Dividen Saham: Penghasilan Pasif atau Sekadar Ilusi bagi Investor Pemula?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Sistem Informasi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M Akbar Febriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian investor pemula, kata “dividen” terdengar sangat menarik. Bayangkan memiliki saham sebuah perusahaan, kemudian secara berkala mendapatkan uang hanya karena masih memegang saham tersebut.
Konsep tersebut memang nyata. Perusahaan yang memperoleh laba dan memutuskan membagikan sebagian labanya kepada pemegang saham dapat memberikan dividen. Namun, apakah dividen benar-benar bisa menjadi penghasilan pasif yang menguntungkan?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Dividen memang dapat menjadi salah satu sumber keuntungan dari investasi saham. Tetapi, menganggap dividen sebagai “uang gratis” atau penghasilan yang selalu datang setiap tahun bisa membuat investor pemula salah mengambil keputusan.
Apa Sebenarnya Dividen?
Secara sederhana, dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham sesuai keputusan perusahaan dan ketentuan yang berlaku.
Misalnya, seseorang memiliki 1.000 lembar saham dan perusahaan menetapkan dividen Rp100 per lembar. Secara sederhana, investor tersebut berhak menerima Rp100.000 sebelum memperhitungkan ketentuan pajak yang berlaku.
Besarnya dividen tidak selalu sama setiap tahun. Perusahaan dapat membagikan dividen dalam jumlah tertentu, mengurangi pembagian, atau bahkan tidak membagikan dividen apabila laba digunakan untuk kebutuhan lain.
Karena itu, memiliki saham perusahaan yang pernah membagikan dividen bukan berarti investor otomatis akan menerima jumlah uang yang sama setiap tahunnya.
Mengapa Dividen Disebut Penghasilan Pasif?
Dividen sering dianggap sebagai passive income karena investor tidak perlu bekerja secara langsung untuk perusahaan tersebut setiap hari.
Investor cukup memiliki saham hingga memenuhi ketentuan untuk memperoleh hak atas pembagian dividen.
Hal inilah yang membuat dividen menarik bagi investor yang memiliki tujuan jangka panjang. Jika seseorang memiliki portofolio saham yang membagikan dividen secara konsisten, uang yang diterima dapat digunakan kembali untuk kebutuhan lain atau diinvestasikan kembali.
Namun, ada satu hal yang perlu diingat: dividen bukan gaji.
Gaji umumnya diterima sebagai imbalan atas pekerjaan, sedangkan dividen bergantung pada kinerja perusahaan, kebijakan pembagian laba, dan keputusan yang berlaku.
Jangan Hanya Melihat Besarnya Dividen
Kesalahan yang cukup sering dilakukan investor pemula adalah memilih saham hanya karena melihat angka dividennya.
Misalnya, ada saham yang terlihat memberikan dividen dengan jumlah cukup besar. Hal tersebut mungkin terlihat menarik, tetapi investor perlu melihat kondisi perusahaan secara keseluruhan.
Bagaimana laba perusahaan? Apakah bisnisnya berkembang? Bagaimana kondisi utangnya? Apakah perusahaan memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar melihat berapa rupiah dividen yang dibagikan.
Dividen yang besar pada satu periode belum tentu menunjukkan bahwa perusahaan akan memberikan jumlah yang sama pada periode berikutnya.
Dividen Tidak Membuat Investasi Bebas Risiko
Ada anggapan bahwa saham yang rajin membayar dividen berarti aman dari kerugian. Padahal, harga saham tetap dapat naik dan turun.
Sebagai contoh sederhana, seseorang membeli saham seharga Rp5.000 per lembar. Kemudian ia memperoleh dividen Rp100 per lembar.
Jika setelah itu harga saham turun menjadi Rp4.000, investor tetap mengalami penurunan nilai saham yang jauh lebih besar daripada dividen yang diterima.
Artinya, keuntungan investasi saham tidak hanya perlu dilihat dari dividen. Perubahan harga saham juga menjadi bagian penting dari hasil investasi.
Karena itu, mengejar dividen tanpa memahami bisnis dan risiko harga saham dapat menjadi keputusan yang kurang tepat.
Ada Istilah Dividend Yield
Investor juga sering menggunakan dividend yield untuk melihat seberapa besar dividen dibandingkan dengan harga saham.
Secara sederhana, dividend yield dapat dihitung dengan membandingkan dividen per saham dengan harga saham.
Misalnya, sebuah saham membagikan dividen Rp200 per lembar dan harga sahamnya Rp4.000. Dividend yield sederhananya adalah:
Rp200 ÷ Rp4.000 × 100% = 5%
Angka tersebut dapat membantu investor membandingkan besarnya dividen relatif terhadap harga saham.
Namun, dividend yield juga tidak boleh digunakan sendirian. Yield yang terlihat tinggi bisa terjadi karena harga saham sedang turun. Jika penurunan harga tersebut disebabkan masalah fundamental perusahaan, angka yield yang tinggi justru perlu diperiksa lebih lanjut.
Dividen Bisa Menjadi Strategi Jangka Panjang
Bagi investor yang berorientasi jangka panjang, dividen dapat menjadi bagian dari strategi investasi.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menggunakan kembali dividen untuk membeli saham. Dengan demikian, jumlah saham yang dimiliki dapat bertambah.
Jika perusahaan terus menghasilkan laba dan investor terus menambah kepemilikan saham, potensi penerimaan dividen di masa depan dapat ikut berkembang.
Tetapi lagi-lagi, hal tersebut bukan jaminan. Harga saham, laba perusahaan, kebijakan dividen, dan kondisi ekonomi dapat berubah.
Strategi tersebut membutuhkan kesabaran dan konsistensi, bukan sekadar membeli saham sebelum tanggal pembagian dividen.
Jangan Terjebak Mengejar Dividen
Investor pemula mungkin pernah mendengar strategi membeli saham menjelang pembagian dividen agar mendapatkan uang tunai.
Strategi seperti ini perlu dipahami dengan hati-hati.
Harga saham dapat bergerak setelah pembagian dividen, sehingga menerima dividen tidak otomatis berarti investor mendapatkan keuntungan bersih yang besar.
Selain itu, ada mekanisme tanggal cum date, ex date, dan payment date yang perlu dipahami untuk mengetahui kapan seseorang memiliki hak atas dividen dan kapan pembayaran dilakukan.
Daripada sekadar mengejar tanggal pembagian dividen, investor sebaiknya memahami alasan mengapa saham tersebut layak dimiliki dalam jangka waktu yang sesuai dengan tujuan investasinya.
Jadi, Penghasilan Pasif atau Ilusi?
Dividen bukan ilusi. Perusahaan memang dapat membagikan sebagian laba kepada pemegang saham.
Namun, menyebut dividen sebagai penghasilan pasif yang pasti dan terus mengalir juga merupakan pemahaman yang keliru.
Dividen lebih tepat dilihat sebagai salah satu bentuk keuntungan yang mungkin diperoleh dari kepemilikan saham, bukan sebagai penghasilan tetap.
Bagi investor pemula, hal terpenting bukan mencari saham dengan dividen paling besar, melainkan memahami perusahaan yang dibeli dan alasan di balik keputusan investasi tersebut.
Jika tujuan investasinya adalah jangka panjang, investor dapat mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kualitas bisnis, kemampuan perusahaan menghasilkan laba, kondisi keuangan, valuasi, serta kebijakan dividennya.
Belajar Sebelum Mengejar
Dividen memang memiliki daya tarik tersendiri. Mendapatkan uang dari aset yang dimiliki tentu menjadi hal yang menarik bagi banyak orang.
Tetapi, investasi saham bukan sekadar menunggu uang masuk ke rekening.
Ada risiko yang harus dipahami dan ada kemungkinan nilai investasi mengalami penurunan. Karena itu, investor pemula sebaiknya tidak menjadikan besarnya dividen sebagai satu-satunya alasan membeli saham.
Pada akhirnya, dividen bisa menjadi bagian dari perjalanan investasi jangka panjang, tetapi bukan jalan pintas menuju penghasilan tanpa risiko.
Semakin memahami cara kerja perusahaan dan investasi, semakin realistis pula ekspektasi seorang investor terhadap uang yang ingin diperolehnya dari pasar saham.
