Konten dari Pengguna

Melihat Orang Lain Bahagia, Mengapa Kita Justru Merasa Tertinggal?

M Akbar Febriyan

M Akbar Febriyan

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Sistem Informasi

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Akbar Febriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Gambar dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Gambar dibuat menggunakan AI

Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat kabar teman, tetapi akhirnya justru merasa kehidupan sendiri berjalan terlalu lambat?

Ada teman yang baru saja lulus kuliah, teman lain mendapatkan pekerjaan impian, sementara seseorang yang kita kenal terlihat menikmati liburan di tempat yang selama ini ingin kita kunjungi. Di layar ponsel, kehidupan orang lain tampak berjalan begitu baik.

Tanpa disadari, kita mulai bertanya kepada diri sendiri: mengapa hidup saya belum seperti mereka?

Perasaan seperti ini cukup mudah muncul di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital. Kita bisa mengetahui pencapaian banyak orang hanya dalam beberapa menit. Namun, semakin banyak yang kita lihat, semakin mudah pula kita merasa tertinggal.

Media Sosial Membuat Kita Mudah Membandingkan Hidup

Media sosial memungkinkan seseorang membagikan berbagai momen penting dalam hidupnya. Mulai dari kelulusan, pekerjaan baru, hubungan asmara, hingga pencapaian finansial.

Masalahnya, apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh.

Kita mungkin melihat seseorang berhasil mendapatkan pekerjaan bagus, tetapi tidak mengetahui berapa lama ia mencari pekerjaan tersebut. Kita melihat orang lain menikmati liburan, tetapi tidak tahu bagaimana ia merencanakan keuangannya atau apa saja yang harus dikorbankan untuk mewujudkannya.

Kita membandingkan kehidupan sehari-hari yang kita jalani dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.

Perbandingan seperti ini tentu tidak selalu adil. Kita mengetahui kekhawatiran, kegagalan, dan masalah dalam kehidupan sendiri, tetapi hanya melihat bagian tertentu dari kehidupan orang lain.

Akibatnya, pencapaian orang lain bisa terlihat jauh lebih besar, sedangkan usaha yang sudah kita lakukan terasa tidak berarti.

Setiap Orang Memiliki Garis Waktu yang Berbeda

Salah satu alasan kita merasa tertinggal adalah karena sering menggunakan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri.

Ketika teman sebaya sudah memiliki pekerjaan tetap, kita mungkin merasa harus segera menyusul. Ketika orang lain mulai membeli rumah, kita merasa belum melakukan sesuatu yang berarti. Bahkan, ketika melihat teman menikah atau membangun keluarga, kita bisa mempertanyakan arah kehidupan sendiri.

Padahal, tidak semua orang memulai dari kondisi yang sama.

Ada orang yang mendapatkan dukungan finansial dari keluarga, ada yang harus membiayai pendidikan sendiri. Ada yang memiliki kesempatan untuk fokus mengembangkan karier, sementara yang lain perlu membagi waktu antara bekerja, belajar, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Perbedaan kondisi tersebut membuat perjalanan setiap orang tidak bisa dibandingkan secara sederhana.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki target atau belajar dari pencapaian orang lain. Namun, kita perlu memahami bahwa keberhasilan seseorang tidak otomatis menjadi batas waktu yang harus kita ikuti.

Hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama bagi semua orang.

Perasaan Tertinggal Bisa Membuat Kita Melupakan Kemajuan Sendiri

Ketika terlalu fokus melihat pencapaian orang lain, kita bisa kehilangan kemampuan untuk menghargai perkembangan diri sendiri.

Hal-hal kecil yang sebelumnya terasa berarti mulai terlihat biasa saja. Berhasil menyelesaikan kuliah sambil bekerja, mampu menyisihkan sebagian penghasilan, atau perlahan belajar mengelola keuangan mungkin terasa tidak istimewa ketika dibandingkan dengan pencapaian orang lain yang terlihat lebih besar.

Padahal, kemajuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa dipamerkan.

Ada perkembangan yang berlangsung secara perlahan dan tidak diketahui siapa pun. Kita mungkin belum memiliki pekerjaan impian, tetapi sudah lebih disiplin mengatur waktu. Kita mungkin belum memiliki banyak uang, tetapi mulai memahami pentingnya menabung dan menghindari utang yang tidak diperlukan.

Hal-hal seperti itu tetap memiliki nilai.

Jika ukuran keberhasilan hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki orang lain, kita akan terus menemukan seseorang yang terlihat lebih maju. Kepuasan pun menjadi sulit dicapai karena standar yang kita gunakan selalu berubah.

Apakah Kita Harus Berhenti Menggunakan Media Sosial?

Tidak selalu.

Media sosial juga bisa menjadi sumber inspirasi, pengetahuan, dan kesempatan. Melihat orang lain berhasil dapat mendorong kita untuk belajar, mencoba hal baru, atau menyusun tujuan yang lebih jelas.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita merespons apa yang kita lihat.

Jika sebuah unggahan membuat kita termotivasi untuk memperbaiki diri, kita bisa mengambil pelajaran darinya. Namun, jika kita terus merasa tidak berharga, cemas, atau kecewa terhadap kehidupan sendiri setelah melihat pencapaian orang lain, mungkin kita perlu mengevaluasi kebiasaan bermedia sosial.

Kita dapat mulai dengan mengurangi waktu melihat konten yang memicu perbandingan, memilih akun yang memberikan manfaat, dan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari media sosial.

Tujuannya bukan menghindari keberhasilan orang lain, melainkan menjaga agar kehidupan orang lain tidak menjadi satu-satunya ukuran bagi kehidupan kita.

Belajar Mengukur Kemajuan dengan Cara Sendiri

Daripada terus bertanya mengapa kita belum mencapai sesuatu yang sudah dimiliki orang lain, ada baiknya kita mulai bertanya tentang perkembangan diri sendiri.

Apa yang sudah berubah dalam beberapa bulan terakhir? Keterampilan apa yang sudah dipelajari? Kebiasaan apa yang berhasil diperbaiki? Apakah keputusan yang diambil saat ini sudah mendekatkan kita pada tujuan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita melihat kehidupan secara lebih realistis.

Kita juga bisa menentukan target berdasarkan kondisi yang sedang dihadapi. Seseorang yang baru mulai bekerja mungkin perlu memprioritaskan dana darurat. Orang yang masih kuliah mungkin lebih membutuhkan keterampilan dan pengalaman. Sementara itu, seseorang yang sedang menghadapi tekanan keluarga mungkin perlu mengatur ulang target agar tetap sesuai dengan kemampuannya.

Tidak semua orang harus mencapai hal yang sama pada usia yang sama.

Kita boleh memiliki ambisi besar, tetapi ambisi tersebut sebaiknya membantu kita berkembang, bukan menjadi alasan untuk terus merendahkan diri sendiri.

Bahagia Tidak Harus Berarti Lebih Unggul dari Orang Lain

Melihat orang lain bahagia seharusnya tidak membuat kita merasa kehilangan kesempatan untuk bahagia juga.

Seseorang bisa berhasil lebih dahulu dalam karier, sementara kita sedang membangun kemampuan. Orang lain mungkin sudah memiliki banyak hal secara materi, sementara kita sedang berusaha menciptakan kehidupan yang lebih stabil.

Keduanya dapat berjalan bersamaan tanpa harus menentukan siapa yang lebih berhasil sebagai manusia.

Kita tidak perlu mengecilkan pencapaian orang lain untuk menghargai perjalanan sendiri. Begitu pula sebaliknya, kita tidak harus meremehkan diri sendiri hanya karena orang lain sudah mencapai sesuatu yang belum kita miliki.

Pada akhirnya, perasaan tertinggal sering kali muncul ketika kita terlalu sibuk melihat ke mana orang lain melangkah, sampai lupa memperhatikan ke mana kita sendiri ingin pergi.

Kita boleh mengagumi keberhasilan orang lain, mengambil pelajaran dari perjalanan mereka, dan tetap memiliki keinginan untuk berkembang. Namun, kita juga perlu memberi diri sendiri waktu untuk bertumbuh.

Sebab, kehidupan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan bagaimana kita menjalani perjalanan dengan tujuan yang benar-benar kita pilih sendiri.