PNS Bukan Jalan Menuju Kekayaan dan Prestise

Statistisi Ahli Pertama Badan Pusat Statistik Kabupaten Sorong Selatan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Akbar Sergio Abdul Gawang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di Indonesia, profesi pegawai negeri sipil (PNS) masih menjadi impian banyak orang. Setiap pembukaan seleksi CPNS selalu disambut jutaan pelamar yang berharap memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tetap, status sosial yang baik, dan jaminan hari tua. Namun, penulis justru memiliki pandangan yang bertolak belakang.
Menurut penulis, profesi PNS bukanlah jalan menuju kekayaan. Sistem penghasilan yang telah ditetapkan membuat peluang meningkatkan pendapatan jauh lebih terbatas dibandingkan dunia usaha atau profesi yang berbasis kompetensi dan pasar. Sehebat apa pun seseorang bekerja, ruang peningkatan penghasilannya tetap berada dalam batas-batas yang telah ditentukan. Karena itu, penulis berpendapat bahwa seseorang yang bercita-cita membangun kekayaan dalam jumlah besar seharusnya tidak menjadikan PNS sebagai pilihan karier utama.
Bukan berarti tidak ada PNS yang kaya. Tentu ada. Namun, menurut penulis, kekayaan tersebut umumnya berasal dari usaha, investasi, atau sumber penghasilan lain di luar gaji sebagai PNS. Dengan kata lain, yang menghasilkan kekayaan bukanlah profesi PNS itu sendiri.
Selain persoalan ekonomi, penulis juga menilai bahwa status sosial PNS tidak lagi sekuat dahulu. Di era media sosial, aparatur negara justru sering menjadi sasaran kritik, sindiran, bahkan olok-olok. Ketika pelayanan publik dinilai lambat, ketika muncul kasus korupsi yang melibatkan oknum aparatur, atau ketika birokrasi dianggap berbelit-belit, citra seluruh PNS ikut terkena dampaknya. Menurut penulis, kondisi ini membuat profesi PNS tidak lagi otomatis memperoleh penghargaan dari masyarakat maupun netizen sebagaimana yang terjadi beberapa dekade lalu.
Bagi penulis, menjadi PNS saat ini sering kali menghadapi situasi yang paradoks. Di satu sisi dituntut bekerja profesional, di sisi lain setiap kesalahan birokrasi dapat memicu kritik yang meluas di ruang digital. Akibatnya, status sebagai PNS tidak lagi identik dengan prestise, bahkan dalam banyak perbincangan di media sosial lebih sering menjadi bahan cibiran daripada kebanggaan.
Karena itu, penulis tidak pernah memandang PNS sebagai profesi yang ingin dibanggakan. Penulis lebih menghargai profesi yang memberikan ruang lebih luas untuk berkembang, menciptakan nilai ekonomi, memperoleh penghargaan berdasarkan hasil kerja, serta membuka peluang mencapai kebebasan finansial.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan seluruh PNS. Banyak aparatur negara yang bekerja dengan penuh integritas dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Kritik penulis diarahkan pada persepsi, sistem, dan pengalaman yang membentuk pandangan tersebut. Pada akhirnya, setiap orang berhak menentukan ukuran keberhasilannya sendiri. Bagi penulis, jika tujuan hidup adalah menjadi kaya sekaligus memperoleh pengakuan atas karya, profesi PNS bukanlah jalan yang ingin dipilih.
