Mahasiswa UMY Riset Suku Dayak Kenyah dalam Mendukung Kesetaraan Gender

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Akhmad Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menembus hutan kalimantan untuk melakukan riset Suku Adat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Hal ini dikarenakan Suku Dayak Kenyah yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan gender yang justru menarik atensi dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk melakukan riset mendalam dengan judul “Counter-Hegemony: Eksplorasi Nilai-Nilai Women Empowerment Suku Dayak Kenyah Melalui Konsep Gender Equity Guna Mendobrak Hegemoni Patriarki dalam Mendukung Pembangunan Desa”.
Riset ini berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih pendanaan riset dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui seleksi Program Kreativitas Mahasiswa Skema Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025.

Tim ini diketuai oleh Indra Kusuma Putra (Ilmu Pemerintahan 2024) yang beranggotakan Nabila Chantika Aulia Dewi (Ilmu Pemerintahan 2024), Muhammad Widzar Mumtaz Syah (Ilmu Pemerintahan 2024), Resa Puspita (Ilmu Komunikasi 2023), dan Suko Raharjo (Ilmu Komunikasi 2024). Riset ini mendapatkan pendampingan langsung oleh ibu Dr. Dian Eka Rahmawati, S.IP., M.Si. selaku dosen pendamping.
Indra Kusuma selaku ketua tim menjelaskan bahwa saat ini PKM 2025 sangat kompetitif. Pada tahun ini skema PKM-RSH terdaftar sebanyak 4.708 proposal dan yang diterima mendapatkan pendanaan hanya 293 proposal. Sedikitnya proposal yang diterima ini dikarenakan adanya kondisi efisiensi anggaran yang menjadi tantangan bagi pemerintah dalam melaksanakan program ini. Sedangkan, PKM sendiri sudah menjadi altar candradimuka kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam melakukan riset dasar dan riset terapan dalam memberikan dampak baik secara teoritis maupun praktis.
“Awalnya kami sangat khawatir PKM tahun ini batal karena informasi pendaftaran proposal sangat tertunda berbulan-bulan dari jadwal yang seharusnya. Ketika ada informasi pendaftaran proposal PKM kami akhirnya submit dan kita sempat deg-degan menunggu pengumuman proposal. Ketika pengumuman dan melihat nama tim kami berhasil mendapatkan pendanaan rasanya sangat kaget dan bangga bisa terpilih diantara ribuan mahasiswa dari seluruh Indonesia,” ujar Indra saat diwawancarai, Selasa (2/9).
Pemilihan lokasi di Kalimantan bukan tanpa alasan. Pulau dengan hutan hujan tropis terbesar ketiga dunia ini merupakan intan permata sosial-budaya yang masih banyak menyimpan banyak misteri. Salah satunya adanya Suku Dayak Kenyah yang masih memiliki berbagai kearifan lokal yang menerapkan nilai-nilai gender equity yang dapat mendukung suatu pembangunan desa.
“Riset kami itu tujuan awalnya untuk menggali nilai-nilai women empowerment Suku Dayak Kenyah guna mewujudkan keseimbangan gender roles dalam pembangunan desa. Kemudian, dilakukan identifikasi dampak modernisasi pembangunan desa terhadap eksistensi kearifan lokal Suku Dayak Kenyah. Terakhir, akan menelaah bentuk counter-hegemony nilai-nilai women empowerment Suku Dayak Kenyah terhadap hegemoni patriarki di pedesaan yang dapat mendukung pembangunan desa” jelas Indra.
Riset ini diharapkan mampu berkontribusi pada kebijakan yang dapat dikonstruksi oleh pemerintah dalam rangka membangun desa yang lebih adil adil, partisipatif, dan kontekstual terhadap kearifan lokal. Hasil riset dapat digunakan untuk mengembangkan suatu strategi counter-stereotype di tengah hegemoni patriarki dalam mendukung pembangunan desa berbasis gender.
Tak lepas dari dukungan sang dosen pendamping, ibu Dr. Dian Eka Rahmawati, S.IP., M.Si. selaku dosen pendamping sangat senang tim ini berhasil lolos seleksi PKM 2025. Riset ini ini sangat menarik karena mereka menggali budaya lokal yang menempatkan perempuan di posisi-posisi yang terdepan di dalam kehidupan sosial budaya.
“Saya sebagai dosen pembimbing, tentu bangga dengan tim ini, mereka punya potensi, effort, manajemen waktu, dan teamwork yang bagus. Saya berharap kepada anak-anak agar mereka bisa lolos ke Pimnas 2025. Tetap Semangat, kerja cerdas, jaga kekompakan dan jaga kesehatan. Bersama kita bisa, kita upayakan dan kita doakan.” ujar Dian.
