Tebar Jala Prabowo di Sepak Bola, Janji Bawa Timnas Mendunia

Reporter kumparan Bisnis
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Akbar Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melanjutkan program hilirisasi Presiden Jokowi, berjanji memberi makan siang dan susu gratis, sampai janji menaikkan gaji polisi hakim dan jaksa, kali ini Calon Presiden Prabowo Subianto bicara soal membawa Timnas sepak bola Indonesia tembus Piala Dunia.
Indonesia adalah negara yang fanatik soal sepak bola. Prabowo mungkin melihat irisan masyarakat ini untuk menyasar banyak suara di Pemilu 2024 ini. Ditambah, salah satu pesaingnya sempat 'berususan' dengan supporter sepak bola ketika menolak Piala Dunia.
Pada Kamis (14/12/2023), Prabowo Subianto meresmikan Garudayaksa Football Academy, akademi sepak bola di bawah yayasan Prabowo Subianto Djojohadikusumo.
Nama-nama yang tak asing di dalam akademi itu di antaranya seperti Indra Sjafri yang dipercaya jadi Wakil Ketua Dewan Pembina sekaligus Direktur Teknik, lalu ada eks Ketua PSSI Mochamad Iriawan sebagai Anggota Dewan Pembina, Djohar Arifin Husin sebagai Anggota Dewan Pembina, hingga lulusan Sports Business Institute Barcelona, Dusan Bogdanovic sebagai Direktur Utama. Prabowo sendiri jadi Ketua Dewan Pembina.
Dalam laman resminya, disebut bahwa akademi Garudayaksa ini didirikan dengan berkiblat akademi-akademi ternama. Seperti Akademi Real Madrid, La Masia milik Barcelona, De Toekomst Ajax, Aspire Academy, sampai FC Anderlecht SS yang sukses lahirkan generasi emas Timnas Belgia.
"Sepak bola penting, karena harga diri bangsa dan rakyat Indonesia. Tekad saya, Indonesia harus masuk Piala Dunia," - Prabowo Subianto.
Garudayaksa, proyek Prabowo itu didirikan dengan visi memproduksi pemain-pemain hebat dengan predikat generasi emas. Misinya, menjadi Bank of Player yang tertata di semua kelompok umur, digitized dan berdaya saing hebat, serta menjadi role model dengan tata kelola yang modern dan industrialis.
Terdengar megah dan hebat, semoga bukan sekadar gimik politik, menebar jala suara warga Indonesia yang fanatik bola.
Sebelum mendirikan akademi, Prabowo membuat turnamen sepak bola U-17 bernama Nusantara Open Piala Prabowo Subianto tahun 2022. Tahun ini turnamen tersebut kembali digelar dan akan diikuti 16 tim Elite Pro Academy (EPA) serta 5 klub akademi.
Sebanyak 22 pemain terbaik dari turnamen tersebut akan dikirim untuk menimba ilmu di Aspire Academy di Qatar selama 3 pekan. Sementara dari turnamen tahun lalu, Persib Bandung U-17 sebagai juara sudah dikirim ke Qatar selama 3 pekan, sementara PSLS Lhokseumawe sebagai Runner Up bakal dikirim juga akhir Desember ini.
"Kini seiring dengan misi Indonesia mencalonkan tuan rumah Piala Dunia U-20 2025, saya akan menunaikan janji saya, mengirim timnas Indonesia U-20 untuk persiapan jangka panjang di Qatar," kata Prabowo.
Tak Cukup Hanya Ekspor Pemain
Mengirim pemain ke luar negeri saja tidak cukup bila ambisinya membawa Timnas Indonesia tembus Piala Dunia. Bicara soal ekspor pemain ke luar negeri, PSSI sebenarnya sudah punya proyek sejenis sejak tahun 1993. Mulai dari PSSI Primavera di Italia, lalu berlanjut ke SAD (Sociedad Anonima Deportiva) di Uruguay, proyek Garuda Select di negara sepak bola, Inggris.
Semua hasilnya nihil. Program Primavera 1993/1994 dan 1995/1996 digelar sebagai ajang persiapan Piala Asia U-19 1994 dan kualifikasi Olimpiade Atlanta 1996. Timnas yang diperkuat alumnus PSSI Primavera tidak mampu lolos dari fase grup Piala Asia U-19 1994 dan gagal dalam babak kualifikasi Olimpiade Atlanta 1996 lantaran ditekuk Korea Selatan.
Program SAD berlangsung dari tahun 2008 sampai 2012. Dari program itu, Indonesia U-19 berhasil menjadi kampiun pada Piala AFF U-19 tahun 2013. Tapi selanjutnya gagal total pada Piala Asia U-19 2014, finis sebagai juru kunci di babak penyisihan grup tanpa meraih sebiji poin pun.
Garuda Select pun sama, pemain-pemain muda yang diharapkan setelah lulus bisa berkarier di luar negeri kini satu per satu pulang kampung karena tak mampu bersaing.
Jauh-jauh tembus Piala Dunia, menjadi yang terkuat di Asia Tenggara saja, atau cukup unjuk gigi di level Asia saja sulit.
Bila Prabowo benar-benar ingin Timnas Indonesia tampil di Piala Dunia, jalannya sangat panjang. Perbaikan kualitas liga domestik, kualitas wasit, sarana prasarana berstandar FIFA, pengembangan usia dini, sampai urusan mafia bola yang sudah mengakar di turnamen-turnamen level daerah.
Minim Wacana Politik
Membawa Timnas Indonesia tembus Piala Dunia seperti yang Prabowo bilang tidak sesederhana seperti mengucapkannya. Dibutuhkan sumber daya yang luar biasa besar, tidak hanya dana tapi juga wacana politik dari pemerintah.
Dalam program visi-misi pasangan Prabowo-Gibran, tertuang salah satunya adalah meningkatkan prestasi olahraga Indonesia. Sedangkan yang spesifik soal sepak bola, hanya sebuah janji untuk membangun ribuan lapangan sepak bola yang dikelola dengan skema Public Private People Partnership (PPPP).
Karena politik tidak selamanya merusak sepak bola. Seperti apa yang dilakukan raksasa sepak bola Asia, Jepang. Sempat dihantam krisis ekonomi 1997 yang membuat banyak investor hengkang, Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) kembali merintis dengan menjalin kemitraan perusahaan lokal, mereka mendanai pembinaan akademi-akademi sepak bola di pelosok negeri.
JFA membuat blueprint visi 100 tahun sepak bola Jepang. JFA berupaya mengenalkan sepak bola melalui beragam platform, salah satunya melalui industri manga. Masyarakat Indonesia pasti tak asing dengan manga Captain Tsubasa atau Blue Lock. Semua manga genre sepak bola di Jepang punya benang merah serupa, yakni semangat bagaimana Jepang bisa jadi juara Piala Dunia, seperti tertuang dalam visi 100 tahun sepak bola Jepang.
Apa yang dilakukan di Jepang itu tak lepas dari keselarasan kebijakan dan visi besar regulator sampai pelaku industri. Ini adalah wacana politik yang jelas. Padahal, sepak bola Jepang pada pada awalnya tidak lebih hebat dari Indonesia. Sekarang? Seperti langit dan bumi.
Sebenarnya pemerintah di era Presiden Jokowi juga menaruh mata di pengembangan sepak bola. Ada Instruksi Presien (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Demi mendongrak prestasi Timnas Indonesia, 12 kementerian, pemerintah daerah plus kepolisian dikerahkan Jokowi.
Di luar Menteri Pemuda dan Olahraga yang jelas mengurus sepak bola, Menteri Agama sampai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional juga diberi tugas mengurus sektor sepak bola.
Contohnya di antaranya, Menteri Agama diminta menyelenggarakan kompetisi sepak bola jenjang MI, MTS, MA, Mahasiswa, sampai Pondok Pesantrendi tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Sedangkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional ditugaskan untuk memfasilitasi perolehan tanah yang digunakan untuk pembangunan prasarana dan sarana sepak bola.
Tapi faktanya, prestasi Timnas Indonesia begini-begini saja bahkan mundur jauh dibanding era 1980-an, ketika Indonesia nyaris lolos ke Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Dan soal wacana politik pemerintah ini, sepertinya lumrah sepak bola dianaktirikan melihat banyaknya persoalan di negeri ini yang harus diselesaikan.
