Revolusi Piring: Ketika Makanan Indonesia Mendunia dan Dunia Masuk ke Dapur Kita

Mahasiswa S-1 Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Akram Ziyad Hananto Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka kalau rawon yang biasa kita makan di warung pinggir jalan ternyata sekarang duduk manis di peringkat 8 makanan terbaik dunia versi TasteAtlas 2025? Bahkan mengalahkan rendang yang dulunya jadi jagoan utama Indonesia di mata dunia. Ini bukan cuma soal makanan enak, tapi fenomena globalisasi kuliner yang lagi happening banget di Indonesia.
Kalau dulu orang Indonesia paling banter kenal pizza sama burger, sekarang menu tteokbokki dan ramyeon udah jadi makanan sehari-hari anak muda. Begitu juga sebaliknya, makanan Indonesia yang dulunya cuma dikenal teman-teman ASEAN, sekarang jadi perbincangan food blogger di seluruh dunia. Memang zaman sudah berubah, dan perubahan ini bisa dilihat langsung dari apa yang ada di piring makan kita.
Rawon Jadi Bintang Baru, Rendang Turun Pamor
Data terbaru dari TasteAtlas 2025 bikin kaget banyak orang. Rawon yang selama ini mungkin dianggap "makanan lokal biasa" ternyata berhasil naik drastis ke peringkat 8 makanan terbaik dunia. Sementara rendang yang dulunya jadi kebanggaan Indonesia, sekarang turun ke posisi 67. Bukan berarti rendang jadi tidak enak, tapi ini menunjukkan bagaimana selera global terus berubah dan makanan-makanan "hidden gem" Indonesia mulai ditemukan dunia.
Kuliner Indonesia memang lagi naik daun. Berdasarkan data TasteAtlas Awards 2024/2025, Indonesia berhasil masuk peringkat 7 dari 100 negara dengan masakan terbaik di dunia. Pulau Jawa bahkan meraih peringkat 13 dunia untuk wilayah kuliner terbaik dengan rating 4,35, sementara Sumatera di posisi 79 dengan rating 4,10. Angka-angka ini membuktikan kalau Indonesian food scene memang sudah diakui secara internasional.
Yang menarik, bukan cuma rawon yang melejit. Ada lima makanan Indonesia lainnya yang masuk daftar 100 makanan terbaik dunia, yaitu pempek di posisi 23, nasi goreng ayam di posisi 33, dan gulai di posisi 44. Bahkan produk pelengkap makanan seperti bawang goreng Indonesia meraih posisi nomor satu dunia untuk kategori pelengkap makanan. Siapa yang nyangka kalau bawang goreng yang sering kita anggap remeh ternyata jadi yang terbaik di mata dunia?
Korean Wave di Meja Makan Indonesia
Sementara makanan Indonesia lagi naik daun di dunia, di Indonesia sendiri sedang terjadi fenomena sebaliknya. Perkembangan Korean Wave yang sudah masuk Indonesia sejak tahun 2000-an kini merambah ke sektor kuliner. K-Food atau makanan Korea memiliki pasar yang sangat besar seiring berkembangnya tren K-Pop dan K-Drama. Ini bukan cuma soal ikutan tren, tapi memang cita rasa makanan Korea yang pedas dan gurih cocok dengan lidah orang Indonesia.
Tren gaya mengkonsumsi makanan Korea yang semakin menyebar pesat di Indonesia menyebabkan berbagai restoran dan tempat makan mulai menyajikan menu makanan Korea. Bahkan sekarang Korean Street Food sering diadakan di event-event tertentu, dan makanan siap saji Korea juga mudah ditemukan di minimarket. Makanan-makanan seperti tteokbokki (camilan dari tepung beras dengan bumbu gochujang pedas), kimbab (nasi dibungkus rumput laut), ramyeon (mie instan Korea), kimchi (sayuran fermentasi), dan odeng (makanan dari daging ikan) sekarang udah jadi makanan yang familiar buat anak muda Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana globalisasi budaya melalui media massa, internet, dan platform hiburan bisa mengubah pola konsumsi makanan masyarakat. Yang dulunya mungkin cuma kenal mie ayam atau bakso, sekarang udah familiar dengan berbagai varian makanan internasional yang mudah diakses melalui aplikasi pesan antar makanan.
Fusion Food dan Plant-Based: Tren Baru yang Lagi Happening
Data dari GoFood menunjukkan tren kuliner Indonesia 2024-2025 yang menarik. Nasi ayam tetap jadi menu terlaris selama enam tahun berturut-turut, tapi ada tren baru yang lagi naik daun. Makanan fusion atau perpaduan berbagai cita rasa jadi favorit baru. Misalnya street food khas Indonesia dalam konsep premium, seperti martabak gourmet dengan topping eksklusif, sate wagyu, dan bakso dengan isian keju leleh.
Tren makanan sehat dan plant-based juga lagi naik daun. Kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat mendorong popularitas makanan berbasis nabati. Alternatif daging dari bahan seperti tempe, jamur, dan protein kacang semakin banyak digunakan dalam berbagai hidangan, termasuk sate nabati dan rendang vegan. Makanan fermentasi seperti tape, tempe, dan oncom juga mendapat tempat di kancah kuliner modern karena manfaat probiotiknya untuk kesehatan pencernaan.
Berdasarkan survei Populix kepada 3.138 orang gen Z dan milenial di seluruh Indonesia, makanan Indonesia masih paling banyak digemari. Sebanyak 44 persen gen Z mengaku menyukai masakan Indonesia murni, 17 persen suka fusion Indonesia-Asian, dan 16 persen suka fusion Indonesia-Western. Ini menunjukkan kalau meski terbuka dengan kuliner internasional, identitas kuliner Indonesia tetap kuat di hati masyarakat.
Teknologi Mengubah Cara Kita Makan
Globalisasi kuliner di era digital juga didukung oleh perkembangan teknologi. Aplikasi pesan antar makanan seperti GoFood mencatat bahwa pelaku bisnis kuliner di hampir semua provinsi telah fokus pada penjualan online di atas 60 persen. Teknologi juga mulai berperan dalam inovasi kuliner, seperti penggunaan AI dalam menciptakan resep makanan serta 3D food printing. Di Indonesia, tren makanan instan sehat berbasis teknologi seperti mie instan bebas gluten dan makanan siap saji dengan bahan alami semakin berkembang.
Konsep zero waste dan sustainable food juga semakin populer di dunia kuliner. Banyak restoran mulai menerapkan penggunaan bahan lokal yang lebih berkelanjutan, mengurangi limbah plastik, dan menyajikan makanan dengan kemasan ramah lingkungan. Ini menunjukkan bagaimana globalisasi tidak hanya membawa tren makanan, tapi juga kesadaran lingkungan yang semakin meningkat.
Dampak Ekonomi yang Menggiurkan
Industri kuliner ternyata punya peran besar dalam perekonomian Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi industri kuliner mencapai 34 persen terhadap produk domestik bruto ekonomi kreatif pada 2023. Dari nilai ekspor produk ekonomi kreatif mencapai 23,96 miliar dollar AS pada 2023, kontribusi industri kuliner sebesar 1,21 miliar dollar AS. Pada semester I-2024, nilai ekspor sektor kuliner telah mencapai 829,66 juta dollar AS dari total nilai ekspor ekonomi kreatif sebesar 12,36 miliar dollar AS.
Data BPS juga menunjukkan pada tahun 2022 terdapat 10.900 usaha penyedia makanan dan minuman skala menengah besar di Indonesia. Sebanyak 50,44 persen usaha tersebut berlokasi di mal atau pertokoan besar. Industri kuliner memang jadi bisnis yang tidak pernah surut karena kebutuhan dasar manusia akan makanan. Dengan jumlah penduduk sebanyak 281,60 juta jiwa, Indonesia jelas jadi pasar bisnis kuliner yang menggiurkan.
Indomie: Duta Kuliner Indonesia yang Go Global
Salah satu contoh sukses globalisasi kuliner Indonesia adalah Indomie. Produk mi instan asal Indonesia ini masuk daftar 10 Mi Instan Terbaik versi LA Times. Ada dua varian Indomie yang masuk dalam kategori best saucy (dry) instant noodles atau mi instan kering terbaik, yaitu Indomie Mi Goreng dan Mi Goreng Ayam Panggang. Ini membuktikan kalau produk Indonesia bisa bersaing di pasar global dan bahkan jadi favorit di negara-negara lain.
Fenomena Indomie jadi contoh bagus bagaimana globalisasi kuliner bisa bekerja dua arah. Di satu sisi, produk Indonesia bisa menembus pasar internasional. Di sisi lain, kesuksesan Indomie di luar negeri juga meningkatkan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap produk lokal.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski ada banyak dampak positif dari globalisasi kuliner, ada juga tantangan yang perlu dihadapi. Masuknya berbagai kuliner asing bisa mengancam eksistensi makanan tradisional Indonesia kalau tidak dikelola dengan baik. Tapi di sisi lain, globalisasi juga membuka peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia ke dunia.
Prediksi tren kuliner 2025 menunjukkan beberapa hal menarik. Iced americano diprediksi akan semakin populer di kalangan pecinta kopi yang menginginkan rasa lebih murni dan segar. Seblak juga diprediksi terus mengalami peningkatan popularitas dengan berbagai inovasi topping dan level kepedasan. Makanan penutup berbasis bahan lokal seperti ubi ungu, kelapa, dan gula aren semakin populer, termasuk tren dessert fusion seperti es krim klepon, mochi durian, dan pancake pandan dengan topping khas Eropa.
Kota-Kota Kuliner Indonesia yang Mendunia
TasteAtlas juga menobatkan enam kota Indonesia masuk ke daftar 100 kota dengan makanan terbaik di dunia. Kota-kota tersebut adalah Jakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Surakarta, dan Yogyakarta. Ini menunjukkan kalau kuliner Indonesia tidak hanya terkonsentrasi di satu daerah, tapi tersebar di berbagai wilayah dengan keunikan masing-masing.
Jakarta dengan soto Betawi-nya, Bandung dengan batagor, Surabaya dengan rawon, Padang dengan rendang dan sate Padang, serta Yogyakarta dengan gudeg, semuanya punya kontribusi dalam mengangkat nama Indonesia di kancah kuliner dunia. Setiap kota punya ciri khas kuliner yang berbeda, dan ini jadi kekuatan Indonesia dalam persaingan kuliner global.
Kesimpulan: Era Baru Kuliner Indonesia
Globalisasi kuliner di Indonesia menunjukkan fenomena yang menarik. Di satu sisi, makanan Indonesia semakin diakui dunia dengan berbagai prestasi di ranking internasional. Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga semakin terbuka dengan kuliner dari berbagai negara. Ini bukan berarti identitas kuliner Indonesia terancam, tapi justru menunjukkan kematangan masyarakat dalam menerima keberagaman sambil tetap menjaga identitas lokal.
Yang penting adalah bagaimana kita sebagai masyarakat Indonesia bisa memanfaatkan momentum globalisasi ini untuk terus mengembangkan kuliner lokal sambil tetap terbuka dengan inovasi dan pengaruh dari luar. Fusion food, healthy eating, sustainable food, dan teknologi kuliner adalah tren-tren yang bisa kita adopt tanpa harus kehilangan identitas kuliner Indonesia.
Dengan kekayaan kuliner yang dimiliki Indonesia, ditambah dengan keterbukaan masyarakat terhadap inovasi, masa depan kuliner Indonesia di kancah global terlihat sangat menjanjikan. Siapa tahu, beberapa tahun ke depan akan ada makanan Indonesia lain yang naik ke puncak ranking dunia, atau mungkin ada fusion food Indonesia yang jadi tren global.
Globalisasi kuliner memang mengubah cara kita makan, tapi juga membuka peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia ke dunia. Dan yang paling penting, semua perubahan ini bisa kita nikmati langsung di piring makan kita sehari-hari.
