Konten dari Pengguna

Investasi di Meja Makan: Mandat Prioritas Pendidikan Pangan bagi Kemendikdasmen

Al Sandy Suharjono

Al Sandy Suharjono

Political Storyteller, Public Policy Analyst

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Al Sandy Suharjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa menyantap makanan bergizi gratis saat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 25 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (6/1/2025). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Siswa menyantap makanan bergizi gratis saat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 25 Palembang, Sumatera Selatan, Senin (6/1/2025). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Beberapa waktu lalu Menteri Kesehatan mengusulkan adanya kurikulum khusus MBG. Hal ini sudah dilakukan oleh negara Jepang dan merupakan salah satu rekomendasi yang patut untuk diprioritaskan.

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah tiang pancang masa depan bangsa. Namun, hingga saat ini, program ini hanya dilihat sebagai isu logistik dan anggaran. Realitasnya, ia adalah isu pendidikan dan pembentukan karakter yang paling mendasar.

Insiden keracunan makanan yang berulang akibat model kontraktor yang rentan telah menjadi alarm darurat nasional. Lebih dari sekadar kegagalan keamanan pangan, ini adalah kegagalan sistemik yang mengabaikan nilai edukasi. Sebuah program yang seharusnya memberikan nutrisi untuk otak justru gagal mengajarkan anak-anak kita tentang asal-usul makanan, higienitas, dan tanggung jawab.

Sudah saatnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengakhiri krisis narasi ini dan mengambil alih komando transformatif. Program MBG harus segera diangkat menjadi kurikulum wajib yang mengadopsi filosofi Kyushoku Jepang, dengan inti pada Shokuiku yang merupakan rohnya. Ini bukan lagi pilihan, melainkan mandat prioritas pendidikan nasional.

Melampaui Perut Kosong: Nilai Hilang dalam Model Kontraktor

Filosofi yang harus kita adopsi adalah sistem Kyushoku (食事 shokuji–makan siang) Jepang. Kyushoku adalah sistem penyediaan makan siang sekolah yang terpusat dan dikelola oleh pemerintah di mana makanan dimasak secara segar di dapur sekolah atau dapur terpusat di bawah pengawasan ahli gizi. Konsep ini menjamin kualitas dan keamanan pangan.

Proses produksi MBG di SPPG Babakan Madang 02, Kabupaten Bogor. Foto: Instagram/@sppgbabakanmadang02

Namun, yang membuat Kyushoku transformatif adalah roh di baliknya: Shokuiku (食育 – edukasi pangan). Shokuiku adalah filosofi nasional Jepang yang mendefinisikan waktu makan siang sebagai bagian integral dari jam pelajaran. Ini adalah proses yang mengajarkan siswa tentang gizi, asal-usul dan proses produksi makanan, tata krama makan, hingga tanggung jawab sosial di mana siswa aktif terlibat dalam penyajian dan pembersihan.

Model penyediaan makanan melalui kontraktor besar di Indonesia, yang berfokus pada volume dan biaya telah terbukti usang. Makanan datang dari luar, disajikan secara pasif, dan yang paling krusial, prosesnya tidak mengajarkan apa-apa. Anak-anak kehilangan momen emas untuk belajar.

Pertama, soal higienitas dan keamanan pangan. Anak tidak tahu bagaimana makanan itu disiapkan, menghilangkan kesadaran terhadap risiko kontaminasi dan pentingnya sanitasi. Kemudian, apresiasi dan rasa hormat: Siswa tidak diajarkan untuk menghargai makanan dan menghindari pemborosan (mottainai) karena mereka tidak terlibat dalam proses penyajian atau pembersihan. Terakhir, tanggung Jawab dan kerja sama. Waktu makan menjadi kegiatan individual, bukan pelajaran kolektif tentang tata krama dan gotong royong.

Di sinilah Kemendikdasmen harus mengambil peran kepemimpinan penuh. Filosofi Kyushoku di Jepang menetapkan waktu makan siang sebagai bagian integral dari jam pelajaran di mana guru wajib makan bersama siswa di kelas dan memandu proses tersebut. Inilah Shokuiku—memasukkan pendidikan gizi, etika makan, hingga tanggung jawab sosial ke dalam proses makan harian.

Ibunda Guru Indonesia yang juga Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, berkunjung ke SDN Pujokusuman 1, Kota Yogyakarta cek pelaksanaan MBG, Selasa (7/10/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Pilar Prioritas Kemendikdasmen: Integrasi Shokuiku Wajib

Untuk keluar dari jebakan kontraktor dan kegagalan pendidikan, Kementerian harus menetapkan tiga pilar Shokuiku sebagai prioritas tertinggi.

1. Mewajibkan Kurikulum Tanggung Jawab (Servis Diri)

Kementerian harus segera menerbitkan instruksi yang mewajibkan sistem pelayanan diri (self-service) di setiap sekolah dasar dan menengah. Siswa secara bergiliran harus bertugas menggunakan celemek dan topi khusus untuk menyajikan makanan kepada teman sekelasnya dan kemudian membersihkan meja serta peralatan makan mereka sendiri.

Aksi ini adalah katalisator pendidikan karakter. Ini bukan hanya tentang makan, tetapi tentang melatih kedisiplinan, kebersihan, empati, dan kerja tim. Kemendikbudristek harus menyediakan anggaran untuk pelatihan guru dan penyediaan alat pendukung (celemek, topi) sebagai bagian dari dana operasional sekolah (BOS) yang wajib.

2. Mengikat Gizi dengan Materi Ajar

Pelajaran tentang gizi, asal-usul bahan makanan, dan pola makan sehat tidak boleh lagi menjadi sekadar materi sisipan. Kementerian harus mengintegrasikannya secara eksplisit ke dalam mata pelajaran seperti IPA, IPS, bahkan Bahasa Indonesia dan Seni Budaya. Ahli gizi daerah yang direkrut oleh pemerintah (sebagaimana yang kita diskusikan) harus bekerja sama dengan kurator pendidikan untuk menyusun modul Shokuiku yang relevan dengan potensi pangan lokal. Ini adalah investasi langsung dalam literasi kesehatan jangka panjang. Anak yang mengerti dari mana nasinya berasal akan lebih menghargai setiap butir makanan di piringnya.

3. Mengubah Peran Guru dan Kepala Sekolah

Kementerian harus secara tegas mendefinisikan waktu makan siang sebagai jam belajar wajib. Guru harus dilatih untuk berperan sebagai fasilitator edukasi pangan, bukan sekadar pengawas. Kepala sekolah harus menjadi manajer mutu gizi di tingkat sekolah, yang bertanggung jawab penuh atas higienitas dan implementasi kurikulum Shokuiku harian.

Menu MBG yang dikembalikan SMPN 5 Rembang, Jawa Tengah. Foto: Dok. Istimewa

Peta Jalan Strategis: MBG sebagai Proyek Pendidikan

Mengadopsi Kyushoku memang membutuhkan perubahan infrastruktur besar. Oleh karena itu, Kemendikbudristek harus melihat MBG sebagai proyek manajemen strategis tiga fase yang harus diimplementasikan secara bertahap.

Fase 1: Standardisasi Kantin dan Sertifikasi Higienis (Jangka Pendek)

Kementerian harus bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk segera memberdayakan penjual kantin yang sudah ada. Namun, pemberdayaan ini harus diikat dengan sertifikasi wajib "Kantin Sehat MBG" yang menjamin standar higienitas skala besar. Makanan harus disiapkan dekat dengan siswa, memutus rantai risiko keracunan.

Fase 2: Pembangunan Pusat Produksi Makanan Daerah (Puspromada, Jangka Menengah)

Selama Fase 1 berjalan, Kemendikdasmen harus memimpin koordinasi pembangunan Pusat Produksi Makanan Daerah (Puspromada) atau sistem komisariat. Ini adalah dapur terpusat skala industri yang dikelola oleh Pemda dan diawasi oleh Ahli Gizi Sekolah profesional. Ini menjadi solusi ideal untuk mencapai efisiensi skala besar sambil mempertahankan kontrol kualitas non-kontraktor.

Fase 3: Integrasi Kurikulum Penuh (Jangka Panjang)

Setelah infrastruktur permanen terbangun, barulah integrasi Shokuiku penuh dapat diwujudkan di semua jenjang pendidikan, didukung oleh payung hukum yang kuat, seperti Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah Program Makan Bergizi Nasional.

Siswa SD di Desa Semanding, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, diduga keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: Istimewa

Momentum dan Komitmen

Kegagalan MBG di masa lalu adalah hasil dari pandangan sempit bahwa program ini hanya urusan logistik dan anggaran. Padahal, jantung keberhasilan program ini ada pada pendidikan.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah kini memegang kunci. Dengan latar belakang pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki dalam kebijakan publik dan manajemen proyek, jelas bahwa implementasi Shokuiku wajib adalah solusi yang paling pragmatis dan transformatif.

Mengadopsi filosofi Kyushoku berarti menanamkan investasi dalam modal manusia yang jauh melampaui usia program itu sendiri. Ini tidak hanya tentang memberikan makanan bergizi, tetapi tentang mencetak generasi yang bertanggung jawab, menghargai pangan, dan memiliki kesadaran higienitas yang tinggi.

Kemendikdasmen harus segera memprioritaskan ini sebagai proyek pendidikan karakter utama karena masa depan generasi emas Indonesia dipertaruhkan, mulai dari meja makan.