Belajar di Sekolah yang Salah Kelola: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda

Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan UNPAM
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alamsyah Riky Wardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk tumbuh, belajar, dan mempersiapkan masa depan. Namun, ketika sebuah sekolah dikelola secara keliru tanpa visi, tanpa profesionalisme, dan tanpa tata kelola yang sehat, maka sekolah justru berubah menjadi ancaman serius bagi perkembangan peserta didik. Salah kelola sekolah bukan sekadar persoalan administratif, melainkan persoalan masa depan generasi muda.
Salah satu ciri utama sekolah yang salah kelola adalah kepemimpinan yang tidak memahami esensi pendidikan. Keputusan strategis sering diambil secara sepihak, reaktif, dan tidak berbasis kebutuhan pembelajaran. Fokus pengelolaan lebih tertuju pada kelangsungan institusi secara ekonomi atau kepentingan kekuasaan, sementara kualitas pendidikan dikesampingkan. Dalam kondisi seperti ini, arah sekolah menjadi kabur dan tidak memiliki tujuan jangka panjang yang jelas.
Dampak pertama dari salah kelola sekolah dirasakan langsung oleh siswa. Proses pembelajaran berlangsung seadanya, tanpa inovasi dan tanpa dukungan sistem yang memadai. Kurikulum sering kali tidak relevan dengan kebutuhan zaman, fasilitas terbatas, dan kegiatan pengembangan diri siswa kurang mendapat perhatian. Akibatnya, siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi akademik maupun nonakademik secara optimal.
Guru juga menjadi korban dari sistem yang buruk ini. Guru bekerja di tengah kebijakan yang tidak konsisten dan minim dukungan profesional. Ruang untuk berkreasi dan meningkatkan kompetensi semakin sempit karena pengelolaan sekolah tidak menempatkan guru sebagai aset utama. Ketika guru kehilangan motivasi dan semangat, kualitas interaksi pembelajaran pun menurun. Siswa akhirnya belajar dalam lingkungan yang kurang inspiratif.
Lebih jauh, sekolah yang salah kelola sering kali mengabaikan pembentukan karakter dan nilai. Pendidikan direduksi menjadi rutinitas administratif: hadir, mengajar, dan lulus. Padahal, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk etika, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial generasi muda. Ketika nilai-nilai ini tidak ditanamkan dengan baik, siswa tumbuh tanpa fondasi karakter yang kuat untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Ancaman dari salah kelola sekolah tidak selalu terlihat secara langsung. Dampaknya sering baru terasa ketika siswa lulus dan menghadapi dunia nyata. Lulusan yang kurang siap, minim keterampilan berpikir kritis, dan lemah dalam adaptasi menjadi bukti nyata bahwa proses pendidikan sebelumnya tidak berjalan dengan baik. Dalam skala yang lebih luas, kondisi ini berkontribusi pada rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Meski demikian, salah kelola sekolah bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Perbaikan selalu dimungkinkan jika ada kesadaran dan kemauan untuk berubah. Langkah awal yang penting adalah membangun kepemimpinan sekolah yang profesional dan visioner. Pemimpin sekolah harus memahami bahwa keberhasilan institusi diukur dari kualitas lulusan, bukan sekadar keberlangsungan organisasi.
Selain itu, tata kelola sekolah perlu diperkuat melalui sistem perencanaan yang jelas, evaluasi berkala, dan pengambilan keputusan berbasis data. Guru harus dilibatkan sebagai mitra strategis dalam merancang dan menjalankan program pendidikan. Dengan memberikan ruang bagi guru untuk berkembang, sekolah dapat menciptakan iklim pembelajaran yang sehat dan dinamis.
Peran orang tua dan masyarakat juga tidak kalah penting. Sekolah perlu membuka diri terhadap pengawasan dan masukan dari berbagai pihak. Transparansi dalam pengelolaan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan publik. Di sisi lain, pemerintah harus memastikan bahwa setiap sekolah, termasuk sekolah swasta, menjalankan fungsi pendidikan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Belajar di sekolah yang salah kelola adalah ancaman nyata bagi generasi muda. Namun, ancaman ini bisa diubah menjadi peluang jika semua pihak berani berbenah. Sekolah yang dikelola dengan baik tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang siap menghadapi masa depan. Pendidikan yang sehat selalu dimulai dari tata kelola yang bertanggung jawab.
