Konten dari Pengguna

Menurunnya Daya Berpikir Anak SD, SMP, dan SMA di Tengah Perkembangan Artificial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Akmal Sofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Intelligence (AI)

Ilustrasi :Dibuat Menggunakan Bantuan Ai
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi :Dibuat Menggunakan Bantuan Ai

AI: Antara Peluang dan Ancaman

Pada dasarnya, Artificial Intelligence (AI) merupakan teknologi yang dapat membantu proses pembelajaran. Siswa dapat memanfaatkannya untuk mencari informasi, memahami materi yang sulit, maupun memperoleh inspirasi dalam mengerjakan tugas.

Namun, permasalahan muncul ketika AI digunakan sebagai jalan pintas dalam belajar. Banyak siswa mulai terbiasa memperoleh jawaban secara instan tanpa memahami proses berpikir yang menghasilkan jawaban tersebut. Akibatnya, kemampuan bernalar, berpikir kritis, serta memecahkan masalah berpotensi mengalami penurunan.

Fakta Menurunnya Kompetensi Akademik

Data internasional menunjukkan adanya penurunan capaian belajar siswa dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 mencatat bahwa rata-rata skor matematika negara-negara anggota OECD mengalami penurunan sekitar 15 poin dibandingkan tahun 2018, sedangkan skor membaca menurun sekitar 10 poin. Penurunan tersebut merupakan salah satu yang terbesar sejak program PISA dilaksanakan.

sumber : OECD. (2023). PISA 2022 Results: The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.

Meskipun demikian, penurunan kemampuan akademik tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan perkembangan AI. Orang tua dan pendidik juga memiliki peran penting dalam memberikan arahan kepada anak mengenai penggunaan teknologi secara bijaksana, terarah, dan bertanggung jawab.

Ilustrasi : Dibuat Menggunakan Bantuan AI

Ketergantungan AI di Kalangan Pelajar SD, SMP, dan SMA

Pada jenjang Sekolah Dasar (SD), banyak siswa mulai memanfaatkan AI dengan tujuan menyelesaikan tugas lebih cepat sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk bermain. Padahal, kebiasaan tersebut dapat membentuk pola pikir yang bergantung pada teknologi sejak usia dini.

Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), siswa seharusnya mulai belajar berpikir logis dan mengembangkan kemampuan analisis yang lebih kompleks. Apabila AI digunakan untuk mengerjakan tugas tanpa disertai proses pemahaman, kemampuan bernalar dapat berkembang lebih lambat dibandingkan yang seharusnya.

Sementara itu, pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), ketergantungan terhadap AI dapat menjadi semakin kuat apabila tidak diimbangi dengan pembinaan yang tepat pada jenjang sebelumnya. Akibatnya, siswa berpotensi mengandalkan AI dalam berbagai aktivitas belajar tanpa berupaya mengembangkan kemampuan berpikir secara mandiri.

Solusi Mengatasi Menurunnya Daya Berpikir Anak di Era AI

1. Menerapkan Prinsip “Pahami Dulu, Gunakan AI Kemudian”

Siswa perlu dibiasakan untuk mencoba menyelesaikan soal atau tugas secara mandiri sebelum meminta bantuan AI. Dengan cara ini, AI berfungsi sebagai alat untuk memeriksa serta memperkaya pemahaman, bukan sebagai sumber jawaban utama.

2. Meningkatkan Budaya Membaca

Kemampuan berpikir kritis sangat berkaitan dengan kebiasaan membaca. Sekolah dan orang tua perlu mendorong anak untuk membaca buku, artikel ilmiah, maupun sumber belajar lainnya secara rutin. Semakin banyak informasi yang dipahami, semakin baik pula kemampuan analisis yang dimiliki siswa.

3. Memperbanyak Kegiatan Diskusi dan Tanya Jawab

Diskusi kelompok, presentasi, dan debat ilmiah dapat melatih kemampuan berpikir logis serta menyampaikan pendapat secara sistematis. Aktivitas semacam ini tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI karena menuntut siswa memahami materi dan merumuskan argumen secara mandiri.

4. Mengembangkan Pembelajaran Berbasis Proyek

Guru dapat memberikan tugas berbentuk proyek yang mengharuskan siswa melakukan observasi, penelitian sederhana, wawancara, atau praktik langsung di lapangan. Dengan demikian, siswa belajar memecahkan masalah nyata dan tidak hanya bergantung pada informasi yang diberikan AI.

5. Meningkatkan Literasi Digital dan AI

Anak-anak perlu diajarkan bahwa AI tidak selalu menghasilkan informasi yang akurat. Oleh karena itu, mereka harus mampu memverifikasi informasi, membandingkan berbagai sumber, serta menilai kredibilitas suatu data sebelum menggunakannya.

6. Membatasi Ketergantungan pada Teknologi

Orang tua dan guru dapat menetapkan waktu tertentu untuk belajar tanpa bantuan AI maupun gawai. Misalnya, siswa dibiasakan mengerjakan soal matematika, menulis esai, atau membuat rangkuman secara manual agar kemampuan berpikir tetap terasah.

7. Memperkuat Peran Orang Tua dan Guru

Pendampingan merupakan faktor penting dalam pembentukan pola belajar anak. Orang tua dan guru perlu mengawasi penggunaan AI sekaligus memberikan arahan mengenai etika serta batasan penggunaannya dalam proses pembelajaran.

8. Mengubah Sistem Penilaian

Sekolah dapat memperbanyak bentuk penilaian yang menekankan proses berpikir, seperti presentasi, ujian lisan, studi kasus, dan analisis masalah. Dengan demikian, siswa terdorong untuk memahami materi, bukan sekadar mencari jawaban instan melalui AI.

Ilustrasi : Dibuat Menggunakan Bantuan AI

Peran yang Harus Dilakukan Orang Tua

Menurut penulis, permasalahan utama tidak terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara penggunaannya. AI merupakan teknologi yang tidak dapat dihindari dan bahkan akan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia pada masa depan. Oleh karena itu, melarang penggunaan AI bukanlah solusi yang tepat.

Yang perlu dilakukan adalah menempatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia. Siswa harus tetap didorong untuk membaca buku, berdiskusi, menulis dengan kemampuan sendiri, serta menyelesaikan soal secara mandiri pada tahap-tahap tertentu.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mendampingi anak saat menggunakan teknologi. Pendampingan tersebut dapat dilakukan dengan mengawasi aktivitas belajar anak, mengarahkan penggunaan AI untuk tujuan edukatif, serta membiasakan anak berpikir dan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Selain itu, orang tua dapat menyediakan lingkungan belajar yang mendukung, seperti menyediakan bahan bacaan yang berkualitas, menghadirkan tutor atau guru yang kompeten apabila diperlukan, serta mendorong anak mengikuti kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Hal -hal yang harus orang tua lakukan

Perkembangan AI merupakan sebuah kemajuan teknologi yang membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Namun, penggunaan yang tidak tepat dapat menimbulkan ketergantungan dan berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis, bernalar, serta memecahkan masalah pada siswa.

Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara orang tua, guru, sekolah, dan masyarakat dalam membimbing anak memanfaatkan AI secara bijaksana. Dengan pendampingan yang tepat, AI dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa mengurangi kemampuan berpikir manusia.

Pada akhirnya, generasi muda Indonesia diharapkan mampu tumbuh menjadi individu yang dapat mengendalikan teknologi AI, bukan justru dikendalikan olehnya. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas manusia, bukan menggantikan kemampuan berpikir yang merupakan ciri utama manusia.