Konten dari Pengguna

Merasa Tertinggal? Mungkin Kita Terlalu Sering Menyalahkan Diri Sendiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aulia Nurul Hikmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam sudah sangat larut tapi kepala masih berisik tanpa henti. Setelah beberapa menit scrolling media sosial, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ada teman yang baru saja membagikan kabar bahagia, sementara diri sendiri masih memikirkan berbagai hal yang belum berjalan sesuai harapan.

Perasaan seperti itu hampir pernah dirasakan oleh semua orang. Di tengah tuntutan untuk terus berkembang dan keinginan untuk mencapai berbagai target, tidak sedikit orang yang diam-diam merasa lelah. Bukan karena terlalu banyak tugas ataupun pekerjaan, tapi karena terlalu sering mempertanyakan dirinya sendiri.

Saat Kita Mulai Terlalu Keras kepada Diri Sendiri

Menjadi mahasiswa di era sekarang tidak hanya tentang menyelesaikan tugas atau menghadiri perkuliahan. Ada banyak hal lain yang tanpa disadari ikut menjadi tolak ukur keberhasilan. Mulai dari organisasi, lomba, magang, hingga pencapaian yang hampir setiap hari terlihat di media sosial. Tidak jarang hal tersebut membuat seseorang merasa harus selalu bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal dari orang lain.

gambar 1. Sumber: Getty images via canva pro

Akibatnya, kegagalan sering kali terasa sangat personal. Hasil yang belum sesuai harapan atau penolakan yang sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar perlahan berubah menjadi alasan untuk meragukan kemampuan diri sendiri. Padahal, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dan tidak semua hal harus dicapai dalam waktu yang sama.

Sayangnya, kita lebih sering melihat keberhasilan orang lain daripada proses panjang yang mereka lalui. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi jarang mengetahui berapa banyak rasa kecewa, kesalahan, dan penolakan yang mereka hadapi sebelum sampai di titik tersebut. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri pun semakin sulit dihindari.

Kepala yang Lelah Juga Membutuhkan Perhatian

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental merupakan kondisi sejahtera yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tekanan kehidupan, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada masyarakat. Dalam World Mental Health Report tahun 2022, WHO melaporkan bahwa sekitar 970 juta orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi faktor pemicu utama kondisi tersebut.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menyebutkan bahwa kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting, terutama pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Tekanan akademik, lingkungan sosial, dan perubahan gaya hidup dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang.

Kelelahan emosional memang tidak selalu terlihat. Seseorang mungkin tetap tersenyum, mengikuti perkuliahan, dan menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, di balik itu semua, ada pikiran yang tidak pernah benar-benar tenang dan hati yang terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

Padahal, menjadi lelah bukan berarti lemah. Tidak berhasil pada satu kesempatan juga bukan berarti tidak memiliki kemampuan. Gagal dan ditolak merupakan bagian yang hampir selalu hadir dalam perjalanan setiap orang.

Pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan lagi tugas kuliah yang menumpuk atau jadwal yang padat. Ada kalanya kelelahan terbesar justru datang dari kepala yang terlalu ramai dan hati yang terlalu keras kepada diri sendiri.