Konten dari Pengguna

Menggugat Gelar, Merenungi Hidup: Epictetus dan Para Sarjana yang Tersesat

Akbar Pelayati

Akbar Pelayati

Alumnus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan Masyarakat biasa di Kolaka Utara

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akbar Pelayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Epictetus memberi nasihat kepada sarjana muda yang gelisah (Sumber AI)
zoom-in-whitePerbesar
Epictetus memberi nasihat kepada sarjana muda yang gelisah (Sumber AI)

Dalam dunia yang serba cepat dan kompetitif, gelar akademik tampak seperti simbol kesuksesan awal. Ia menjadi mahkota keluarga, tiket menuju kelas menengah, dan janji akan kehidupan yang lebih baik. Namun, ketika data menunjukkan bahwa lebih dari 12 persen pengangguran Indonesia berasal dari lulusan perguruan tinggi, kita mesti mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya makna menjadi sarjana?

Fenomena ini bukan sekadar statistik. Ia adalah tragedi senyap dari ratusan ribu anak muda yang dibesarkan oleh sistem pendidikan tinggi yang tidak mengajarkan cara berpikir, melainkan cara mengejar nilai. Mereka lulus tanpa keterampilan, tanpa arah, dan tanpa jati diri. Mereka tidak menguasai ilmu yang dipelajari, dan ketika ijazah tidak lagi membuka pintu kerja, yang tersisa hanyalah rasa gagal dan kebingungan eksistensial.

Dalam situasi ini, saya teringat pada filsuf Stoik dari abad pertama, Epictetus, seorang budak yang menjadi guru kebijaksanaan. Epictetus berkata, “Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi pada kita, tapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita meresponnya.” Ucapan ini adalah tamparan lembut sekaligus pelita bagi para lulusan yang tersesat.

Sebab masalahnya bukan semata dunia kerja yang kejam, atau sistem kampus yang stagnan, melainkan cara kita memandang hidup itu sendiri. Kita tumbuh dalam mitos bahwa hidup adalah garis lurus: sekolah - kuliah - kerja - sukses. Padahal kenyataan jauh lebih kompleks. Dunia tidak tunduk pada skenario kita. Maka, ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan, banyak dari kita tenggelam dalam krisis identitas.

Epictetus menawarkan alternatif: kebajikan, kesadaran diri, dan hidup sesuai dengan alam (logos). Ia mengajarkan bahwa penderitaan muncul bukan karena peristiwa buruk, melainkan karena ekspektasi yang keliru. Dalam konteks hari ini, ekspektasi itu adalah asumsi bahwa gelar pasti membawa gaji, bahwa jurusan menentukan masa depan, bahwa kerja adalah soal status sosial.

Padahal, menurut Epictetus, yang bisa kita miliki sepenuhnya hanyalah prohairesis—kebebasan memilih sikap dan tindakan kita. Maka, alih-alih meratapi nasib atau menyalahkan sistem, sarjana Stoik justru akan menjadikan kegagalan sebagai momen pembentukan karakter. Ia bertanya, “Apa yang bisa kulakukan sekarang? Apa yang bisa kupelajari? Bagaimana aku bisa menjadi berguna, bukan sekadar berhasil?”

Kita hidup di era ketika kampus kehilangan roh intelektualnya. Ia menjadi pabrik ijazah, bukan rumah pemikiran. Mahasiswa lebih sibuk mengejar sertifikat daripada mengejar makna. Organisasi mati karena pragmatisme. Diskusi kalah oleh webinar. Dalam situasi ini, Stoisisme hadir bukan sebagai pelarian, tapi sebagai penemuan ulang terhadap nilai-nilai kehidupan: ketekunan, kesederhanaan, penguasaan diri, dan refleksi terus-menerus.

Bagi saya, seorang sarjana seharusnya bukan hanya produk sistem, tetapi pencari makna yang terus mengolah dirinya, bahkan ketika dunia tidak memberinya pekerjaan. Karena dalam perspektif Stoik, kesuksesan bukanlah jabatan atau penghasilan, tetapi kualitas karakter.

Jadi, ketika kita melihat lulusan-lulusan tersesat, jangan hanya bertanya, “Mengapa mereka tidak bekerja?” Tapi bertanyalah juga, “Apakah mereka pernah benar-benar menjadi manusia merdeka—dalam pikiran, tindakan, dan sikap?”

Dan kepada para sarjana yang kini merasa gagal: ketahuilah bahwa mungkin kalian belum terlambat, hanya perlu berhenti berlari mengejar ilusi, dan mulai melangkah ke dalam dirimu sendiri—tempat di mana kebijaksanaan sesungguhnya tinggal.

Penulis : Akbar Pelayati, S.Ag.

* Merupakan Warga Negara Indonesia yang sampai detik ini masih mencari 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan oleh Pemrintah.