompeten, produktif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.