Konten dari Pengguna

Primata di Pintu Rumah, Bukti Kegagalan Tata Ruang

M Akbar Aditama

M Akbar Aditama

Tax Policy Analyst di Pratama Institute For Fiscal & Governance Studies

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Akbar Aditama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Freepik

Sepekan terakhir, warga Dusun Serambi, Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan merasa resah setelah kawanan monyet liar kerap masuk ke pemukiman dan mencuri makanan dari dapur serta merusak pekarangan kejadian yang dilaporkan menimbulkan kekhawatiran khususnya bagi orang tua yang khawatir terhadap keselamatan anak-anak (Detik, 2024). Laporan serupa juga tercatat di wilayah lain; misalnya kawanan monyet ekor panjang dilaporkan turun ke permukiman sekitar objek wisata di kawasan Cisarua dan menyerbu warung serta rumah warga (iNews, 2022). Kejadian-kejadian ini memberi gambaran konkret bagaimana konflik manusia–beruk terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat (Wartabromo, 2024).

Fenomena turun-gunung dan kunjungan primata ke pemukiman tidak lepas dari beberapa faktor penyebab yang didukung bukti empiris. Pertama, kerusakan dan fragmentasi habitat akibat deforestasi, konversi lahan, dan pembangunan infrastruktur mengurangi ketersediaan pakan alami sehingga primata mencari sumber alternatif di kebun dan pemukiman. Hubungan antara perubahan lanskap dan pergeseran perilaku ruang hewan telah ditunjukkan dalam studi-studi ekologi lanskap (Rifaie, 2024). Kedua, provisioning atau kebiasaan manusia memberi makan primata baik oleh wisatawan maupun penduduk mengubah pola makan dan waktu aktivitas primata serta meningkatkan kecenderungan mereka mengunjungi area manusia; studi lapangan pada long-tailed macaque di Indonesia mencatat perbedaan waktu aktivitas dan perilaku pada kelompok yang diberi makan secara rutin dibanding yang tidak diberi makan (Ilham et al., 2018). Ketiga, pertumbuhan kepadatan populasi primata lokal tanpa jaringan koridor habitat yang memadai meningkatkan kompetisi intra-spesies dan mendorong eksplorasi ke lahan pertanian dan pemukiman, studi konflik manusia–makaque di beberapa daerah Indonesia mendokumentasikan korelasi antara kerapnya interaksi dan tekanan habitat (Fitria, 2020).

Dampak konflik yang muncul bersifat multi-dimensi, dengan bukti empiris yang menunjang efek sosial-ekonomi pada komunitas lokal. Secara langsung, perusakan tanaman (crop-raiding) oleh primata menyebabkan kehilangan hasil panen yang dapat menurunkan pendapatan rumah tangga petani kecil—studi survei dan kuantitatif di beberapa wilayah Indonesia melaporkan kehilangan produktivitas komoditas tertentu akibat serangan primata dan strategi adaptif petani seperti peningkatan penjagaan atau perubahan komoditas tanam (E3S, 2020). Dampak tidak langsung juga terlihat pada aspek psikologis dan sosial: rasa tidak aman, pembatasan aktivitas luar rumah, hingga potensi konflik antarwarga ketika muncul perbedaan pendapat tentang cara penanganan fenomena yang tercatat dalam laporan-laporan liputan media dan studi etnoprimatologi (Wartabromo, 2024; Loudon et al., 2023).

Solusi Berbasis Bukti Empiris

Untuk merumuskan respons yang realistis, pengalaman beberapa negara dapat menjadi rujukan penting. Di Gibraltar, pemerintah mengambil langkah tegas dalam mengelola konflik dengan Barbary macaques melalui larangan pemberian makan dengan denda tinggi, pemantauan kesehatan dan demografi secara rutin, serta program kontrasepsi dan sterilisasi selektif yang dilaksanakan bersama mitra konservasi lokal. Kombinasi antara regulasi hukum, pemantauan populasi, dan layanan medis menunjukkan bahwa pengelolaan konflik dapat berjalan beriringan dengan upaya konservasi spesies (Government of Gibraltar).

Pendekatan yang sama kuatnya juga terlihat di Singapura, di mana NParks menegakkan larangan memberi makan satwa liar dengan sanksi finansial yang signifikan, sekaligus menjalankan kampanye edukasi publik seperti slogan “When Not Feeding Is Caring”. Selain itu, kebijakan pengelolaan ruang hijau diintegrasikan untuk mengurangi titik konflik antara manusia dan satwa. Praktik ini membuktikan bahwa penegakan aturan saja tidak cukup, melainkan harus dibarengi komunikasi publik yang intensif untuk mengubah perilaku masyarakat (NParks, 2025).

Berbeda dengan Gibraltar dan Singapura, Jepang mengutamakan kombinasi solusi teknis dan keterlibatan komunitas dalam menangani konflik dengan Japanese macaque. Penggunaan pagar listrik, perangkat pengusir suara, serta patroli masyarakat terbukti efektif dalam melindungi lahan pertanian, tetapi keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada komitmen kolektif warga dalam pemeliharaan fasilitas dan koordinasi antar-desa. Hal ini menegaskan pentingnya dukungan sosial yang berkelanjutan agar intervensi teknis tidak berhenti di tengah jalan (BioOne, 2022).

Sementara itu, Hong Kong dan beberapa kota lain mengadopsi pendekatan non-letal melalui program kontrasepsi dan sterilisasi yang dijalankan oleh LSM konservasi bekerja sama dengan otoritas lokal. Metode ini dilengkapi dengan monitoring kesehatan, pencatatan genetik, dan evaluasi sosial-ekologis untuk memastikan keseimbangan antara pengendalian populasi dan keberlangsungan konservasi. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kontrasepsi dapat menjadi alternatif manajemen yang efektif, meskipun membutuhkan perencanaan jangka panjang, sumber daya memadai, dan penerimaan masyarakat agar bisa diimplementasikan secara berkelanjutan (OPCFHK, 2023).

Strategi Adaptif Bagi Indonesia

Dari keempat studi kasus tersebut, tampak jelas bahwa tidak ada satu solusi tunggal yang mampu menyelesaikan persoalan konflik manusia–primata. Keberhasilan selalu ditentukan oleh kombinasi regulasi hukum yang jelas, pendidikan publik yang efektif, intervensi teknis yang praktis, serta opsi non-letal berbasis bukti bila diperlukan. Selain itu, dukungan finansial, monitoring kesehatan berbasis pendekatan One Health, dan keterlibatan komunitas menjadi prasyarat mutlak. Dengan belajar dari praktik internasional ini, Indonesia dapat mengembangkan strategi adaptif yang menyesuaikan intervensi dengan kondisi lokal sekaligus menjaga keseimbangan antara kesejahteraan manusia dan kelestarian beruk.

Berdasarkan bukti lapangan dan pedoman internasional, langkah pertama yang efektif adalah mengurangi daya tarik makanan antropogenik melalui larangan memberi makan yang disertai kampanye komunikasi terpadu dan sanksi lokal ringan—dihubungkan dengan edukasi yang melibatkan tokoh agama, perangkat desa, dan pengelola wisata agar pesan mudah diterima masyarakat (NParks; IUCN). Selaras dengan itu, penguatan pengelolaan sampah dan penyimpanan hasil panen (sarana sampah tertutup, kotak penyimpanan panen musiman) menutup sumber pakan mudah yang selama ini menarik primata ke permukiman, dan evaluasi menunjukkan langkah ini menurunkan frekuensi kunjungan bila diterapkan konsisten (Gunaryadi et al., 2017; Branco et al., 2020). Untuk deteksi dan respons dini, bangun mekanisme pelaporan sederhana (mis. grup WhatsApp desa atau hotline) serta jadwalkan patroli komunitas pada periode kritis (musim panen), dengan dukungan teknis BKSDA/dinas agar tindakan lapangan dapat terkoordinasi dan terdokumentasi (IUCN; Gunaryadi et al., 2017).

Di sisi teknis, intervensi yang etis dan teruji perlu diterapkan setelah kajian kelayakan lokal: pagar hidup, struktur penghalang sederhana, atau deterrent organik dapat mengurangi akses primata ke area sensitif, namun harus disertai pelatihan pemeliharaan agar tidak membahayakan manusia atau satwa (Montgomery, 2022). Untuk populasi yang tumbuh tak terkendali, opsi pengelolaan non-letal seperti program kontrasepsi/sterilisasi selektif dapat dipertimbangkan, tetapi hanya setelah kajian sosial-ekologis, rencana monitoring genetik, dan konsultasi etika. Contoh program di Gibraltar dan beberapa kota lain menunjukkan pendekatan ini potensial namun memerlukan sumber daya jangka panjang serta pemantauan ketat (Gibraltar gov; OPCFHK; Deleuze et al., 2021). Prinsipnya, solusi teknis harus dipadukan dengan penerimaan dan partisipasi komunitas agar tahan lama (Montgomery, 2022; Deleuze et al., 2021).

Dengan demikian, konflik manusia–beruk bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh satu pihak atau satu teknik tunggal. Pengalaman internasional (Gibraltar, Singapura, Jepang, Hong Kong) dan bukti lapangan di Indonesia menegaskan satu hal. Gabungan kebijakan hukum, pendidikan publik, intervensi teknis yang etis, dukungan finansial, dan kerangka ilmiah monitoring adalah resep paling realistis untuk menurunkan frekuensi konflik sambil tetap menjaga kesejahteraan satwa.