Harga Naik, Ukuran Mengecil: Mengapa Produk Terasa Semakin Mahal?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Sistem Informasi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Akbar Febriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa ukuran makanan atau minuman yang biasa dibeli sekarang terasa lebih sedikit? Kemasan terlihat hampir sama, tetapi isinya ternyata berkurang. Harganya pun tetap sama, bahkan tidak jarang ikut meningkat.
Kondisi seperti ini bisa membuat konsumen merasa harga barang semakin mahal, meskipun kenaikan harga tidak selalu terlihat secara langsung.
Salah satu fenomena yang sering dibahas dalam konteks ini adalah shrinkflation, yaitu kondisi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau jumlah isi suatu produk sementara harga jualnya tetap atau mengalami perubahan yang lebih kecil dibandingkan pengurangan isinya.
Mengapa Ukuran Produk Bisa Berkurang?
Ada berbagai biaya yang harus ditanggung produsen untuk menghasilkan sebuah produk. Mulai dari bahan baku, tenaga kerja, energi, kemasan, transportasi, hingga biaya operasional lainnya.
Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan memiliki beberapa pilihan. Mereka dapat menaikkan harga, mempertahankan harga dengan mengurangi margin keuntungan, atau menyesuaikan ukuran produk.
Mengurangi isi produk menjadi salah satu cara yang dapat dipilih perusahaan untuk menyesuaikan biaya tanpa harus menaikkan harga secara besar-besaran.
Misalnya, sebuah produk yang sebelumnya memiliki berat 100 gram kemudian menjadi 90 gram, sementara harga jualnya tetap. Bagi konsumen, perubahan tersebut mungkin tidak langsung terlihat karena kemasannya masih terlihat hampir sama.
Namun, jika dihitung berdasarkan harga per gram, konsumen sebenarnya membayar lebih mahal untuk setiap gram produk tersebut.
Konsumen Sering Lebih Memperhatikan Harga
Dalam kehidupan sehari-hari, harga yang tertera di rak toko biasanya menjadi salah satu hal pertama yang diperhatikan konsumen.
Jika harga sebuah produk masih terlihat sama, konsumen mungkin merasa tidak ada perubahan besar. Padahal, ukuran atau jumlah isinya bisa saja sudah berbeda.
Inilah yang membuat perubahan ukuran terkadang terasa lebih samar dibandingkan kenaikan harga secara langsung.
Bayangkan sebuah produk yang sebelumnya berisi 10 buah dengan harga Rp10.000. Kemudian isinya dikurangi menjadi 8 buah, tetapi harganya tetap Rp10.000.
Secara nominal, konsumen masih membayar Rp10.000. Namun, harga yang dibayar untuk setiap buah sebenarnya meningkat.
Tidak Selalu Berarti Perusahaan Sedang “Menipu”
Perubahan ukuran produk memang dapat membuat konsumen merasa dirugikan jika tidak menyadarinya. Namun, dari sisi bisnis, keputusan tersebut dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi perubahan biaya.
Produsen juga menghadapi kondisi pasar yang berubah-ubah. Harga bahan baku, energi, transportasi, dan berbagai biaya lainnya dapat memengaruhi biaya produksi.
Daripada menaikkan harga secara signifikan, perusahaan mungkin memilih mengubah ukuran produk.
Karena itu, konsumen perlu melihat perubahan tersebut secara lebih objektif. Tidak semua pengurangan ukuran otomatis berarti ada pelanggaran atau tindakan yang merugikan konsumen. Hal yang penting adalah informasi mengenai produk tetap jelas dan tidak menyesatkan.
Inflasi Tidak Selalu Terlihat dari Label Harga
Fenomena seperti ini juga menunjukkan bahwa melihat perubahan harga hanya dari nominalnya belum tentu memberikan gambaran lengkap mengenai daya beli masyarakat.
Inflasi pada dasarnya berkaitan dengan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, konsumen juga dapat merasakan perubahan melalui ukuran, kualitas, atau jumlah produk yang diterima.
Karena itu, ketika berbelanja, membandingkan harga saja terkadang belum cukup.
Konsumen juga perlu memperhatikan berat bersih, volume, jumlah isi, dan ukuran produk.
Konsumen Perlu Lebih Teliti
Di tengah banyaknya pilihan produk, konsumen sebenarnya memiliki peran penting dalam menentukan keputusan pembelian.
Membandingkan harga per gram, liter, atau satuan dapat membantu mengetahui apakah sebuah produk benar-benar lebih murah dibandingkan produk lainnya.
Kebiasaan sederhana seperti membaca label dan memperhatikan berat bersih juga dapat membuat kita lebih sadar terhadap perubahan produk.
Apalagi jika perubahan tersebut terjadi secara bertahap. Ukuran produk yang berkurang sedikit mungkin tidak terasa dalam satu kali pembelian, tetapi dampaknya akan lebih mudah terlihat jika terjadi berulang kali.
Harga Bukan Satu-Satunya yang Perlu Dilihat
Pada akhirnya, pengalaman merasa barang semakin mahal tidak selalu berasal dari kenaikan harga yang terlihat jelas.
Ada kalanya harga tetap, tetapi isi berkurang. Ada juga ketika harga naik karena biaya produksi meningkat. Keduanya dapat membuat pengeluaran konsumen menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Karena itu, ketika berbelanja, jangan hanya melihat angka yang tertera pada label harga. Perhatikan juga berapa banyak produk yang sebenarnya kita dapatkan.
Dengan menjadi konsumen yang lebih teliti, kita dapat memahami perubahan harga dengan lebih baik dan membuat keputusan belanja berdasarkan nilai yang benar-benar kita terima.
