Konten dari Pengguna
Kisah Moderasi Beragama: Dari Bumi Lancang Kuning Menuju Tanah Melayu Asahan
9 September 2025 15:07 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Kisah Moderasi Beragama: Dari Bumi Lancang Kuning Menuju Tanah Melayu Asahan
Aku percaya bahwa belas kasih dan keterbukaan akan menghadirkan dialog antaragama. Aku bekerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi untuk menebarkan kasih Allah. #userstoryAlb Irawan Dwiatmaja
Tulisan dari Alb Irawan Dwiatmaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hidup di Tengah Kemajemukan: Pasir Pengaraian-Rokan Hulu
ADVERTISEMENT
Aku lahir di sebuah desa yang kala itu cukup kecil dan tidak terlalu dikenal banyak orang. Kami menetap di Pasir Pengaraian karena ibuku mendapat penugasan sebagai katekis. Aku berada di sini dari kecil hingga SMP dan setelahnya aku mengenyam pendidikan di berbagai daerah. Sebagaimana anak pada zamannya, aku juga mengalami banyak hal bersama teman-teman sebaya. Mayoritas penduduk Pasir Pengaraian beragama Islam dan suku Melayu, sedangkan Katolik hanya sedikit.
ADVERTISEMENT
Lingkungan tempatku tinggal, masyarakatnya mayoritas orang Jawa perantauan sehingga kebiasaan-kebiasaan Jawa masih dilakukan. Teman sebayaku di sekitar rumah tidak ada yang Katolik sehingga aku berteman dengan siapa saja. Waktu itu, kami tidak pernah berpikir agama dalam berteman. Semuanya berjalan begitu saja secara alami. Kami berbaur begitu saja tanpa ada sekat dan batasan. Aku dengan bebas bermain ke rumah teman dan begitu sebaliknya. Kami merasa bahagia dan senang kala itu.
Apabila mengingat momen-momen saat kami bermain, ada hal-hal yang aku lakukan secara spontan tanpa memikirkan dampak ke depannya. Namun, hal itu justru membuat kami berteman bukan karena ada sesuatu, tetapi karena ketulusan hati. Aku masih ingat momen ketika puasa. Malam harinya, semua teman-teman pergi ke masjid untuk tarawih, tetapi mereka tidak lupa untuk mengajakku.
ADVERTISEMENT
Tanpa basa-basi, aku spontan ikut bahkan aku mengambil sarung dan ikut bersama mereka untuk pergi tarawih. Ketika mereka salat, aku duduk di luar dan melihat mereka dari kejauhan (pos ronda), menunggu mereka keluar untuk bermain petak umpet. Ketika waktu ceramah, teman-temanku keluar dan akhirnya kami bermain petak umpet sampai waktu tarawih selesai. Lagi-lagi, aku tidak pernah berpikir apa pun kala itu karena yang kupikirkan hanya kesenanganku bisa bermain bersama teman-teman. Pagi harinya, ketika salat subuh, kami bersama-sama lagi pergi, tetapi kami sedikit nakal karena mencari buah durian atau kuini (mangga) yang jatuh dari pohon yang tidak bertuan.
Selain itu, kampung kami masih melakukan tradisi rewang ketika diadakan acara seperti sunatan, pernikahan, atau mendoakan orang yang sudah meninggal. Ketika satu keluarga mengadakan hajatan, satu kampung merasa yang memiliki hajatan. Ibuku dan para ibu Katolik lainnya berbaur dan saling membantu dengan yang lain. Saat itulah terjadi kontak antarsesama masyarakat. Aku melihatnya, mereka begitu akrab bercengkrama, saling mengejek, curhat, dan meneguhkan.
ADVERTISEMENT
Mencari Makna Hidup: Sibolga-Siantar-Yogyakarta
Usai menyelesaikan pendidikan SMP, aku mengenyam pendidikan di Sibolga. Aku tinggal di asrama tempat pembinaan calon imam Katolik. Situasi ini merupakan hal yang baru karena selain tempat, aku berteman dengan teman yang bukan lagi dari suku Jawa, Melayu, atau Minang, tetapi dengan teman yang mayoritas suku Batak Toba dan Nias.
Setelah dari Sibolga, aku melanjutkan Pendidikan ke Pematangsiantar dan Yogyakarta. Sejak di Sibolga hingga di Yogyakarta, aku berteman dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda. Perjumpaan dengan banyak orang dan berbagai macam latar belakang tersebut memperkaya, mendewasakan, dan menjadikanku terbuka. Sepertinya, modal awal perjumpaan itu sudah didapat ketika kecil dan diperkuat lagi ketika merantau.
Sejak di Sibolga sampai ke Yogyakarta, aku digembleng dan dididik secara keras tentang iman Katolik. Aku belajar inti terdalam mengenai iman Katolik hingga jenjang magister. Aku yang dulu tidak begitu banyak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang iman Katolik menjadi kaya ketika belajar selama 13 tahun di sekolah Katolik: 4 tahun di Seminari Menengah St. Petrus Sibolga, 5 tahun mendalami filsafat dan teologi dasar, serta 4 tahun di jenjang Magister Filsafat Keilahian. Semua pelajaran yang kuterima menggugahku untuk meyebarkan kasih Allah ke seluruh dunia melalui setiap tindakan dan pekerjaan.
ADVERTISEMENT
Menebarkan Kasih Allah di Bumi Asahan
Juli 2019, aku memulai pekerjaan sebagai penyuluh agama Katolik di Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan. Penyuluh merupakan orang yang diberi tugas untuk menyampaikan ajaran agama dan program pemerintah. Memakai bahasa Gereja Katolik, penyuluh itu sejajar, bahkan sama dengan katekis. Hanya saja penyuluh berada di bawah naungan Kementerian Agama, sedangkan katekis di bawah naungan Gereja.
Pada umumnya, masyarakat Asahan memeluk agama Islam. Menurut data, masyarakat Asahan yang beragama Katolik sebanyak 0,68%. Keberadaan mereka tersebar di 25 kecamatan yang terdapat di Kab. Asahan. Secara umum, umat Katolik Asahan adalah Batak Toba, Simalungun, Karo, dan beberapa suku lainnya. Di Kab. Asahan hanya ada satu paroki yaitu Gereja Katolik Paroki Sakramen Mahakudus, Kisaran. Namun, beberapa daerah di Asahan dilayani dari Paroki Aek Kanopan Labuhanbatu Utara, Paroki Tanah Jawa Simalungun, dan Paroki Tanjungbalai.
ADVERTISEMENT
Berada di tanah Melayu bukanlah sesuatu yang baru bagiku. Bagiku, hal baru di Asahan adalah pelayanan terhadap umat Katolik yang mayoritas suku Batak Toba, Simalungun, Karo, dll. Bagi mereka, kedatanganku dengan status Jawa Katolik merupakan sesuatu baru. Secara umum, umat Katolik Asahan berpikir bahwa semua orang Jawa itu beragama Islam.
Seiring berjalannya waktu, aku bekerja sama dan bahkan terlibat aktif di Paroki Sakramen Mahakudu, Kisaran, dengan berbagai macam kegiatan seperti katekese ke stasi, wilayah, maupun lingkungan. Dalam satu kegiatan, aku diminta untuk menjadi pemateri seputar iman Katolik. Di kegiatan lain, aku menjadi pemimpin ibadat di lingkungan. Aku pun banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kepanitian seperti Carmel Cup, pesta Rayon, maupun perencanaan dan pembangunan gereja.
ADVERTISEMENT
Aku tidak mengalami kesulitan yang begitu signifikan ketika berkomunikasi dengan mereka karena aku sudah mempelajari bahasa Batak Toba ketika di Sibolga dan Pematangsiantar. Aku juga sangat paham tradisi yang terdapat dalam Toba. Pengalaman di Sibolga dan Pematangsiantar menjadi tempat pembelajaran pertamaku tentang suku Batak secara umum dan suku Batak Toba secara khusus.
Selain kegiatan yang bekerja sama dengan paroki, aku juga menjadi tenaga pengajar untuk siswa Katolik yang bersekolah di sekolah negeri dan tidak mempunyai guru agama Katolik. Situasi ini sungguh memprihatinkan karena di beberapa tempat, ada begitu banyak siswa Katolik di sekolah negeri yang belajar agama Kristen (Protestan). Padahal, Katolik dan Kristen merupakan dua entitas agama yang berbeda meskipun sepintas terlihat sama.
ADVERTISEMENT
Setiap Senin sampai Jumat, aku memberi mereka pengetahuan iman Katolik yang belum pernah didapatkan. Aku harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit untuk sekolah yang satu dan sekitar 1 jam 45 menit untuk sekolah yang lain. Aku tidak pernah meninggalkan tugasku sekalipun hujan dan jalan yang sangat becek. Sebagai ASN, aku belajar untuk tetap setia dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Terkadang timbul candaan dari teman-teman penyuluh agama lainnya dan dari teman-teman kantor, “Selow aja bro. Jangan paksa kali.”
Berbaur dengan orang Melayu Asahan bukanlah hal yang sulit. Ketika berada di tengah mereka, aku secara otomatis dapat mengikuti kebiasan yang ada. Sementara mereka tahlilan, aku datang dan duduk ketika terjadi acara masyarakat untuk mendoakan orang yang meninggal. Ketika teman kantor ingin naik haji, aqiqah, atau menikah, aku datang untuk ikut merasakan sukacita yang dialami.
ADVERTISEMENT
Dalam pergaulan sehari-hari, aku tidak pernah pilah-pilih teman karena agama. Bahkan, mayoritas temanku beragama Islam. Dalam perbincangan, kami tidak pernah membahas tentang agama, Kalau pun ada, aku akan menjelaskan sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.
Salah seorang temanku di kantor menyatakan bahwa kehadiranku menjadi oase tentang iman Katolik yang selama ini belum ada di Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan dan aku tidak tahu apakah itu adalah sebuah candaan atau bukan. Memang, aku tidak hanya berbicara, tetapi aku juga menulis beberapa hal seputar iman Katolik, baik di jurnal ilmiah maupun di media sosial atau website. Bagi mereka, kehadiranku menjadi sebuah pembeda. Selain pengalaman masa kecil yang memengaruhiku, aku ingin menghadirkan wajah Katolik yang berbelas kasih dan terbuka pada siapa saja. Aku percaya bahwa belas kasih dan keterbukaan akan menghadirkan dialog sehingga akan saling memahami dan menghilangkan kecurigaan.
ADVERTISEMENT
Pelayananku di bumi Asahan masih panjang. Aku datang ke Asahan ini memang ditugaskan sebagai aparatur sipil negara, tetapi aku juga melayani Gereja. Aku meneladani kata-kata ayahku ketika merantau ke Pasir Pengaraian, “Aku bekerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi untuk menebarkan kasih Allah.”

