Oversharing di Media Sosial: Ekspresi Diri atau Kebutuhan Validasi?

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Akda Syamila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan media sosial telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya. Jika dahulu pengalaman pribadi hanya dibagikan kepada keluarga atau teman dekat, kini berbagai aspek kehidupan dapat dipublikasikan kepada ratusan bahkan ribuan orang hanya melalui satu unggahan. Aktivitas sehari-hari, hubungan percintaan, pencapaian akademik, masalah pekerjaan, kondisi kesehatan mental, hingga konflik keluarga sering kali menjadi bagian dari konten yang dibagikan di media sosial.
Fenomena ini melahirkan kebiasaan yang dikenal dengan istilah oversharing, yaitu kecenderungan membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada khalayak luas tanpa mempertimbangkan batasan privasi maupun dampak jangka panjangnya. Dalam beberapa tahun terakhir, oversharing menjadi fenomena yang semakin umum, terutama di kalangan Generasi Z dan pengguna media sosial yang aktif menggunakan platform seperti TikTok, Instagram, X, dan Threads.
Di satu sisi, media sosial memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan diri secara bebas. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji dari perspektif psikologi: apakah oversharing merupakan bentuk ekspresi diri yang sehat, atau justru mencerminkan kebutuhan akan validasi sosial yang semakin tinggi di era digital?
Media Sosial dan Perubahan Cara Individu Mengekspresikan Diri
Media sosial pada awalnya dikembangkan sebagai sarana untuk membangun koneksi sosial dan berbagi informasi. Namun seiring perkembangannya, platform digital tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan identitas diri. Individu dapat memilih bagaimana dirinya ingin dilihat oleh orang lain melalui foto, video, tulisan, maupun cerita yang dibagikan secara daring.
Dalam psikologi sosial, proses ini berkaitan dengan konsep self-presentation, yaitu usaha individu untuk menampilkan citra tertentu kepada lingkungan sosialnya. Menurut Erving Goffman, manusia pada dasarnya melakukan pengelolaan kesan (impression management) dalam kehidupan sosialnya. Individu cenderung menampilkan sisi diri yang dianggap positif dan sesuai dengan harapan sosial.
Di era media sosial, proses tersebut menjadi lebih kompleks. Pengguna tidak hanya berinteraksi dengan orang-orang terdekat, tetapi juga dengan audiens yang jauh lebih luas. Setiap unggahan dapat memperoleh respons dalam bentuk likes, komentar, shares, maupun jumlah tayangan yang secara langsung memberikan umpan balik terhadap apa yang dibagikan.
Kondisi ini membuat media sosial menjadi ruang yang sangat menarik bagi individu untuk berbagi pengalaman pribadi. Tidak sedikit pengguna yang merasa lebih nyaman menceritakan perasaannya melalui media sosial dibanding berbicara secara langsung dengan orang terdekat. Akibatnya, batas antara ruang privat dan ruang publik menjadi semakin kabur.
Ketika Berbagi Berubah Menjadi Oversharing
Pada dasarnya, berbagi pengalaman pribadi bukanlah sesuatu yang negatif. Dalam psikologi, pengungkapan diri (self-disclosure) bahkan dianggap sebagai salah satu cara membangun kedekatan interpersonal dan memperoleh dukungan sosial. Individu yang mampu mengungkapkan pikiran dan emosinya secara sehat cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dibanding mereka yang selalu menekan perasaannya.
Namun demikian, terdapat perbedaan antara self-disclosure yang sehat dan oversharing. Self-disclosure dilakukan secara proporsional, mempertimbangkan konteks, hubungan interpersonal, serta tujuan komunikasi. Sebaliknya, oversharing terjadi ketika individu membagikan informasi yang sangat personal, sensitif, atau emosional kepada audiens yang luas tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Contoh oversharing dapat berupa membagikan detail konflik rumah tangga, masalah hubungan romantis, pengalaman traumatis yang sangat pribadi, kondisi kesehatan yang sensitif, hingga curahan emosi yang intens secara berulang di media sosial. Dalam beberapa kasus, individu bahkan membagikan informasi yang sebenarnya lebih tepat didiskusikan dalam ruang yang aman bersama keluarga, sahabat, konselor, atau psikolog.
Fenomena ini semakin sering ditemukan karena media sosial memberikan ilusi kedekatan. Meskipun seseorang memiliki ribuan pengikut, tidak semua audiens tersebut memiliki hubungan emosional yang nyata dengannya. Namun karena interaksi digital terasa akrab, individu dapat merasa nyaman membagikan informasi pribadi kepada orang-orang yang sebenarnya tidak benar-benar dikenalnya.
Perspektif Psikologi: Mengapa Seseorang Melakukan Oversharing?
Terdapat berbagai faktor psikologis yang dapat mendorong seseorang melakukan oversharing di media sosial. Salah satu faktor yang paling sering dibahas adalah kebutuhan akan validasi sosial.
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan diakui oleh lingkungan. Menurut teori kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, kebutuhan akan penghargaan (esteem needs) merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang penting bagi individu. Media sosial menyediakan mekanisme yang memungkinkan kebutuhan tersebut dipenuhi secara cepat melalui jumlah likes, komentar, dan berbagai bentuk respons lainnya.
Ketika seseorang mengunggah cerita pribadi lalu menerima banyak dukungan dan perhatian, ia dapat merasakan perasaan dihargai dan diterima. Respons positif tersebut memicu pelepasan dopamin dalam sistem saraf, yang kemudian menciptakan sensasi menyenangkan. Akibatnya, individu terdorong untuk terus mengulangi perilaku yang sama demi memperoleh pengalaman emosional serupa.
Selain kebutuhan validasi, oversharing juga dapat muncul karena kebutuhan akan dukungan emosional. Individu yang sedang mengalami tekanan psikologis, kesepian, stres, atau konflik interpersonal sering menggunakan media sosial sebagai tempat mencari empati dan penguatan dari orang lain. Dalam kondisi tertentu, media sosial menjadi semacam "ruang curhat digital" yang dianggap lebih mudah diakses dibanding mencari bantuan profesional.
Penelitian yang diterbitkan dalam Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menunjukkan bahwa media sosial dapat berfungsi sebagai sumber dukungan sosial bagi individu yang mengalami tekanan psikologis. Namun manfaat tersebut sangat bergantung pada cara individu menggunakan media sosial dan kualitas interaksi yang diperoleh.
Faktor lain yang juga berperan adalah rendahnya batasan privasi digital. Banyak pengguna, khususnya remaja dan dewasa muda, belum sepenuhnya menyadari bahwa informasi yang dibagikan secara daring dapat bertahan dalam waktu yang lama dan sulit dihapus sepenuhnya. Akibatnya, mereka lebih mudah membagikan informasi pribadi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.
Dampak Positif dan Negatif Oversharing
Oversharing tidak selalu menghasilkan dampak yang negatif. Dalam beberapa situasi, berbagi pengalaman pribadi dapat membantu individu memperoleh dukungan sosial, mengurangi perasaan kesepian, dan meningkatkan kesadaran publik mengenai isu tertentu.
Misalnya, pengalaman seseorang yang berbagi cerita mengenai perjuangan menghadapi gangguan kecemasan atau depresi dapat membantu orang lain merasa tidak sendirian. Cerita tersebut juga dapat meningkatkan literasi kesehatan mental dan mengurangi stigma terhadap individu yang mengalami masalah psikologis.
Namun demikian, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran mengenai berbagai risiko yang mungkin muncul.
Salah satu risiko utama oversharing adalah hilangnya privasi. Informasi yang telah diunggah ke internet dapat disimpan, disebarluaskan, atau digunakan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan pemiliknya. Dalam beberapa kasus, informasi pribadi yang dibagikan secara berlebihan dapat memengaruhi hubungan sosial, reputasi profesional, bahkan keamanan individu.
Selain itu, oversharing juga dapat meningkatkan ketergantungan terhadap validasi eksternal. Ketika harga diri seseorang terlalu bergantung pada respons media sosial, maka kondisi emosionalnya menjadi rentan terhadap jumlah likes, komentar, atau perhatian yang diterima. Jika respons yang diperoleh tidak sesuai harapan, individu dapat mengalami kekecewaan, kecemasan, bahkan penurunan harga diri.
Dari perspektif kesehatan mental, kebiasaan oversharing juga dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus pencarian perhatian yang tidak berujung. Setiap pengalaman emosional menjadi dorongan untuk dipublikasikan, bukan diproses secara reflektif. Akibatnya, individu dapat kehilangan kemampuan untuk mengelola emosi secara mandiri tanpa bergantung pada respons orang lain.
Oversharing dan Budaya Validasi di Era Digital
Fenomena oversharing tidak dapat dilepaskan dari budaya validasi yang berkembang di media sosial. Dalam lingkungan digital, perhatian sering kali menjadi komoditas yang bernilai tinggi. Semakin banyak interaksi yang diperoleh suatu konten, semakin besar peluang konten tersebut mendapatkan jangkauan yang luas.
Kondisi ini membuat banyak orang secara tidak sadar mengukur nilai dirinya melalui respons yang diterima dari audiens. Pencapaian, hubungan, pengalaman emosional, bahkan kesedihan dapat berubah menjadi konten yang dipublikasikan untuk memperoleh pengakuan sosial.
Di sinilah muncul dilema antara ekspresi diri dan kebutuhan validasi. Tidak semua unggahan personal merupakan bentuk pencarian perhatian, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial telah menciptakan lingkungan yang mendorong individu untuk terus mencari pengakuan dari orang lain.
Padahal, kesehatan psikologis yang baik tidak hanya ditandai oleh kemampuan memperoleh validasi dari lingkungan, tetapi juga kemampuan memberikan validasi kepada diri sendiri. Individu yang memiliki penerimaan diri yang baik cenderung tidak terlalu bergantung pada respons eksternal untuk merasa berharga.
Membangun Pengungkapan Diri yang Sehat di Media Sosial
Di era digital, solusi bukanlah berhenti menggunakan media sosial, melainkan mengembangkan kesadaran dalam menggunakannya. Individu perlu memahami bahwa tidak semua pengalaman pribadi harus dibagikan kepada publik.
Sebelum mengunggah sesuatu, penting untuk mempertimbangkan beberapa pertanyaan sederhana: Apakah informasi ini aman untuk dibagikan? Apakah saya nyaman jika unggahan ini tetap ada beberapa tahun ke depan? Apakah saya membagikannya untuk tujuan yang jelas atau hanya karena sedang membutuhkan perhatian sesaat?
Selain itu, membangun ruang dukungan yang lebih personal juga penting. Tidak semua masalah memerlukan audiens yang luas. Dalam banyak situasi, berbicara dengan teman dekat, keluarga, konselor, atau psikolog dapat memberikan manfaat yang lebih besar dibanding mempublikasikan pengalaman pribadi kepada ribuan orang yang tidak dikenal.
Dengan demikian, media sosial dapat tetap menjadi sarana ekspresi diri yang sehat tanpa harus mengorbankan privasi maupun kesejahteraan psikologis.
Oleh: Akda Syamila. Dr.Rachmat Mulyono M.si,Psikolog
Referensi
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.
Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. https://doi.org/10.1037/h0054346
Fox, J., & Moreland, J. J. (2015). The Dark Side of Social Networking Sites: An Exploration of the Relational and Psychological Stressors Associated with Facebook Use and Affordances. Computers in Human Behavior, 45, 168–176. https://doi.org/10.1016/j.chb.2014.11.083
Lee-Won, R. J., Herzog, L., & Park, S. G. (2015). Hooked on Facebook: The Role of Social Anxiety and Need for Social Assurance in Problematic Use of Facebook. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 18(10), 567–574. https://doi.org/10.1089/cyber.2015.0002
Verywell Mind – Oversharing: Why We Do It and How to Stop
Psych Central – Oversharing and Emotional Boundaries
Hello Sehat – Dampak Oversharing di Media Sosial terhadap Kesehatan Mental
Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia – Literasi Digital dan Privasi di Media Sosial
