Konten dari Pengguna

Ketika Pikiran Negatif Datang, Jangan Biarkan Dia Mengambil Kendali

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akhmad Sugandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengelola pikiran, menjaga harapan, dan tetap melangkah di tengah setiap tantangan. Sumber: DALL-E
zoom-in-whitePerbesar
Mengelola pikiran, menjaga harapan, dan tetap melangkah di tengah setiap tantangan. Sumber: DALL-E

Dalam kehidupan, tidak semua hari berjalan seperti yang kita rencanakan. Ada masa ketika pekerjaan terasa berat, target belum tercapai, persoalan keluarga datang bersamaan, atau masalah pribadi memenuhi kepala. Pada saat seperti itulah pikiran kita sering bekerja lebih cepat daripada kenyataan.

“Sepertinya keadaan akan semakin buruk.”

“Saya tidak sanggup melewati ini.”

“Kenapa masalah selalu datang kepada saya?”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita. Itu manusiawi. Persoalannya bukan semata-mata karena pikiran negatif muncul, tetapi ketika kita mulai menganggap setiap pikiran negatif sebagai sebuah kebenaran.

Psikolog Aaron T. Beck melalui teori kognitifnya menjelaskan bahwa cara seseorang menafsirkan suatu peristiwa mempunyai hubungan erat dengan emosi dan perilakunya. Dua orang dapat menghadapi masalah yang sama, tetapi memberikan respons yang berbeda karena cara mereka memaknai masalah tersebut juga berbeda.

Inilah yang penting kita pahami, terutama ketika berada dalam organisasi, perusahaan, keluarga, maupun kehidupan pribadi.

Kesulitan adalah fakta. Tetapi kesimpulan bahwa “semuanya akan gagal” belum tentu fakta.

Masalah memang ada. Tetapi pikiran bahwa “tidak ada lagi jalan keluar” adalah interpretasi kita terhadap masalah itu.

Penelitian psikologi juga mengenal istilah negativity bias, yaitu kecenderungan manusia memberikan perhatian lebih besar kepada informasi negatif dibandingkan informasi positif. Akibatnya, satu persoalan dapat terasa jauh lebih besar dibandingkan berbagai hal baik yang sebenarnya masih kita miliki.

Dalam organisasi, misalnya, kita terkadang terlalu lama memikirkan satu target yang belum tercapai hingga lupa bahwa masih ada banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Kita melihat kekurangan seseorang, tetapi melupakan kontribusinya. Kita menghadapi satu hambatan, kemudian pikiran melompat terlalu jauh seolah seluruh perjalanan akan berakhir buruk.

Di sinilah kita perlu belajar mengendalikan pikiran.

Mengendalikan pikiran bukan berarti menolak kenyataan. Berpikir positif juga bukan berarti mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja ketika memang sedang ada persoalan.

Berpikir positif adalah kemampuan melihat persoalan secara jernih tanpa membiarkan ketakutan mengambil alih penilaian kita.

Ketika pikiran negatif muncul, cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah yang saya pikirkan ini benar-benar fakta? Apakah ada kemungkinan lain? Apa yang masih dapat saya lakukan? Apa yang berada dalam kendali saya hari ini?

Dalam psikologi, kemampuan mengambil jarak dari pikiran seperti ini dikenal sebagai decentering. Kita belajar melihat pikiran sebagai pikiran, bukan otomatis sebagai kenyataan.

Daripada mengatakan, “Saya gagal,” kita bisa mengatakan, “Ada sesuatu yang belum berhasil dan saya perlu memperbaikinya.”

Daripada berpikir, “Organisasi ini sedang menghadapi masalah besar,” kita dapat mengubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang dapat kita lakukan bersama untuk memperbaiki keadaan?”

Perubahan kalimat terlihat sederhana, tetapi perubahan cara berpikir dapat mengubah energi sebuah tim.

Sebagai orang yang belajar manajemen dan administrasi publik, saya semakin memahami bahwa organisasi tidak hanya dibangun oleh strategi, struktur, anggaran, dan sistem. Organisasi juga dibangun oleh manusia. Dan kualitas sebuah organisasi sangat dipengaruhi oleh bagaimana manusia di dalamnya berpikir ketika menghadapi tekanan.

Bagi keluarga besar dan kawan-kawan seperjuangan, saya ingin kita memelihara satu keyakinan: kesulitan bukan alasan untuk kehilangan harapan.

Kita tidak harus selalu kuat. Kita boleh merasa lelah, kecewa, bahkan khawatir. Namun jangan biarkan satu masa sulit membuat kita menyimpulkan bahwa seluruh perjalanan kita buruk.

Jika hari ini ada masalah, selesaikan masalah hari ini. Jika ada yang perlu diperbaiki, mari kita perbaiki. Jika membutuhkan bantuan, jangan ragu berbicara dengan orang yang kita percaya.

Karena sering kali yang membuat perjalanan terasa terlalu berat bukan hanya masalah yang sedang kita hadapi, tetapi cerita negatif yang terus kita ulang di dalam pikiran.

Hidup, keluarga, dan organisasi akan selalu memiliki tantangan. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan semua keadaan, tetapi kita selalu memiliki ruang untuk memilih bagaimana meresponsnya.

Dan terkadang, perubahan besar memang dimulai dari satu hal yang sangat sederhana: mengubah cara kita memandang sebuah keadaan.