Konten dari Pengguna

Mengenang Tsunami Aceh 2004 Melalui Kunjungan Bersejarah Museum Tsunami Aceh

Putri

Putri

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret Museum Tsunami Aceh. Dokumentasi oleh Putri.
zoom-in-whitePerbesar
Potret Museum Tsunami Aceh. Dokumentasi oleh Putri.

Pada tanggal 26 desember 2004, pukul 06.00 pagi terjadinya gempa bumi yang mengguncang tanah rencong. Guncangan gempa dirasakan selama 8 menit hingga merobohkan sejumlah bangunan di Banda Aceh. Gempa terjadi karena 2 lempeng besar yang berada di bawah lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, di mana keduanya saling bergerak dan berhimpit. Sehingga gempa pada saat itu juga dirasakan oleh mereka yang tinggal di pantai barat semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilanka, Maladewa bahkan Afrika dengan kekuatan gempa yang berbeda-beda.

Di Indonesia gempa paling kuat dirasakan oleh mereka yang tinggal di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Setengah jam setelah terjadinya gempa, saat Aceh masih berbenah dan mengevakuasi korban, bencana lain melanda yaitu tsunami. Masyarakat tidak menjauh dari pantai sehingga menyebabkan banyaknya korban jiwa. Di Banda Aceh tinggi tsunami rata-rata 10 sampai 12 meter. Tsunami Aceh 2004 dicatat oleh lembaga internasional sebagai bencana paling mematikan dalam sejarah setidaknya 283.100 orang meninggal dunia, 14.100 orang hilang dan 1.126.900 orang berada di pengungsian.

Potret data korban bencana Gempa dan Tsunami Aceh. Dokumentasi oleh Putri.

Selain gempa dan tsunami, di Aceh dan Nias terjadi kerusakan pada rumah penduduk, infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan sekolah sampai hilangnya tempat usaha dan pekerjaan. Badan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh Nias juga mencatat para petani kehilangan sawah, nelayan kehilangan perahu dan tambang mereka. Jumlah kerugian ditaksir sampai 9 Triliun lebih.

Jumlah korban yang tinggi, kerusakan infrasturktur bahkan makanan dan air mengundang bantuan kemanusiaan Internasional. Bantuan diberikan melalui jalur laut dan udara karena jalan penghubung yang telah rusak akibat bencana bahkan titik-titik tertentu hanya bisa dilalui oleh kendaraan hasil bantuan Internasional.

Potret peninggalan kendaraan hasil bantuan Internasional. Dokumentasi oleh Putri.

Selain bantuan fokus utama badan kemanusiaan dan pemerintah setelah tsunami adalah menyediakan berbagai fasilitas dan air bersih bagi pengungsi. Sebagai pelengkap fasilitas fisik, sejumlah Trauma Healing Center bagi korban dan keluarga korban terutama anak-anak juga dibangun. Di dalam negeri simpati berdatangan dari seluruh pelosok Indonesia untuk Aceh melalui aksi solidaritas.

Mengetahui Dampak Psikososial Pasca Bencana Tsunami Aceh Melalui Kunjungan Bersejarah Museum Tsunami Aceh

Potret peninggalan reruntuhan pasca Gempa dan Tsunami Aceh. Dokumentasi oleh Putri.

Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 merupakan fenomena siklus alam terbesar yang tercatat dalam sejarah baik dari sisi penyebab, lama kejadian, kerentanan serta kerusakan yang terjadi. Peristiwa ini telah mengakibatkan banyaknya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, serta timbulnya dampak psikososial bagi korban yang terselamatkan pasca bencana tsunami Aceh.

Gambaran dampak psikososial pertama yaitu perubahan emosi. Perubahan emosi yang ditunjukkan oleh korban pasca bencana terdiri dari sedih, depresi, kecemasan, kemarahan, trauma, dan menerima (acceptance). Depresi yang dialami merupakan salah satu dampak psikologis yang disebabkan karena adanya kehilangan.

Potret tangisan seorang Ibu sambil memeluk anak laki-lakinya. Dokumentasi oleh Putri.

Kedua perubahan kognitif yang terjadi yaitu penurunan daya pikir. Adanya perubahan kognitif pada korban pasca bencana seperti tidak mampu berpikir jernih, menjadi ragu-ragu karena tidak ada kepastian, dan pikiran mereka terpecah-pecah dengan permasalahan yang mereka hadapi yang mana terus datang secara bergantian.

Ketiga mekanisme coping, dapat dikategorikan yaitu adapatif dan maladaptif. Coping adapatif di antaranya berdo’a (pendekatan spiritual), memendam perasaan dan mengalihkan perhatian agar dapat melupakan masalah yang terjadi. Sementara coping maladaptif seperti mengeluh tiada henti, mengancam diri sendiri, melampiaskan emosi yang berlebihan.

Keempat dukungan sosial, korban pasca bencana sangat terpengaruh dengan dukungan yang diberikan oleh pasangan dan keluarga, bahkan dukungan dari tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Faktor dukungan sosial tidak hanya dapat memengaruhi aspek psikologis saja namun juga aspek biologis yaitu meningkatkan fungsi sistem imun dan proses biologi lain dalam tubuh.

Kelima kebutuhan pelayanan kesehatan fisik. Korban pasca bencana membutuhkan pelayanan kesehatan meliputi kebutuhan udara sehat, kebutuhan air sehat, dan kebutuhan tindakan medis.

Keenam kebutuhan pelayanan kesehatan psikososial. Korban pasca bencana memerlukan adanya pihak yang menilai status kesehatan jiwa terutama pada anak dan menghendaki adanya penyuluhan tentang cara menghadapi perubahan perilaku baik pada anak maupun remaja.

Potret salah satu tokoh masyarakat dari UNICEF bermain bersama anak laki-laki. Dokumentasi oleh Putri.

Demikian yang dapat disimpulkan yaitu dari dampak psikologis yang dialami oleh korban pasca bencana tsunami Aceh dipengaruhi oleh durasi terjadinya bencana, kualitas dan kuantitas kehilangan yang dialami, serta faktor internal individu korban dalam menggunakan mekanisme coping yang digunakan serta dukungan sosial yang ada. Kemudian dampak sosial yang terjadi pada korban bencana antara lain adanya perubahan fungsi keluarga, perubahan hubungan sosial masyarakat, risiko gangguan perkembangan anak dan remaja, kehilangan mata pencaharian, dan dukungan sosial yang ada.

Tsunami sendiri adalah sebuah siklus, apa yang telah terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa depan. Kita semua harus belajar dan terus memelihara ingatan karna pengetahuan tentang bencana akan menyelamatkan kita dari marabahaya.