PKK Desa Kebonharjo dan Mahasiswa KKN UIN Walisongo Galang Sosialisasi Pola Asuh

Pengabdian terhadap masyarakat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari KKN MB POSKO 29 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
PKK Desa Kebonharjo dan Mahasiswa KKN UIN Walisongo Galang Sosialisasi Pola Asuh Positif untuk Anak Usia Dini

Kendal, 25 Juli 2025 – Dalam rangka mendorong pengasuhan anak usia dini yang lebih berkualitas, ibu-ibu PKK Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, menyelenggarakan kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) sebagai program unggulan mereka. Bertempat di Balai Desa Kebonharjo, acara ini mengusung tema “Mewujudkan Pola Asuh Positif untuk Anak Usia Dini: Membangun Generasi Cerdas, Mandiri, dan Berkarakter”.
Kegiatan ini menghadirkan Drs. Santoso, M.Pd, dosen PAUD dari Universitas Muria Kudus, yang dikenal sebagai praktisi aktif dalam pengembangan program parenting di Jawa Tengah. Lebih dari 50 peserta—terdiri dari ibu rumah tangga, kader posyandu, dan tokoh masyarakat—ikut serta dengan semangat dalam sesi edukatif dan dialog interaktif mengenai tantangan dan strategi pengasuhan anak di era digital.
Dalam sambutannya, Ketua PKK Desa Kebonharjo menekankan bahwa kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan wujud kepedulian bersama para ibu terhadap tumbuh kembang anak-anak balita di lingkungan desa. “Kami menyadari bahwa masa balita adalah fase emas yang menentukan masa depan anak. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memahami pola asuh yang tepat, tanpa kekerasan dan tekanan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan BKB menjadi ruang belajar yang sangat penting di tengah berbagai tantangan pengasuhan masa kini, seperti kecanduan gadget, minimnya interaksi sosial anak, dan meningkatnya kasus tantrum yang kurang tertangani secara tepat.
Dalam sesi pemaparan, Drs. Santoso, M.Pd, menyampaikan pentingnya pola asuh yang sehat dan konsisten untuk anak usia dini. Ia menekankan bahwa orang tua perlu memahami konsep “bahasa cinta” agar dapat menjalin ikatan emosional yang kuat dengan anak. Melalui waktu berkualitas seperti bermain bersama, kata-kata afirmatif, sentuhan fisik seperti pelukan, pemberian hadiah sederhana, dan pelayanan penuh perhatian, orang tua dapat menciptakan rasa aman, dihargai, dan dicintai dalam diri anak-anak mereka.
Baca juga: 6 Tahun Terbengkalai, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Hidupkan kembali Lapangan Voli
Setiap anak memiliki bahasa cinta yang berbeda, dan di sinilah pentingnya kepekaan orang tua dalam mengenali serta menyesuaikan cara mereka mengekspresikan kasih sayang. Dengan menerapkan kelima bahasa cinta—waktu berkualitas, kata-kata afirmatif, sentuhan fisik, hadiah, dan pelayanan—keluarga dapat menciptakan lingkungan yang penuh cinta, membangun anak yang percaya diri, empatik, dan bahagia, serta mempererat keharmonisan keluarga.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menyuarakan kekhawatiran tentang anak-anak mereka yang kecanduan menonton YouTube dan bermain game. Menanggapi hal ini, Drs. Santoso, M.Pd, menjelaskan bahwa gawai bukanlah musuh, melainkan cara penggunaan yang perlu diatur. Ia mendorong orang tua untuk menerapkan screen time dan mengganti waktu layar dengan kegiatan interaktif seperti mendongeng atau bermain peran. “Gadget bukan masalah jika digunakan bijak dan disertai bonding dengan orang tua. Jangan hanya menyerahkan HP ke anak sementara kita asyik dengan gawai kita sendiri,” pesannya.
Kegiatan BKB ini menjadi pengingat bahwa pendidikan anak dimulai dari rumah. Dari pelukan hangat seorang ibu, dari waktu yang diluangkan seorang ayah, hingga dari komunitas yang peduli akan tumbuh kembang generasi penerus. Dengan kolaborasi antara narasumber berkompeten dan semangat ibu-ibu PKK Desa Kebonharjo, kegiatan ini menjadi titik awal pembentukan generasi yang lebih kuat secara emosional, cerdas, dan tangguh—sebuah model yang patut ditiru oleh desa-desa lain di Kendal dan sekitarnya.
