Konten dari Pengguna

Di Balik Layar Ponsel: Cerita Soal Kapitalisme Platform dan Eksploitasi Digital

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akira Muhammad Riano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi AI (Gemini) oleh Penulis (Ilustrasi jaringan data dan pengawasan digital. Aktivitas harian pengguna dan pekerja diolah menjadi komoditas data oleh oligarki teknologi).
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi AI (Gemini) oleh Penulis (Ilustrasi jaringan data dan pengawasan digital. Aktivitas harian pengguna dan pekerja diolah menjadi komoditas data oleh oligarki teknologi).

Pernah tidak kamu lagi nongkrong di warkop atau kafe, lalu memperhatikan driver ojek online yang duduk di pojokan sambil terus-menerus memandangi layar HP-nya? Mereka menunggu dentingan aplikasi dengan wajah cemas, berharap ada orderan masuk. Di saat yang sama, kita sendiri sering asyik scroll TikTok, Instagram, atau belanja di e-commerce. Rasanya hidup jadi gampang banget, kan? Semua ada di genggaman tangan. Dulu, narasi yang dijual ke kita adalah "ekonomi berbagi" (sharing economy), katanya platform digital ini bikin semua orang lebih bebas, fleksibel, dan serba efisien.

Tapi kalau kita mau jujur dan coba lihat lebih dalam pakai kacamata Ekonomi Politik Marxis, cerita indahnya langsung pudar. Apa yang kita lihat sehari-hari ini sebenarnya bukan soal kebebasan, melainkan bentuk baru dari eksploitasi yang dikemas sangat rapi. Kapitalisme itu tidak pernah benar-benar berubah sifat dasarnya; mereka cuma ganti baju. Kalau dulu Karl Marx cerita soal pabrik dan mesin uap, sekarang pabriknya pindah ke dalam genggaman kita lewat aplikasi dan algoritma.

Siapa Sebenarnya yang Punya "Pabrik" di Era Digital?

Coba bayangkan begini. Dalam teori Marxis klasik, masyarakat terbagi jadi dua: orang kaya yang punya pabrik (borjuis) dan buruh yang cuma punya tenaga buat dijual (proletariat). Nah, di era digital sekarang, alat produksinya bukan lagi tanah atau mesin pabrik yang besar, melainkan hal-hal yang tidak kelihatan seperti algoritma, server, database, dan sistem perangkat lunak.

Raksasa teknologi atau perusahaan platform itulah borjuis modern-nya. Terus bagaimana dengan para pekerja aplikasi, seperti driver ojol atau kurir? Perusahaan dengan lihai menyebut mereka sebagai "mitra" atau "wirausahawan mandiri". Pekerja disuruh modal sepeda motor dan HP sendiri. Kelihatannya keren, ya, seolah-olah mereka punya usahanya sendiri. Padahal ini cuma ilusi.

Kenyataannya, pekerja sama sekali tidak punya kontrol atas "alat produksi" yang sebenarnya, yaitu algoritma. Sistem algoritmalah yang menentukan berapa tarifnya, siapa yang dapat orderan, bagaimana penilaian kinerjanya, sampai siapa yang akunnya bisa dibekukan secara sepihak. Bahasa "mitra" itu cuma akal-akalan ideologis supaya perusahaan bisa lepas tangan dari kewajiban memberikan gaji minimum, asuransi kesehatan, atau uang lembur. Semua risiko di jalan ditanggung sendiri oleh pekerja, sementara profitnya tetap mengalir deras ke atas. Cerdik sekaligus kejam, bukan?

Eksploitasi Tanpa Batas: Dari Driver Ojol Sampai Kita yang Asyik Scroll HP

Lalu, dari mana perusahaan-perusahaan ini mengambil keuntungan? Dalam istilah Marxis, ada yang namanya ekstraksi "nilai lebih" (surplus value). Di era platform, cara mereka memeras nilai lebih ini makin canggih dan terjadi di dua lini sekaligus.

Pertama, tentu dari para pekerja platform atau gig workers. Aplikasi memotong komisi yang cukup besar dari tiap transaksi. Agar bisa membawa pulang uang yang cukup buat makan keluarga, para pekerja ini terpaksa narik sampai 12 hingga 16 jam sehari. Mereka dikejar-kejar oleh algoritma yang terus menurunkan tarif seolah tenaga mereka tidak ada harganya.

Kedua, nah ini yang sering tidak kita sadari, eksploitasi itu juga menimpa kita semua sebagai pengguna biasa! Setiap kali kita bikin konten, kasih ulasan bintang lima, pencet tombol like, atau sekadar pencarian di internet, kita sedang menghasilkan data. Data harian kita ini diambil, diolah, dan dijual ke pengiklan dengan harga mahal. Secara tidak sadar, kita semua adalah "buruh gratisan" yang bekerja memberikan nilai tambah buat perusahaan teknologi tanpa dibayar sepeser pun.

Saat Kehidupan Pribadi Diubah Jadi Komoditas

Istilah kerennya adalah komodifikasi. Dulu, ada batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat. Sekarang? Batas itu sudah lebur. Lewat apa yang disebut surveillance capitalism atau kapitalisme pengawasan, setiap jengkal perilaku kita dilacak. Emosi kita, perhatian kita, kebiasaan belanja, sampai jam tidur kita diukur dan diubah jadi data bernilai jual.

Ruang pribadi kita tidak lagi murni milik kita. Semuanya sudah ditarik ke dalam hubungan pasar. Kita dibentuk sedemikian rupa agar menjadi konsumen yang selalu haus akan hal baru dan makin bergantung pada aplikasi.

Terasing di Era Algoritma

Kalau kamu pernah dengar konsep "alienasi" atau keterasingan dari Marx, di era digital ini bentuknya makin terasa aneh dan dingin. Ada empat cara bagaimana algoritma bikin manusia makin terasing dari dirinya sendiri:

Terasing dari hasil kerja: Baik driver ojol maupun pembuat konten digital tidak pernah benar-benar memiliki apa yang mereka hasilkan. Semua data dan sistem tetap milik perusahaan.

Terasing dari proses kerja: Pekerja tidak bisa mengatur cara kerjanya sendiri. Ada "mandor tak kasat mata" bernama algoritma yang mengatur rute, memberi waktu hitung mundur, hingga menentukan rating.

Terasing dari hakikat kemanusiaan: Pekerjaan yang mestinya jadi wadah berkreasi malah berubah jadi rutinitas mekanis yang dikejar target KPI aplikasi yang dingin dan kaku.

Terasing dari sesama manusia: Ini yang paling menyedihkan. Aplikasi mendesain sistem agar para pekerja saling bersaing merebut orderan atau bonus performa. Rasa kepedulian dan solidaritas sesama nasib jadi terkikis karena semua orang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing.

Lalu, Kita Bisa Apa?

Melihat semua fenomena ini, jelas kalau perkembangan teknologi di bawah sistem kapitalisme tidak otomatis bikin hidup semua orang lebih sejahtera. Yang terjadi justru kesenjangan yang makin melebar dan bentuk pemerasan yang makin halus.

Kita tidak bisa cuma menuntut solusi cetek seperti "tolong tarifnya dinaikkan dikit" atau "tolong algoritmanya lebih transparan". Masalah utamanya ada pada siapa yang menguasai teknologi itu. Sudah saatnya kita berpikir untuk merebut kembali kontrol atas infrastruktur digital dan data harian kita. Konsep seperti kooperativisme platform, di mana aplikasi dimiliki dan dikelola secara kolektif dan demokratis oleh pekerja serta penggunanya sendiri, bisa jadi jalan keluar yang lebih adil.

Kalau kita tetap diam dan menganggap semua ini normal, kita akan terus terjebak jadi roda penggerak kecil di dalam mesin raksasa milik segelintir oligarki teknologi. Jadi, saat nanti kamu membuka aplikasi di HP-mu lagi, coba renungkan sejenak: siapa yang sebenarnya sedang diuntungkan dari setiap klik yang kita lakukan?.

DAFTAR PUSTAKA

Abatangelo, C. (2021). Access-based Consumption in the Digital Economy. Towards new models for the relationships between people and goods. Osservatorio Del Diritto Civile e Commerciale, 10(2), 301–320. Scopus. https://doi.org/10.4478/103097

Fitzmaurice, C. J., Ladegaard, I., Attwood-Charles, W., Cansoy, M., Carfagna, L. B., Schor, J. B., & Wengronowitz, R. (2020). Domesticating the market: Moral exchange and the sharing economy. Socio-Economic Review, 18(1), 81–102. Scopus. https://doi.org/10.1093/ser/mwy003

Geissinger, A., Laurell, C., Öberg, C., & Sandström, C. (2019). How sustainable is the sharing economy? On the sustainability connotations of sharing economy platforms. Journal of Cleaner Production, 206, 419–429. Scopus. https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2018.09.196

Nikitina, B., Korsun, M., Sarbaeva, I., & Zvonovsky, V. (2020). Development of the practice of sharing economy in the communicative information environment of modern urban communities. 908, 376–394. Scopus. https://doi.org/10.1007/978-3-030-11367-4_37

Nnajiofor, P. (2017). The new sharing economy: Creation of a new serfdom? Perspectives on Global Development and Technology, 16(1–3), 297–314. Scopus. https://doi.org/10.1163/15691497-12341435

Richardson, L. (2015). Performing the sharing economy. Geoforum, 67, 121–129. Scopus. https://doi.org/10.1016/j.geoforum.2015.11.004