Konten dari Pengguna

Maaf, Saya Ini 'Cepret'

Akhmad Baihaqie

Akhmad Baihaqie

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akhmad Baihaqie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa kesan anda jika saya memposting gambar di bawah ini?

Maaf, Saya Ini 'Cepret'
zoom-in-whitePerbesar

Dan bagaimana pendapat anda jika saya sebarkan tautan berita di bawah ini?

Maaf, Saya Ini 'Cepret' (1)
zoom-in-whitePerbesar

Sebagian akan menyebut saya cebong, sementara yang lain akan menyematkan label kampret kepada saya.

Maaf, bukan dua-duanya. Saya ini Cepret. Hibrida baru yang berusaha keluar dari kungkungan konstruksi identitas cetakan politik praktis kekinian di Indonesia.

Bermula dari pemilihan presiden tahun 2014, polarisasi massa semakin mengkristal dalam kontestasi pilkada DKI tahun 2017. Dikhawatirkan konsentrasi rivalitas akan mencapai puncaknya dan meletus pada pilpres 2019. Ini adalah wajah politik terkini bangsa kita.

Warna lensa kaca mata kita terbatas menjadi hitam dan putih, dan prilaku kita ditakar dalam spektrum baik dan buruk, nyinyir dan jilat, osin dan osan, dan berbagai kosakata lainnya yang terbatas dalam hitungan dua. Sementara dimensi dalam hidup ini berlapis-lapis dengan berbagai padatan yang beragam.

Bendera partai berwarna kuning, berteman dengan keturunan darah biru, bekerja di sebuah perusahaan berpelat merah, sementara istri gemar bergaun putih dan berkebun di ladang yang hijau.

Ilustrasi Pemilu. (Foto: Sabryna Putri Muviola/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pemilu. (Foto: Sabryna Putri Muviola/kumparan)

Bangsa Indonesia lebih besar dari yang kita bayangkan. Tengoklah torehan rekam jejak politik kita. Di tengah perdebatan sengit kaum nasionalis dan agamis kala menyusun konstitusi bangsa, terbesit gagasan Pancasila. Di tengah serunya perebutan pengaruh antara blok barat dan timur, ide gerakan non-blok mengagetkan banyak pihak. Kala situasi di kawasan Asia Tenggara mencekam, ASEAN muncul menjadi pendingin suasana.

Di dalam jiwa bangsa kita mengalir darah merah yang berani bersikap dan bertarung memperjuangkan nilai-nilai bijak dan adiluhur. Sebuah sikap yang dilandasi warna putih yang jujur, suci, dan penuh keikhlasan untuk kemaslahatan bersama. Di antara kedua warna yang membentuk bendera kita, terdapat garis imaginer tipis tegas yang merajut dengan harmonis kedua warna dominan tersebut. Inilah warna-warni bangsa kita.

Karenanya, bangsa besar ini perlu segera memunculkan alternatif-alternatif segar di tengah hingar bingar yang terus menggerus nalar. Kuncinya satu. Bahwa tidak ada yang sepenuhnya hitam, dan sepenuhnya putih. Kita bisa saling mengisi dan berbagi, untuk kemajuan bangsa dan negara.

Bukankah indahnya pemandangan adalah saat rembulan malam berpadu dengan sinar pagi? Itulah saat orang berbondong-bondong menikmati cahaya temaram di ufuk barat dan timur.

Teringat saya ucapan Cak Nun dalam lingkar maiyah, yang kurang lebih isinya “Kepada Iblispun saya belajar”. Butuh waktu lama untuk mencerna kalimat tersebut. Dengan penuh prasangka positif, saya menemukan jawabannya dalam sebuah puisi berikut.

Izinkan aku tertawa bersamamu Tuhan

Izinkan aku terpingkal pingkal melihat dagelan konyol Bani Adam

Aku... Hehehe.... Aku

Tuhan, aku tak kuasa menyempurnakan kalimatku

Aku bersabar menjadi sisi gelap dunia

Kau ciptakan skenario menelikung bagiku

Kau poles dengan buah kekekalan

Kau haramkan maut menjemputku

Kau cabut pangkat bintang yang pernah Kau sematkan kepadaku

Tuhan, segera angkat aku

Aku akan bersalawat kepadanya

Membuktikan cintaku dan ketundukanku kepadaMu

Bani Adam sudah tidak membutuhkanku

Mereka sudah menciptakan sisi gelap mereka sendiri

Kecerdasan mereka mengalahkan ilmu tipudayaku

Aku bahkan berkali kali tertipu oleh mereka

Mereka berlomba lomba menjadi aku

Menjadi aku...

Tuhan, aku menanti amarmu agar kembali ke langit atas

Tuhan, perkenan kiranya Kau Katakan “Kun”

Tuhan...

Mengapa engkau terdiam

Maafkan aku Tuhan

Ampuni aku Tuhan

Apakah aku melampaui batas?

Apakah guyonanku menyinggungMu?

Tuhan,

Kini aku mulai mengerti Tuhan

Aku akan setia menanti hingga akhir masa Bani Adam

Setidaknya, agar Bani Adam mau belajar kepadaku

Belajar setia menjadi manusia seutuhnya, sebagaimana aku setia menjadi Iblis