Fenomena FOMO di Kalangan Anak Muda: Mengapa Kita Takut Tertinggal?

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Dan Desain, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Akhdan Mahmud Sattar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di era digital, informasi bergerak begitu cepat. Hanya dengan membuka media sosial, seseorang dapat melihat teman yang sedang berlibur, meraih prestasi, menghadiri acara tertentu, atau mencoba tren terbaru. Di balik kemudahan mengakses informasi tersebut, muncul sebuah fenomena yang semakin sering dialami anak muda, yaitu Fear of Missing Out atau FOMO.

FOMO adalah perasaan takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau pencapaian yang sedang dialami orang lain. Perasaan ini membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti perkembangan agar tidak dianggap ketinggalan zaman atau berbeda dari lingkungan sekitarnya.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang memperkuat munculnya FOMO. Setiap hari, pengguna disuguhkan berbagai unggahan yang menampilkan sisi terbaik kehidupan orang lain. Tanpa disadari, hal ini mendorong seseorang untuk membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di layar. Ketika melihat teman berhasil mencapai sesuatu, muncul perasaan bahwa diri sendiri belum cukup baik atau belum melakukan hal yang sama.
Bagi banyak anak muda, FOMO tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup, tetapi juga pendidikan, karier, dan pencapaian pribadi. Melihat teman mendapatkan pekerjaan impian, lulus lebih cepat, atau memiliki usaha yang berkembang dapat menimbulkan tekanan untuk segera mencapai hal serupa. Akibatnya, seseorang menjadi lebih fokus pada perjalanan orang lain daripada menghargai proses yang sedang dijalaninya sendiri.
Padahal, setiap individu memiliki kondisi, kesempatan, dan tujuan hidup yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Tidak semua kesulitan, kegagalan, atau perjuangan ditampilkan kepada publik. Karena itu, membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna sering kali menghasilkan penilaian yang tidak adil terhadap diri sendiri.
Fenomena FOMO juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Rasa cemas, tidak puas, dan tekanan untuk selalu mengikuti tren dapat membuat seseorang sulit menikmati apa yang sudah dimiliki. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan rasa percaya diri dan membuat seseorang merasa terus tertinggal.
Mengatasi FOMO bukan berarti harus menjauhi media sosial sepenuhnya. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tidak semua hal harus diikuti, dan tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi standar hidup kita. Belajar fokus pada tujuan pribadi serta menghargai proses yang sedang dijalani dapat membantu mengurangi tekanan yang muncul akibat perbandingan sosial.
Pada akhirnya, ketakutan untuk tertinggal sering kali muncul karena kita terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain. Padahal, hidup bukanlah perlombaan yang mengharuskan semua orang tiba di garis akhir pada waktu yang sama. Setiap orang memiliki jalan dan cerita yang berbeda, dan itulah yang membuat setiap perjalanan hidup menjadi bermakna.
