Fasilitas Bulu Tangkis di AS Gak Seperti di Indonesia

kumparanSPORTverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemain USA di Milklife Superliga Junior. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemain USA di Milklife Superliga Junior. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Perkembangan bulu tangkis di Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, iklim cabang olahraga tepok bulu di Negeri Paman Sam masih sangat berbeda jika dibandingkan dengan Indonesia, terutama soal ketersediaan Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).

Di AS, tak ada Pelatnas maupun asrama atlet. Para pemain junior biasa berlatih di klub masing-masing usai jam sekolah selesai, lalu kembali ke rumah.

Manajer Tim Global Badminton Academy (USA), David Surya Putra, membeberkan perbedaan paling mencolok antara sistem pembinaan bulu tangkis di Amerika Serikat dan Indonesia.

"Perbedaan terbesar adalah Amerika belum memiliki Pelatnas. Kami belum punya pelatihan secara nasional di sana, sifatnya masih private sehingga kembali ke klub masing-masing," kata David kepada kumparan, Rabu (4/11).

Tidak adanya asrama membuat para atlet harus pintar membagi waktu antara pendidikan dan latihan harian.

"Di Amerika kami belum memiliki fasilitas seperti di Indonesia. Tetapi kami tetap latihan hampir setiap hari setelah mereka pulang sekolah, sekitar jam 4 sore sampai jam 8 atau 9 malam," terangnya.

Walau tanpa Pelatnas dan asrama, program pembinaan tetap berjalan intensif. David menegaskan bahwa perkembangan atlet junior di AS justru menunjukkan grafik meningkat.

Pemain USA di Milklife Superliga Junior. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

"Latihan bulu tangkis tetap intens, hanya saja anak-anak tidak stay di asrama. Berbeda dengan di Indonesia yang harus menginap dan latihan dua kali sehari, pagi dan sore," ungkap David.

Perkembangan bulu tangkis di AS memang melesat cukup pesat belakangan ini. Hal itu terlihat dari melonjaknya jumlah pemain serta tingginya antusiasme dalam menyambut kompetisi lokal.

"Boleh dibilang hampir setiap bulan ada turnamen di Amerika. Hampir setiap turnamen itu diikuti minimal 500 sampai 700 peserta," ujar David.

Dari segi peta persaingan, potensi pebulu tangkis muda AS dinilai mulai berani bersaing di level internasional, meski diakuinya belum sepadan dengan raksasa Asia seperti Indonesia atau China.

"Saya melihat mereka mulai bisa mengimbangi. Pemain-pemain muda di Amerika juga mulai berbicara di level internasional, seperti Global Badminton Academy yang sudah rutin mengirimkan atlet ke berbagai kejuaraan," jelasnya.

Melihat potensi dan iklim yang makin hidup, David berharap mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat agar pembinaan bulu tangkis di AS bisa melangkah ke jenjang yang lebih profesional.

"Semoga pemerintah Amerika bisa melihat perkembangan bulu tangkis di sini. Ini merupakan momentum untuk lebih serius memperhatikan bulu tangkis," pungkasnya