Konten dari Pengguna

439 Ribu Mahasiswa dan Ekonomi Jogja yang Terus Berputar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akbar Sergio Abdul Gawang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generate chatgpt, ilustrasi : mahasiswa di DIY
zoom-in-whitePerbesar
Generate chatgpt, ilustrasi : mahasiswa di DIY

Mahasiswa Yogyakarta merupakan bagian penting dari kehidupan kota ini. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menempuh pendidikan, tetapi selama tinggal di Yogyakarta mereka juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.

Berdasarkan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Dalam Angka 2026, pada 2025 terdapat 106 perguruan tinggi di DIY, terdiri dari 5 perguruan tinggi negeri dan 101 perguruan tinggi swasta. Jumlah tersebut didukung oleh 13.465 dosen dan 439.236 mahasiswa.

Angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa pendidikan tinggi merupakan bagian penting dari kehidupan ekonomi Yogyakarta.

Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi, internet, laundry, perlengkapan kuliah, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan tersebut kemudian menciptakan permintaan terhadap barang dan jasa yang disediakan masyarakat.

Hal ini sejalan dengan struktur ekonomi DIY. Pada 2025, PDRB DIY mencapai Rp208,13 triliun dan ekonomi tumbuh 5,49 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 61,63 persen.

Mahasiswa memang bukan satu-satunya kelompok yang membentuk konsumsi rumah tangga. Namun, dengan jumlah mencapai 439 ribu orang, mereka jelas merupakan kelompok konsumen yang tidak bisa diabaikan dalam melihat aktivitas ekonomi Yogyakarta.

Coba lihat kawasan sekitar kampus.

Kos-kosan tumbuh. Warung makan ramai. Laundry bermunculan. Fotokopi dan percetakan tetap memiliki pasar. Transportasi bergerak. Minimarket dan berbagai usaha kecil berkembang mengikuti kebutuhan mahasiswa.

Aktivitas tersebut memang terlihat sederhana jika dilihat satu per satu. Namun ketika dilakukan oleh ratusan ribu mahasiswa selama bertahun-tahun, terbentuk pasar yang cukup besar.

Dampaknya juga tidak berhenti pada mahasiswa sebagai konsumen. Pemilik kos memperoleh pendapatan, pedagang mendapatkan omzet, pekerja laundry mendapatkan penghasilan, pengemudi memperoleh pendapatan dari jasa transportasi, dan berbagai usaha lain mendapatkan pasar.

Dengan kata lain, uang yang dibelanjakan mahasiswa ikut masuk ke dalam perputaran ekonomi daerah.

Hal lain yang menarik adalah konsentrasi perguruan tinggi di DIY. Dari 106 perguruan tinggi, 42 berada di Kota Yogyakarta dan 39 berada di Kabupaten Sleman. Artinya, sekitar tiga perempat perguruan tinggi DIY berada di dua wilayah tersebut.

Tidak mengherankan jika kawasan Kota Yogyakarta dan Sleman memiliki banyak usaha yang secara langsung maupun tidak langsung menyasar mahasiswa.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa status sebagai kota pelajar sebenarnya merupakan aset ekonomi bagi DIY.

Namun, mahasiswa jangan hanya dilihat sebagai pasar.

Dengan jumlah 439 ribu orang dan latar belakang keilmuan yang beragam, mahasiswa juga memiliki potensi sebagai sumber inovasi, tenaga terdidik, wirausaha, dan penggerak ekonomi berbasis pengetahuan.

Mahasiswa teknologi dapat membantu digitalisasi UMKM. Mahasiswa desain dapat membantu pengembangan produk. Mahasiswa ekonomi dapat membantu pengelolaan keuangan usaha. Mahasiswa statistik dapat membantu pelaku usaha membaca data dan memahami konsumennya.

Hubungan antara perguruan tinggi dan perekonomian daerah seharusnya tidak berhenti pada konsumsi mahasiswa. Pengetahuan yang ada di kampus juga perlu masuk ke dunia usaha dan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi DIY pada 2025 yang mencapai 5,49 persen menunjukkan bahwa perekonomian daerah terus bergerak. Pada saat yang sama, sektor akomodasi dan makan minum juga menunjukkan pertumbuhan kuat pada triwulan IV-2025, mencapai 15,32 persen secara triwulanan.

Angka tersebut tentu tidak bisa dianggap semata-mata sebagai dampak keberadaan mahasiswa. Ekonomi DIY dipengaruhi banyak faktor, termasuk pariwisata, investasi, perdagangan, industri, dan konsumsi masyarakat secara umum.

Tetapi keberadaan 439.236 mahasiswa tetap merupakan salah satu kekuatan yang membuat ekosistem ekonomi Yogyakarta berbeda.

Karena itu, mempertahankan Yogyakarta sebagai kota pendidikan bukan hanya soal menjaga identitas daerah. Ada kepentingan ekonomi di dalamnya.

Mahasiswa bukan sekadar orang yang datang ke Jogja untuk mendapatkan gelar. Selama tinggal di sini, mereka menjadi konsumen, menciptakan permintaan, menghidupkan usaha, dan berpotensi menjadi pencipta nilai ekonomi baru.

Jogja boleh tetap dikenal sebagai kota pelajar. Tetapi sudah waktunya mahasiswa juga dilihat sebagai bagian dari kekuatan ekonomi daerah.