Hidden Gems Village: Mahasiswa UMY Riset Potensi Wisata Sejarah Dusun Wotawati

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Akhmad Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fenomena pengembangan wisata sejarah ini menarik perhatian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk melakukan riset mendalam yang berjudul “Hidden Gems Village: Eksplorasi Potensi Peninggalan Kerajaan Mataram Berbasis Historical and Heritage Tourism Guna Mendukung Pengembangan Pariwisata di Dusun Wotawati”. Riset ini berhasil lolos seleksi Program Program Kreativitas Mahasiswa Skema Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025 dan memperoleh pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Tim ini diketuai oleh Alya Fitri Aulia (Ilmu Pemerintahan 2024) yang beranggotakan Monica Resty Patria (Ilmu Pemerintahan 2024), Nizza Ikhtira (Hubungan Internasional 2024), Rega Septiana Rahmatya (Hubungan Internasional 2024), dan Rania Revalina Putri Utomo (Hubungan Internasional 2024). Riset ini juga tidak terlepas dari dampingan langsung bapak Dr. phil. Anwar Kholid, S.IP., M.IP. selaku dosen pendamping.
Alya Fitri Aulia selaku ketua tim riset mengungkapkan bahwa ide riset ini berawal dari media sosial dan media massa yang viral membahas Dusun Wotawati. Ramainya perbincangan mengenai hal tersebut menjadi pemantik untuk melihat lebih jauh dan memunculkan premis: Mengapa Dusun Wotawati tersebut bisa viral, sedangkan itu hanya sebuah kawasan yang tidak jauh berbeda dengan kawasan lainnya?
“Viralnya Dusun Wotawati tersebut membuat kami tertarik dan memulai mencari berbagai informasi. Kami menemukan bahwa disitu merupakan daerah kecil yang sangat jauh dari perkotaan tetapi sedang dilakukan pengembangan wisata sejarah dan budaya. Setelah berdiskusi dengan anggota tim, akhirnya kami sepakat untuk menjadikan fenomena tersebut sebagai objek riset untuk mendukung pengembangan wisata sejarah dan budaya tersebut,” ungkap Alya saat diwawancarai, Selasa (26/8).
Tim ini kemudian melakukan observasi pra-riset untuk melihat secara langsung kondisi eksisting di Dusun Wotawati. Kami bertemu dengan kepala dusun dan penjaga warisan (mbah kunci) yang menjelaskan sejarah Dusun Wotawati.
“Selama disana kami banyak belajar terkait warisan sejarah dan budaya. Secara geografis memang sangat jauh dari perkotaan, tetapi Dusun Wotawati itu tidak terlepas dari peradaban masa lampau. Garis keturunan masyarakat disana masih erat kaitannya dengan Kerajaan Mataram dan Majapahit. Lokasi yang mereka tinggali saat ini juga berada di lembah pegunungan dari jejak aliran Sungai Bengawan Solo Purba. Selain itu, memiliki indikasi kuat terkait historis peradaban, peninggalan, dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun,” jelas Alya.
Melihat potensi keunikan yang sangat besar, membuat tim ini semakin yakin untuk melakukan riset di Dusun Wotawati. Riset yang dilakukan memiliki dua tujuan utama yaitu mengidentifikasi potensi di Dusun Wotawati yang dapat dikembangkan menjadi heritage and historical tourism dan menganalisis partisipasi stakeholders dalam pengembangan potensi pariwisata berbasis heritage and historical tourism di Dusun Wotawati. Kemudian, dari hasil riset tersebut akan dilakukan perumusan strategi pengembangan pariwisata berbasis heritage and historical tourism di Dusun Wota Wati yang bertujuan agar memiliki keberlanjutan dalam pengembangan wisata.
“Potensi ini sangat besar dan memerlukan kolaborasi multi-aktor. Melaui riset ini, kami berupaya untuk mengidentifikasi potensi dan stakeholders agar nantinya dapat dilakukan perumusan strategi pengembangan pariwisata yang melibatkan berbagai aktor. Harapannya agar terciptanya keberlanjutan dari pembangunan dan bukan hanya sebagai seremoni semata,” tutur Alya.
Dosen pendamping, Dr. phil. Anwar Kholid, S.IP., M.IP., sangat mengapresiasi tim ini yang coba mengangkat topik yang sangat kompleks dengan mengintegrasikan aspek sejarah, sosial, dan kebijakan publik. Riset ini tidak hanya penting secara akademis, tetapi juga memiliki dampak praktis.
“Harapannya hasil riset ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan aktor lainnya dalam membangun desa wisata berbasis kearifan lokal. Semoga ini menjadi langkah awal dalam mendorong Dusun Wotawati sebagai salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Gunungkidul yang sejalan dengan visi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dalam mengembangkan wisata budaya dan sejarah,” jelas Anwar Kholid.
