Menjejaki Asal-Usul Tempat di Jakarta

Ahmad Baihaki
Seorang peminat bahasa, Aki tengah mencari jati diri sebagai orang Betawi setelah 20 tahun tinggal di luar negeri. Ia lahir di Kebon Jeruk, Jakarta.
Konten dari Pengguna
18 April 2018 13:52 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Baihaki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Sebagai peminat linguistik, justru sejarah pembentukan kata lebih menarik untuk saya. Dan terkadang ini tidak luput dari nyerempet sedikit ke sejarah tempat atau orang-orang sesungguhnya. Terutama saat ini saat saya sedang mencari tahu banyak tentang Betawi dan Jakarta.
ADVERTISEMENT
Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta (Rachmat Ruchiat, 2018) menyajikan puluhan nama tempat di Jakarta beserta perkembangannya dari abad ke-15 hingga ke-20. Selain menuturkan asal-usul nama, Ruchiat juga menambahkan kisah sejarah menarik tentang tempat-tempat tersebut.
Ruchiat sendiri dalam buku ini mengawali dengan disclaimer atau wanti-wanti bahwa dirinya ‘hanyalah’ penggemar cerita sejarah, bukan sejarawan. Namun terlihat sekali beliau banyak membaca buku dan mencari sumber untuk menulis buku ini.
Gaya penulisan dan penyampaian juga menarik dan tidak membosankan. Alhasil, buku ini tidak seperti buku pelajaran sejarah di sekolah dulu. Satu kisah tempat pun pendek dan tidak dibuat bertele-tele, kebanyakan hanya setengah halaman.
Beberapa pembentukan nama tempat di buku ini berbeda dengan buku Folklore Betawi: Kebudayaan & Kehidupan Orang Betawi (Abdul Chaer) dan buku Glosari Betawi (Ridwan Saidi). Patut diketahui bahwa Chaer dan Saidi adalah ahli bahasa (dan budayawan) Betawi jadi wajar sudut pandang utama mereka diambil dari segi pembentukan bahasa..
ADVERTISEMENT
Uniknya, saat membaca buku ini saya juga memegang dua buku yang saya sebutkan di atas untuk membandingkan perbedaan penamaan beberapa tempat.
Contoh yang paling mendasar adalah Ancol yang dijelaskan artinya oleh Ruchiat persis dengan penjelasan Chaer dan Saidi. Namun untuk Angke, Ruchiat gagal menjelaskan asal-usul pembentukan nama tempat dari bahasa kawi an (air) dan ke (dalam). Hanya Saidi yang membahas mengenai salah kaprah asal-usul Angke yang dikaitkan dengan pembantaian etnis Tionghoa oleh Belanda di 1740.
Saya pernah membaca versi Zainudin HM (2012) yaitu nama Angke berasal dari bahasa China yang merupakan gabungan ang yang artinya darah dan ke artinya bangkai untuk merujuk ke peristiwa pembantaian 1740 tersebut. Namun bantahan Saidi yang paling masuk akal karena Pangeran Tubagus Angke sudah ada sebelum peristiwa itu.
ADVERTISEMENT
Ruchiat sendiri mempersembahkan beberapa versi yang ada di masyarakat untuk suatu tempat agar mungkin pembaca dapat menarik kesimpulan sendiri. Misalnya Roa/Rua Malaka yang dipaparkan dua versinya: Rawa Malaka (tempat berawa-rawa penuh pohon Malaka) atau tempat prajurit Portugis yang datang dari Malaka.
Jika Anda pengamat bahasa, Anda mungkin melihat konsistensi nama-nama tempat di Jakarta berawalan Rawa tidak ada yang diluluhkan menjadi Roa. Dan jika Anda mengetahui bahasa Portugis, Rua artinya ‘jalan’. Jadi kisah yang kedua lebih masuk akal untuk saya. Tapi siapa tahu orang Portugis kebetulan menyebut nama itu supaya pas dengan bahasa mereka?
Perbedaan di atas sebenarnya tidak dipermasalahkan Chaer karena ia mengacu pada prinsip bahwa semua asal-usul nama tempat itu adalah folklor atau adat-istiadat yang diturun-temurunkan tanpa dokumentasi tertulis. Pengarangnya tidak diketahui dan oleh karenanya wajar timbul beberapa versi akibat misalnya salah dengar. (baca resensi buku ini di Betawi Tinggal Folklor)
ADVERTISEMENT
Yang pasti bukan folklor dalam buku ini adalah catatan sejarah yang dirangkum oleh Ruchiat yang menunjukkan kekayaannya hasil membaca buku-buku catatan sejarah. Ini tidak didapatkan di dua buku Chaer dan Saidi di atas. Tak kurang buku-buku ini kebanyakan berbahasa Belanda dan tulisan Belanda di buku ini tidak ada satu pun yang salah eja.
Buku ini penting untuk menambah api kehidupan folklor, sejarah dan asal-usul Jakarta yang sudah jarang sekali dibahas. Saya sarankan juga membaca buku lain seperti tulisan Chaer dan Saidi untuk membandingkan pandangan berbeda, utamanya dari segi pembentukan bahasa.
Buku ini diterbitkan unik dwibahasa dalam satu jilid. Jika dibalik ada versi bahasa Inggrisnya. Di versi Inggrisnya, ada beberapa kesalahan yang teramat kecil dalam segi tata bahasa tapi tidak memberikan masalah kepada pembaca untuk memahami isinya. Sangat cocok diberikan sebagai kado bagi orang luar (negeri) yang ingin tinggal dan mengetahui sejarah ( tempat) Jakarta.
ADVERTISEMENT
Semakin jarangnya mendapat buku-buku bermutu mengenai sejarah Jakarta dan Betawi, saya hanya mendapatkan buku ini di Komunitas Bambu bukukomunitasbambu.com.
Judul: Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta / The Origin of the Place Names in Jakarta Pengarang: Rachmat Ruchiat Penerbit: Masup Jakarta Tahun terbit: Maret 2018 (terbitan pertama versi dwi bahasa, yg diresensi) / 2012 (versi asli) Halaman: 136 (versi Indonesia) + 124 (versi bahasa Inggris) / Total 260 / Soft cover