Konten dari Pengguna

Pantai Jonggring Saloko: Persemayaman Para Dewa di Selatan Jawa

Akhmad Daiva

Akhmad Daiva

Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akhmad Daiva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terinspirasi dari nama tempat bermukimnya para dewa-dewi kahyangan dalam kisah pewayangan Jawa, Pantai Jonggring Saloko yang terletak di Mentaraman, Donomulyo, Jawa Timur ini merupakan hidden gem yang layak Anda kunjungi. Meskipun jalan yang harus ditempuh menuju pantai ini cukup menantang, perjuangan Anda akan terbayar tunai oleh fenomena-fenomena alam seperti Watu Ngebros dan semacamnya di Pantai Jonggring Saloko. Tentunya, lika-liku jalur menuju pantai sekaligus pemandangan alamnya tidak luput dari perjalanan sejarah.

Pesona Pantai Jonggring Saloko di siang hari. Sumber: Dokumentasi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Pesona Pantai Jonggring Saloko di siang hari. Sumber: Dokumentasi penulis

Sejarah Pantai Jonggring Saloko berada dalam satu alur dengan sejarah budaya Larung Sesaji dan Desa Mentaraman itu sendiri. Bermula pada tahun 1800-an, seorang pertapa bernama Mbah Soekaryo yang berasal dari Mataram, Jawa Tengah memutuskan untuk bermukim di daerah sekitar Donomulyo. Dirinya juga melakukan pemugaran hutan (babat alas) guna membuka jalan menuju sumber daya-sumber daya alam yang baru. Sepuluh tahun kemudian, orang-orang dari Mataram turut menyusul beliau untuk tinggal di sekitar Donomulyo dan melakukan babat alas lebih jauh lagi untuk membangun sebuah pemukiman yang layak.

Akan tetapi, setelah beberapa puluh tahun berselang, pemukiman tersebut dilanda wabah penyakit yang fatal. Dikisahkan bahwa orang-orang yang terjangkit wabah di pagi hari dapat dipastikan meninggal di sore harinya. Berbekal tekad menyembuhkan warganya, Mbah Soekaryo akhirnya bertapa di Gunung Kaindran. Dirinya mendapatkan ilham bahwa masyarakatnya bisa sembuh apabila mereka menghanyutkan hasil alam mereka ke laut sebagai sedekah/persembahan (larung sesaji).

Akhirnya, Mbah Soekaryo bersama dengan warganya mengumpulkan hasil panen mereka dan membawanya ke pesisir pantai terdekat. Setelah sampai, mereka menghanyutkan hasil panen tersebut ke arah laut. Pantai tempat larung sesaji diadakan tersebut dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa-dewi kahyangan yang membawa berkah bagi warga yang memberikan persembahan. Karenanya, pantai tersebut diberi nama Jonggring Saloko. Tempat bermukimnya Mbah Soekaryo dan warganya kemudian diberi nama Desa Mentaraman, sebab orang-orang perintis desa tersebut berasal dari Mataram, Jawa Tengah.

Lanskap pesisir Pantai Jonggring Saloko di sore hari. Sumber: Dokumentasi penulis

Menilik dari sejarah tersebut, tidak salah apabila pantai ini dilabeli sebagai tempat berkumpulnya dewa-dewi kahyangan Jawa. Di setiap sudut Pantai Jonggring Saloko, pengunjung bisa menemukan pemandangan yang layak diabadikan dalam foto. Salah satunya adalah spot Watu Ngebros, yakni sebuah “ngarai” mini yang diapit oleh dua bukit karang besar di pantai tersebut. Arus dari laut terpecah menjadi dua dan bergabung kembali di bawah apitan kedua karang tersebut sehingga menimbulkan semburan air ke atas (ngebros). Konon, di sore hari, bunyi air yang menyemprot dari bawah karang terdengar seperti nyanyian alam di telinga para pengunjung. Gunung Kaindran tempat Mbah Soekaryo dulu betapa juga masih ada di pinggiran pantai tersebut—memberi opsi tambahan bagi para pengunjung yang berjiwa petualang.

Saat ini, Pantai Jonggring Saloko dirawat oleh masyarakat Desa Mentaraman bersama dengan Perhutani, tokoh keagamaan, serta kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) di desa tersebut. Tidak ada biaya yang dipungut untuk mengunjungi kawasan Pantai Jonggring Saloko. Pada tanggal-tanggal tertentu, seperti pada tanggal 15 Muharram, kerap diadakan ritual keagamaan seperti larung sesaji untuk mengenang perjalanan tapa Mbah Soekaryo sekaligus memberkati hasil bumi warga Desa Mentaraman. Acara-acara tersebut seringkali turut dimeriahkan oleh pedagang dan pegiat budaya lokal, seperti bantengan, jaranan, bahkan pementasan wayang. Karenanya, banyak hidangan hiburan yang bisa dicicip oleh pengunjung Pantai Jonggring Saloko selain pemandangan laut yang jernih dan sabana terumbu karang yang membentang sepanjang garis pantai.