Konten dari Pengguna

Bersama JNE, Ublin, Camilan Khas NTT Bisa Memiliki Penikmat dari Berbagai Daerah

Ajis Makruf

Ajis Makruf

Sarjana Perikanan Universitas Nusa Cendana.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ajis Makruf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ublin Bungtilu Snack. Foto: Dok Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ublin Bungtilu Snack. Foto: Dok Pribadi

Semenjak pandemi, dunia semakin banyak berubah. Satu contoh perubahan misalnya, orang-orang yang dulunya tidak biasa ngemil jadi terbiasa ngemil karena tidak tahu harus melakukan apa lagi di dalam rumah. Survei yang dilakukan The State of Snacking pada tahun 2020, mendapatkan bahwa pandemi telah mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia akan konsumsi dan pembelian camilan, di antaranya pandemi meningkatkan kebutuhan camilan harian masyarakat.

Untungnya di Indonesia sendiri camilan buat ngemil sangat berlimpah dan beragam. Keripik pisang, basreng, cireng, peyek, cilok, bisa jadi pilihan camilan nikmat untuk kamu yang tiba-tiba berubah suka ngemil karena pandemi.

Camilan-camilan khas Indonesia. Foto: Dok. Pribadi

Camilan yang lagi viral kebanyakannya datang dari daerah Indonesia bagian barat. Seperti yang sudah disebutkan, basreng, cireng, cilok, semuanya berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Melalui databoks, camilan terfavorit yang dipesan online orang Indonesia adalah martabak. Lagi-lagi camilan terfavorit tersebut datang dari camilan khas daerah Indonesia bagian barat, yaitu Bangka Belitung. Lalu tahukah kamu bagaimana orang dari daerah Indonesia timur mengemil? Apa yang mereka ngemil?

Daerah Indonesia bagian timur tentu saja juga punya camilan-camilan khas, misalnya sanole dari Maluku, kue bagea dari Ternate, kue lontar dari Papua, kompiang dari Nusa Tenggara Timur. Distribusi makanan yang tidak mudah dari daerah Indonesia bagian timur ke Pulau Jawa yang merupakan sentral Indonesia, menjadi salah satu alasan mengapa camilan-camilan tadi sulit untuk dikenali masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Ublin, Camilan Jadul dari NTT

Butuh seseorang atau sekelompok orang yang mampu membangun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menyebarluaskan camilan khas daerahnya ke seluruh penjuru Indonesia. Salah satu camilan khas Nusa Tenggara Timur, ublin, sedang dilestarikan oleh seorang pemuda asli daerah setempat, Seprisen Laibahas.

Pasalnya, ublin adalah camilan jadul yang sudah sangat sulit ditemukan. Di tahun 2018, Seprisen dan kekasihnya, Siska, dengan dibantu dua teman kuliah mereka mulai membangun usaha ublin yang dinamakan Ublin NS3 (akronim dari awalan nama mereka).

Seprisen melakukan proses pemanggangan ublin. Foto: Dok. Pribadi

Usaha Ublin NS3 berjalan dengan baik dikarenakan minat yang cukup tinggi dari konsumen. Di awal tahun 2019, produk mereka pun mulai masuk ke beberapa toko kelontong yang ada di Kota Kupang.

“Awalnya saya tahu ublin dari Siska yang dapat dari mamanya yang berasal dari Sabu, NTT. Terus Siska juga dapat resep ublin ini yang sudah turun temurun dari neneknya. Rasa dan sejarah ublin yang menarik membuat saya dan teman-teman yang lain mulai membangun usaha ublin ini sambil berkuliah,” terang Seprisen waktu diwawancarai.

Ublin hasil produksi Seprisen dan teman-temannya dikenal punya cita rasa yang beragam. Dahulu, awalnya ublin dibuat oleh perempuan-perempuan asal NTT dengan bahan dasar tepung dan mentega. Rasanya seperti biskuit dengan sedikit gula. Setiap dikunyah, adonannya yang garing pecah dengan sensasi nikmat di mulut. Ublin juga sangat cocok jadi teman ngeteh ataupun ngopi. Namun karena rasa yang hanya itu-itu saja membuat Seprisen dan teman-temannya berinovasi membuat varian rasa lain, seperti keju, kacang, kelapa, ubi ungu (ubi jalar), dan pandan.

Ketika lulus kuliah dari Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana pada tahun 2019, Seprisen dan teman-temannya mulai memberi fokus utamanya pada usaha ublin ini. Namun sayangnya ketika tahun 2021, teman Seprisen yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap memilih untuk berhenti menjalankan usaha Ublin NS3. Sementara Seprisen sendiri memilih tetap melanjutkan usaha ublin dengan dibantu pacarnya, tante kandungnya, dan adik perempuannya.

“Saya tidak kecewa dengan teman-teman saya. Malah saya bersyukur dengan mereka yang sudah sukses. Ada yang sudah kerja di bank,” ungkap Seprisen tentang teman-temannya.

Desain Kemasan Ublin Bungtilu Snack. Foto: Dok. Seprisen

Ublin NS3 pun berganti nama menjadi Ublin Bungtilu Snack. Semakin banyak pengajuan ke toko-toko untuk memasukkan produk Ublin Bungtilu Snack. Hasilnya, belasan mini market di Kota Kupang menerima produk buatan Seprisen itu.

Munculnya Covid

Covid datang melukai segalanya termasuk usaha Ublin Bungtilu Snack. Pandemi menjatuhkan semangat Seprisen untuk melanjutkan UMKM miliknya yang sebenarnya sudah semakin berkembang.

Banyak toko-toko di Kota Kupang yang sudah menjadi pelanggan enggan menerima Ublin Bungtilu Snack. Akan tetapi, produksi ublin sendiri terus berjalan walaupun dengan penghasilan yang menurun drastis.

Seprisen dan pacarnya bahkan pernah menjual ketimun, mangga, bawang, dengan mengelilingi Kota Kupang menggunakan motor untuk mencari penghasilan tambahan. Mereka yang notabenenya adalah sarjana pertanian tidak malu berjualan dengan membawa sekarung ketimun, menelusuri setiap sudut Kota Kupang yang terik. Bagi Seprisen, tidak harus ada rasa malu dalam memilih-milih pekerjaan di saat pandemi yang menyeramkan ini bertahan begitu lama.

“Kalau saya sendiri tidak malu kerja begitu. Saya hanya merasa kasihan saja dengan Siska mau pacaran dengan saya yang kerjanya begitu. Malah dia juga ikut bekerja,” kata Seprisen.

Namun, siapa sangka di tengah pandemi yang menyeramkan ini muncul sebuah kesempatan emas bagi Seprisen untuk mengembangkan usaha ublinnya? Tiba-tiba saja banyak orang sewaktu pandemi yang jadi suka ngemil.

Kesempatan emasnya adalah ublin milik Seprisen bisa menjadi pilihan camilan yang lezat bagi masyarakat, khususnya masyarakat Kota Kupang. Promosi Ublin Bungtilu Snack pun digencarkan oleh Seprisen dan Siska, membuat permintaan ublin semakin meningkat.

Setelah pandemi berangsur-angsur tiada, usaha ublin milik Seprisen kembali merangkak naik. Di awal tahun 2022 kemarin, Seprisen berhasil mendapatkan PITR atau lebih dikenal dengan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Lalu pada akhir tahun 2022, Majelis Ulama Indonesia memberikan label halal untuk produk Ublin Bungtilu Snack.

Sejauh ini sudah ada puluhan toko di Kota Kupang yang menyediakan Ublin Bungtilu Snack milik Seprisen. Pemuda asli NTT itu dapat bangkit kembali karena berhasil memaksimalkan kesempatan yang muncul di tengah pandemi.

Petugas mengecek proses pembuatan ublin untuk sertifikasi halal. Foto: Dok. Seprisen

Dukungan JNE terhadap UMKM milik Seprisen

Ublin Bungtilu Snack khas NTT dari Seprisen diharapkannya bisa menembus pasar di seluruh Indonesia. Promosi dan distribusi yang efektif perlu dilakukan untuk mewujudkan tujuan ini.

Selain itu, Seprisen juga mengungkapkan akan meningkatkan produktivitas dan juga menjaga kualitas usahanya. Lulusnya Siska, sang kekasih, menjadi ASN mengharuskan Seprisen untuk bekerja lebih keras lagi menjadi seorang pegiat UMKM.

“Untuk sekarang saya belum pernah melakukan pengiriman ke luar NTT, tapi ke depannya jelas saya ingin sekali, apalagi kemarin juga sudah dapat label halal dari MUI. Sayang sekali kalau ublin yang rasanya seenak ini penikmatnya hanya dari orang-orang di sekitar Kupang sini saja,” ucap Seprisen.

Ada berbagai platform masa kini yang bisa dipakai Seprisen untuk mengenalkan ublin ke banyak orang. Sementara untuk distribusinya ke seluruh Indonesia, Seprisen sangat membutuhkan perusahaan jasa pengiriman produk yang kinerjanya memiliki connecting happiness dengan pengguna jasanya.

Di Kota Kupang sendiri perusahaan jasa pengiriman yang sudah dipercaya masyarakat Kupang adalah JNE. Seprisen tidak ragu memakai JNE untuk mengirimkan produknya ke konsumen karena JNE sendiri sudah 32 tahun ini berhasil mengirimkan barang ke segala penjuru negeri dengan pemuasan yang bernilai tinggi dari penggunanya.

“Pernah pakai JNE untuk pengiriman ke luar Kupang. Sejauh ini baik-baik saja. Kebanyakan orang di NTT juga pakainya JNE karena lebih murah dan aman,” tutur Seprisen mengenai pandangannya tentang kinerja JNE.

Seprisen juga berharap, dengan JNE ublin khas NTT buatannya bisa dinikmati oleh berbagai orang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan tidak hanya ublin dari NTT, camilan dari daerah lain yang tentu punya rasa comfort food bagi penikmatnya pun seharusnya bisa tersebar luas ke seluruh Indonesia berkat adanya JNE.

Indonesia memang punya beragam camilan dari setiap daerah, tapi sayangnya belum semua camilan memiliki penikmat dari daerah yang beragam. Dengan adanya JNE sebagai perusahaan jasa pengiriman yang terpercaya, kita dapat bangkit bersama untuk memecahkan masalah ini.

#JNE32Tahun #JNEBangkitBersama #JNEContentCompetition2023 #ConnectingHappines