Mendorong Inovasi Pembelajaran Sejarah: UPI dan MGMP Selenggarakan Pelatihan

Mahasiswa tahun kedua program Master Pendidikan di CCU, Taiwan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nour Muhammad "Akim" Adriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Deep Learning dan PjBL untuk Guru-guru di Bogor Raya

Bandung, 23 Mei 2025 — Transisi besar dalam dunia pendidikan Indonesia sedang berlangsung. Pascapandemi COVID-19, pemerintah memperkenalkan Kurikulum Merdeka sebagai respons terhadap tantangan literasi, kesenjangan teknologi, dan keterampilan abad ke-21. Namun, perubahan ini tidak dapat berhasil tanpa peran sentral guru sebagai pelaksana utama. Apalagi dengan perubahan kepemimpinan nasional, terdapat penyesuaian-penyesuaian baru paradigma kebijakan Pendidikan. Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kota dan Kabupaten Bogor menggelar program pelatihan dan penyegaran guru sejarah dalam skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Hibah Kompetitif LPPM UPI tahun 2025.
Mengusung tema “Penerapan Deep Learning dan Project-Based Learning dalam Kurikulum Merdeka untuk Guru Sejarah”, kegiatan ini diselenggarakan dalam dua moda: luring dan daring. Sesi luring berlangsung pada 14 Mei 2025 di Aula SMA Negeri 1 Kota Bogor, sementara sesi daring dalam bentuk webinar nasional dilaksanakan selama dua hari, 22–23 Mei 2025.
________________________________________
Membaca Akar Permasalahan: Pendidikan Sejarah Pasca Disrupsi Global
Pandemi telah mengubah cara guru dan siswa berinteraksi. Sekolah-sekolah menghadapi penurunan minat belajar, lemahnya keterampilan berpikir kritis, dan keterbatasan interaksi sosial. Data terbaru menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil belajar dikalangan siswa. Dalam konteks ini, Kurikulum Merdeka bukan sekadar kebijakan baru, sehingga setelah hamper 5 tahun berlaku pemerintah memberikan penekanan lain melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning. Permasalahannya, banyak guru sejarah di daerah masih belum familiar dengan pendekatan-pendekatan seperti deep learning ini bahkan masih meraba-raba dalam menerapkan Kurikulum Merdeka sebelumnya.
Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk:
• Menguatkan pemahaman guru mengenai pembelajaran yang bermakna dan kontekstual.
• Memberikan pengalaman langsung dalam merancang pembelajaran sejarah berbasis proyek.
• Mendorong integrasi keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, komunikatif, dan kreatif.
• Menjembatani kesenjangan akses teknologi dan sumber belajar digital.
• Menumbuhkan komunitas belajar profesional lintas sekolah.
________________________________________
Sesi Luring: Praktik Langsung, Simulasi, dan Kolaborasi
Sesi luring yang berlangsung pada Selasa, 14 Mei 2025 di Aula SMA Negeri 1 Kota Bogor, dihadiri oleh 40 guru Sejarah yang dipilih dan diundang untuk mewakili sekolah-sekolah di Kota dan Kabupaten Bogor. Kegiatan ini berlangsung secara aktif dan interaktif, dimulai dengan pemaparan dari Labibatussolihah, M.Pd., dosen Pendidikan Sejarah UPI sekaligus Ketua Tim PkM. Ia memperkenalkan kerangka berpikir deep learning yang tidak hanya menekankan hafalan, tetapi justru pemaknaan sejarah melalui pendekatan kritis dan reflektif. Bu Labibah memberikan alternatif model pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning (PjBL) sebagai cara menerapkan pembelajaran mendalam sebagaimana diharapkan.
Selanjutnya, Widdy Nuril Ahyar, S.Pd., M.Hum., dari MGMP Sejarah Kota Bogor, memberikan sesi berbagi pengalaman baik. Para peserta diajak mendiskusikan isu-isu pembelajaran di sekolah masing-masing dan mencari cara untuk mengatasinya. Pak Widdy sebagai guru muda dan aktif dalam pengembangan karir guru mendorong kontekstualisasi Pelajaran Sejarah dengan situasi dan kondisi di daerah masing-masing, menyusunnya menjadi proyek belajar sejarah yang mengaitkan peristiwa masa lalu dengan realitas kehidupan lokal siswa saat ini.
Atmosfer kolaboratif yang tercipta membuat pelatihan ini menjadi ruang belajar yang menyegarkan. Para guru mengapresiasi metode simulasi dan diskusi kelompok yang memungkinkan mereka mengevaluasi sekaligus memperbaiki rencana pembelajaran yang biasa mereka gunakan.
________________________________________
Sesi Daring: Ruang Inspirasi Digital dan Interkoneksi Nasional
Sesi daring dilaksanakan dalam bentuk webinar selama dua hari berturut-turut pada 22–23 Mei 2025. Webinar ini dibuka oleh Dr. Bagja Waluya, M.Pd., Wakil Dekan III FPIPS UPI, yang menekankan pentingnya kesinambungan antara riset akademik dan praktik pembelajaran di lapangan. Kegiatan daring ini tidak hanya diikuti oleh guru dari Bogor Raya, melainkan juga dari berbagai provinsi seperti Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan D.I. Yogyakarta, dengan jumlah peserta aktif mencapai lebih dari 90 orang per sesi.
Hari pertama diawali dengan pemaparan dari Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed., Guru Besar Pendidikan IPS UPI, yang membedah paradigma Merdeka Belajar secara tajam—mencakup kelebihan dan tantangannya. Ia juga mengaitkan kebijakan pendidikan ini dengan Asta Cita dan pentingnya pendidikan berkelanjutan. Menurutnya, guru sejarah perlu menjadi fasilitator pembelajaran yang memerdekakan, bukan sekadar pengajar isi.
Selanjutnya, Dr. Tarunasena, M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan Sejarah FPIPS UPI, memperkenalkan pendekatan deep learning dalam konteks sejarah. Ia menekankan bahwa sejarah sebagai mata pelajaran seharusnya membantu siswa berpikir dalam kerangka sebab-akibat, memahami perubahan sosial, serta mengembangkan kesadaran historis secara mendalam.
Sesi ditutup oleh Syarah Nurul Fazri, M.A., yang mengangkat isu literasi sejarah dan media digital. Menurutnya, guru sejarah di abad ke-21 harus mampu mengolah sumber-sumber digital dan teknologi edukasi untuk menumbuhkan minat siswa serta membangun keterampilan literasi yang lebih luas dari sekadar teks buku pelajaran.
Hari kedua webinar tidak kalah menarik. Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd. berbicara mengenai pentingnya kontekstualisasi pembelajaran sejarah agar siswa merasa terhubung secara emosional dan sosial dengan materi yang dipelajari. Ia mendorong guru untuk menjadikan isu lokal dan narasi minoritas sebagai bagian dari bahan ajar.
Dr. Yeni Kurniawati S., M.Pd., mengupas secara rinci penerapan PjBL dalam pembelajaran sejarah. Ia menjelaskan bahwa model ini memberikan ruang bagi siswa untuk bertindak sebagai peneliti, pencipta narasi, dan aktor sosial yang aktif, bukan sekadar penerima informasi.
Tantangan dan Harapan: Testimoni terkait Kegiatan
Ketua MGMP Sejarah Kota Bogor, Bu Hesti Dwi Rachmawati, S.Hum., M.Pd., menyampaikan kesan mendalam atas keberhasilan kegiatan ini:
“Pelatihan ini benar-benar membuka wawasan kami. Bukan hanya tentang bagaimana mengajar sejarah, tetapi bagaimana menjadikan sejarah sebagai alat membangun karakter dan daya pikir siswa. Para narasumber sangat inspiratif dan mampu menerjemahkan teori ke praktik nyata. Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut, bahkan meluas.”
Selain itu, sejumlah peserta menyampaikan bahwa mereka jarang mendapatkan pelatihan sejarah yang secara spesifik membahas penerapan Kurikulum Merdeka dan teknologi digital secara bersamaan. Pak Robi, guru Sejarah di SMA IT Ummul Quro Kota Bogor menyampaikan sangat senang bisa ikut berpartisipasi dalam pelatihan ini dan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan lebih banyak ke depannya.
Kegiatan pelatihan ini tidak hanya memberikan penguatan kapasitas teknis bagi para guru sejarah, tetapi juga memicu refleksi dan transformasi dalam cara pandang terhadap pembelajaran sejarah. Seluruh peserta yang mengikuti rangkaian kegiatan dan menyelesaikan tugas akan memperoleh sertifikat 32 Jam Pelajaran (JP) sebagai bukti pengembangan diri. Seluruh rangkaian acara diselenggarakan secara gratis tanpa pungutan biaya.
