Cinta di Era Flexing: Masihkah Kita Mau Memberi Tanpa Pamrih?

Mahasiswa Sastra Inggris, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alarick Rafi Wirawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia yang penuh kejutan ulang tahun viral, video lamaran romantis, dan hadiah mewah yang dibagikan ke media sosial, cinta perlahan menjadi tontonan. Kita mencintai, tapi juga tampil. Kita memberi, tapi juga berharap dilihat.
Lalu datang cerita pendek sederhana dari lebih dari seratus tahun lalu, The Gift of the Magi karya O. Henry, yang seolah berbisik: “cinta yang sejati mungkin terlihat bodoh, tapi justru di sanalah nilainya.”
Della dan Jim adalah pasangan muda yang hidup miskin. Mereka tak punya banyak, kecuali cinta dan keinginan untuk saling memberi. Di malam Natal, Della menjual rambut indahnya untuk membeli rantai jam saku bagi Jim. Jim, tanpa sepengetahuannya, menjual jam sakunya untuk membeli sisir mahal bagi rambut Della.
Hadiah mereka menjadi ironi. Tak bisa digunakan. Tapi bukan itu poinnya.
Mereka tidak saling menyalahkan, tidak saling kecewa. Karena yang tersisa bukan hadiah, tapi pengorbanan. Bukan benda, tapi makna. Dan mungkin, justru di situlah bentuk cinta paling murni.
Zaman kita mungkin sulit menerima cinta seperti itu. Kita hidup di era di mana kasih sayang sering dikaitkan dengan harga cincin, kejutan yang direkam dengan kamera 4K, dan momen romantis yang harus bisa ditonton ulang.
Tapi The Gift of the Magi bertanya balik:
Apakah cinta harus selalu terlihat sempurna? Harus berujung pada sesuatu yang bisa dipakai, dipamerkan, atau bahkan dikembalikan?
Jim dan Della justru menjadi “bodoh” dengan cara yang paling bijak. Mereka memberi tanpa jaminan, tanpa rencana cadangan. Cinta mereka bukan tentang strategi, tapi tentang spontanitas memberi.
Dan di dunia yang serba kalkulatif, cinta seperti itu terasa makin langka.
Cerita O. Henry tidak mengajarkan kita untuk menjadi miskin demi romantisme. Tapi ia menunjukkan bahwa memberi karena cinta, bukan karena imbalan, adalah bentuk kepercayaan yang indah. Mereka tidak memberi hadiah terbaik. Mereka menjadi hadiah itu sendiri.
Saat ini, cinta mudah terjebak dalam performa. Tapi mungkin kita bisa belajar lagi: bahwa cinta sejati tak selalu bisa difoto. Tapi bisa dirasa. Bahwa memberi tanpa pamrih mungkin tidak viral, tapi akan selalu membekas.
Dan bahwa kehilangan demi orang yang kita cintai bukan kekalahan, tapi keberanian.
