Kepemimpinan Prabowo dan Relevansi Komunikasi Politik Indonesia di Panggung Gaza

Political Storyteller, Public Policy Analyst
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Al Sandy Suharjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Sharm el-Sheikh untuk Perdamaian di Gaza pada Oktober 2025—yang disoroti oleh pujian khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Presiden RI Prabowo Subianto—merupakan sebuah studi kasus yang signifikan dalam komunikasi politik Indonesia di panggung global. Kehadiran dan peran Indonesia, melalui kepemimpinan Presiden Prabowo, berhasil dikomunikasikan secara efektif sebagai kekuatan penyeimbang yang berkomitmen pada perdamaian kemanusiaan di Gaza.

Komunikasi Simbolik: Validasi dari Kekuatan Global
Dalam komunikasi politik, tindakan non-verbal dan simbolisme sering kali berbicara lebih keras daripada pidato formal. Momen ketika Presiden Trump, selaku Co-Chair KTT, secara spesifik menyebut dan memuji Presiden Prabowo—mengatakan "sosok yang luar biasa," dan memberikan apresiasi "kerja bagus"—adalah bentuk validasi politik tingkat tinggi.
Pengakuan (Legitimasi Global): Pujian dari seorang pemimpin kekuatan global kepada Presiden Indonesia menggeser narasi dari sekadar kepedulian menjadi tindakan diplomatik yang diakui. Ini mengirimkan pesan jelas kepada publik domestik dan komunitas internasional bahwa upaya Indonesia tidak hanya diucapkan, tetapi juga dieksekusi dengan hasil yang berdampak, atau setidaknya diakui sebagai kontribusi positif.
Penentuan Posisi (Framing Indonesia): Momen jabat tangan hangat dan posisi Presiden Prabowo di barisan depan foto bersama—diapit oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Wakil Presiden PEA Syekh Mansour bin Zayed Al Nahyan—adalah komunikasi simbolik yang kuat. Posisi ini mem-framing Indonesia bukan lagi sebagai negara pinggiran yang sekadar bersuara, melainkan sebagai aktor sentral yang mampu menjembatani berbagai kepentingan: antara blok Barat (diwakili Macron), kekuatan Timur Tengah (diwakili Syekh Mansour), dan negara-negara Global South.
"Kerja Bagus": Aksi sebagai Pesan Utama
Pujian "kerja bagus" dari Presiden Trump menegaskan bahwa peran Indonesia dalam isu Gaza telah melampaui retorika. Dalam konteks komunikasi politik, pesan terkuat adalah aksi. Kehadiran langsung Presiden Prabowo di Mesir—yang notabene adalah negara kunci dalam upaya damai Timur Tengah—menunjukkan beberapa hal.
Komitmen Konkret: Ini mengkomunikasikan political will yang besar dari pucuk pimpinan negara untuk terlibat langsung dalam isu kemanusiaan dan geopolitik paling sensitif di dunia.
Diplomasi Kepercayaan: Keterlibatan di KTT yang menghasilkan penandatanganan dokumen damai—yang disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo—menunjukkan bahwa Indonesia memiliki saluran komunikasi dan tingkat kepercayaan yang diperlukan untuk bergerak bersama para pengambil keputusan utama dunia.
Trump bahkan menambahkan, "Indonesia adalah negara yang hebat dan kuat, negara ini melakukan hal yang luar biasa." Kalimat ini adalah endorsement yang memperkuat citra Indonesia di mata dunia sebagai negara yang mempraktikkan kebijakan luar negeri bebas dan aktif dengan efektif, mengarahkan kekuatan dan pengaruhnya untuk kepentingan perdamaian global.
Konsolidasi Kepemimpinan dan Soft Power
Secara domestik, momen di Sharm el-Sheikh berfungsi untuk mengonsolidasikan citra kepemimpinan Presiden Prabowo sebagai seorang diplomat ulung dan pemimpin yang dihormati di kancah internasional. Keberhasilan dalam diplomasi ini adalah modal politik yang vital.
Di sisi lain, secara global, peran Indonesia dalam konflik Gaza adalah manifestasi dari soft power yang dimilikinya—kekuatan yang berasal dari budaya, nilai-nilai kemanusiaan, dan kredibilitas moral.
Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kemerdekaan, Indonesia tidak hanya membantu upaya damai, tetapi juga mengkomunikasikan integritas moralnya sebagai pemimpin negara Muslim terbesar dan anggota komunitas global yang bertanggung jawab.
Kesimpulannya, KTT Sharm el-Sheikh adalah sebuah masterclass dalam komunikasi politik: sebuah aksi diplomatik yang terukur, didukung oleh simbolisme kuat, dan diakhiri dengan validasi dari kekuatan global. Ini memperkuat pesan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia adalah kekuatan diplomatik yang esensial dan aktif, yang kehadirannya membawa bobot dan harapan bagi terciptanya perdamaian di Gaza.
