Library Pop-Up Fest

saya biasa dipanggil Kiki, sekarang bekerja di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantaeng Prop. Sulsel
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari SUARSI, SE, ST, MM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Membawa Perpustakaan ke Ruang Publik dan Lokasi Strategis, dengan Koleksi Sesuai Kebutuhan Masyarakat"
Perpustakaan Daerah Butta Toa Kabupaten Bantaeng saat ini telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai dengan hadirnya gedung baru yang representatif. Keberadaan gedung ini mencerminkan perhatian serius pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan literasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun, potensi besar yang dimiliki tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak optimal, sebab tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan masih rendah, sementara budaya membaca di tengah masyarakat juga belum terbentuk dengan baik.
Permasalahan rendahnya minat baca ini bukan semata disebabkan oleh kurangnya koleksi atau fasilitas, melainkan berakar pada beberapa faktor mendasar. Pertama, kebiasaan membaca sejak dini di kalangan anak-anak, keluarga, dan komunitas masih lemah. Membaca lebih sering dianggap sekadar kewajiban akademis, bukan sebagai aktivitas rekreatif atau bagian dari gaya hidup. Peran keluarga dan sekolah dalam menumbuhkan minat baca belum berjalan maksimal, ditambah lagi metode dan media kreatif untuk menarik minat anak dan remaja masih terbatas.
Kedua, perubahan pola konsumsi informasi di masyarakat turut menjadi tantangan tersendiri. Minat terhadap bacaan konvensional cenderung menurun seiring meningkatnya kebutuhan akan konten digital yang lebih mudah diakses dan bersifat visual. Sayangnya, perpustakaan belum memiliki platform digital lokal yang mampu menghadirkan konten bacaan secara menarik, mudah digunakan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Keterbatasan literasi digital di sebagian kalangan juga menghambat pemanfaatan layanan perpustakaan berbasis teknologi.
Ketiga, aspek aksesibilitas dan kedekatan layanan juga menjadi persoalan penting. Lokasi perpustakaan daerah yang kurang strategis menyebabkan sebagian besar masyarakat tidak menjadikan perpustakaan sebagai tujuan utama untuk belajar maupun memperoleh informasi. Minimnya eksposur perpustakaan di ruang-ruang publik serta ketiadaan inovasi layanan jemput bola semakin memperlebar jarak antara perpustakaan dengan masyarakat yang seharusnya menjadi pengguna utama. Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun sarana fisik telah tersedia, namun perpustakaan masih belum hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat.
Jika ditelaah lebih jauh, berbagai persoalan tersebut juga berkaitan dengan aspek manajerial organisasi. Akuntabilitas kinerja belum sepenuhnya terlihat karena output yang dihasilkan belum sebanding dengan investasi sarana-prasarana yang telah dibangun. Hubungan kelembagaan dengan sekolah, komunitas, maupun keluarga masih terbatas, sehingga sinergi dalam membentuk budaya literasi kurang kuat. Transformasi digital belum berjalan optimal karena keterbatasan infrastruktur dan literasi digital.
Standar pelayanan perpustakaan juga masih cenderung pasif, belum mampu menyesuaikan diri dengan dinamika kebutuhan masyarakat. Dari sisi keuangan, dukungan anggaran untuk inovasi layanan masih terbatas, sehingga program yang berorientasi pada perluasan akses belum dapat dilaksanakan secara maksimal. Bahkan, jika kondisi ini dibiarkan, risiko jangka panjang yang akan muncul adalah semakin merosotnya minat baca generasi muda, tidak termanfaatkannya gedung perpustakaan secara optimal, serta menurunnya relevansi perpustakaan di era digital.
Dalam era society 5.0, di mana manusia ditempatkan sebagai pusat pengembangan teknologi dan informasi, perpustakaan dituntut untuk beradaptasi dengan cepat. Perpustakaan tidak lagi cukup hanya menyediakan layanan berbasis gedung, tetapi harus mampu bergerak fleksibel mengikuti kebutuhan masyarakat. Keterbatasan sarana dan prasarana, minimnya armada perpustakaan keliling, serta rendahnya literasi digital masyarakat menjadi tantangan yang harus dijawab dengan strategi inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Konsep “Library Pop-up Fest” hadir sebagai salah satu solusi untuk menjawab permasalahan tersebut. Gagasan ini bertujuan untuk menghadirkan perpustakaan secara langsung ke ruang publik dan lokasi strategis, seperti alun-alun, pasar rakyat, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga area wisata. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak perlu lagi datang ke gedung perpustakaan, melainkan perpustakaan yang hadir di tengah mereka. Koleksi yang disediakan pun disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat setempat—misalnya buku keterampilan untuk UMKM, literasi keuangan, bacaan anak-anak, hingga informasi terkait kesehatan dan pertanian.
Lebih dari sekadar menyediakan koleksi bacaan, Library Pop-up Fest juga akan menghadirkan aktivitas literasi yang menyenangkan, seperti pojok baca anak, kelas menulis kreatif, bedah buku, pameran karya lokal, serta kegiatan interaktif berbasis digital. Konsep ini sejalan dengan upaya membangun budaya literasi yang lebih inklusif, di mana literasi tidak hanya dipandang sebagai keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan produktif.
Dalam Perancangan Library Pop-Up Fest, kebutuhan koleksi, jenis layanan, serta lokasi kegiatan ditentukan berdasarkan aspirasi masyarakat. Pendekatan ini menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Dengan melibatkan komunitas lokal, pelaku usaha, sekolah, dan organisasi masyarakat sipil, kegiatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat serta meningkatkan rasa memiliki terhadap program literasi.
Inovasi ini berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan publik dan penguatan SDM melalui literasi. Kegiatan ini juga mendukung misi pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat Bantaeng yang sejahtera, adil, dan berdaya saing. Dengan menghadirkan perpustakaan secara lebih dekat, mudah diakses, serta sesuai kebutuhan, Library Pop-up Fest dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), memperkecil kesenjangan literasi antarwilayah, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Selain itu, Library Pop-up Fest menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Perpustakaan yang hadir di ruang publik akan berfungsi sebagai ruang bersama (shared space) tempat masyarakat bertemu, berdiskusi, dan bertukar ide. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan budaya baca, tetapi juga memperkuat ikatan sosial, mendorong lahirnya komunitas literasi, serta memperluas jejaring kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Berdasarkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa tantangan utama perpustakaan bukan hanya pada penyediaan fasilitas, melainkan bagaimana menghadirkan layanan yang lebih dekat, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, Inovasi yang dirancang perlu difokuskan pada upaya mendekatkan perpustakaan ke ruang-ruang publik, memperluas jangkauan layanan, serta menghadirkan koleksi yang relevan dengan kebutuhan warga.
SUARSI, SE, ST, MM
