Konten dari Pengguna

Sawit: Anugerah atau Musibah?

Alb Irawan Dwiatmaja

Alb Irawan Dwiatmaja

Alumnus Filsafat Keilahian Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alb Irawan Dwiatmaja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ekonomi masyarakat Riau meningkat karena sawit (Foto: Irawan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ekonomi masyarakat Riau meningkat karena sawit (Foto: Irawan)

Tahun 1980-an hingga awal tahun 2000-an, masyarakat Riau belum begitu familiar dengan kelapa sawit. Riau masih hutan yang luas dan orang enggan untuk datang ke Riau. Situasi Riau yang masih asri dengan banyak pepohonan membuat udaranya sejuk dan masih banyak satwa liar seperti burung murai dan berbagai jenis burung lainnya, kera, babi hutan, tapir, landak, dan lain-lain. “Awal kami datang ke sini, asri sekali. Udaranya segar dan berbagai jenis pepohonan masih banyak. Air sungai masih bersih sehingga kami tak segan-segan untuk mandi”, ujar salah seorang warga Rokan Hulu yang usianya 72 tahun.

Situasi berubah ketika sawit menjadi idola baru untuk masyarakat Riau pada tahun 2000-an. Kehadiran sawit menandai era baru untuk masyarakat Riau. Dengan hadirnya sawit, orang tidak lagi mengandalkan bekerja di sebuah perusahaan melainkan banyak yang menjadi pengusaha sawit. Mereka ingin menjadi tuan atas diri sendiri karena dapat menentukan waktu kapan akan bekerja atau tidak bekerja. Harga jual sawit sangat menjanjikan. Harga sawit semakin lama semakin melambung tinggi. Harga sawit per hari ini sekitar mencapai Rp 3.300 per kilogram. Satu hektar kebun kelapa sawit menghasilkan sekitar 3 hingga 4 ton per panen. Kalau dihitung maka penghasilan petani sawit per panen mencapai Rp. 10 juta. Penghasilan yang cukup besar membuat banyak orang tergiur berlomba-lomba untuk membeli lahan sawit. Merawat sawit tidak membutuhkan banyak perhatian seperti merawat tanaman lainnya. Situasi geografis Riau juga sangat mendukung untuk tanaman sawit seperti jenis tanah, relief tanah, elevasi, dan topografi. Untuk menanam sawit, tidak dibutuhkan keterampilan khusus yang harus didalami bertahun-tahun. Faktor-faktor tersebut yang membuat masyarakat sangat tertarik untuk menanam sawit.

Riau yang awalnya merupakan hutan belantara yang tidak diminati orang untuk ditinggali menjadi surga bagi mereka yang mulai mencari lahan untuk menanam sawit. Dulu, tidak begitu banyak sumber daya alam yang bisa diandalkan dari Riau. Munculnya sawit mengubah bentuk Riau. Perantau yang dulu tidak berminat melihat Riau mulai berdatangan dari daerah Sumaera Barat dan Sumatera Utara untuk mengadu nasib ke Riau dengan menanam sawit.

Kelapa Sawit Sumber Anugerah

Kelapa sawit menjadi idola baru di Riau dan setiap orang berlomba-lomba untuk memiliki banyak kebun sawit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau Tahun 2023, Riau memiliki luas areal kelapa sawit terbesar di Indonesia sebanyak 3,4 juta hektar. Lahan sawit yang diusahakan oleh masyarakat Riau masih menempati peringkat pertama, disusul perusahaan swasta, dan perusahaan negara. Luas perkebunan kelapa sawit meningkat secara signifikan, dari 2,71 juta hektar pada tahun 2019 menjadi 3,4 juta hektar di tahun 2023. Provinsi Riau menjadi provinsi penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia dengan 19,59 persen dari total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Sejalan dengan jumlah lahan yang besar begitu juga dengan produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) di Riau juga besar. Pada tahun 2023, jumlah produksi CPO di Riau sebanyak 9,22 juta ton atau sekitar 19,59 persen dari total produksi Indonesia (BPS Provinsi Riau, 2025).

Data dari BPS Provinsi Riau tentang Statistik Kelapa Sawit Provinsi Riau 2023 memerlihatkan bahwa kelapa sawit menjadi tumpuan utama perekonomian masyarakat Riau saat ini. Kontribusi kelapa sawit Riau terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) cukup besar yaitu sekitar 17,15 persen. Kelapa sawit mendongkrak perekonomian masyarakat Riau. Kelapa sawit penting karena bisa menghasilkan minyak nabati. Minyak dari kelapa sawit bisa dipakai untuk berbagai keperluan, seperti minyak masak, minyak industri, atau sebagai bahan bakar yaitu biodiesel. Permintaan olahan dari sawit untuk berbagai macam keperluan sangat tinggi membuat kelapa sawit menjadi komoditi yang paling tinggi permintaannya bahkan hingga keluar negeri (ekspor).

Luasnya lahan kelapa sawit dan tingginya produksi CPO mendongkrak perekonomian masyarakat Riau. Peningkatan ekonomi bukan hanya eksklusif milik petani sawit tetapi juga berdampak pada sektor lainnya seperti daya beli masyarakat semakin meningkat, pertumbuhan daerah-daerah baru, terbukanya lapangan pekerjaan yang semakin meluas, dan lain sebagainya. Sawit mengubah wajah Riau yang semakin kokoh dari sektor ekonomi. Sawit bukan saja membuat sejahtera masyarakat Riau tetapi juga bagi siapa saja yang berada di Riau dan yang mencari nafkah di Riau. Mengulangi kata-kata yang sering disebutkan orang, “Kelapa sawit merupakan kurmanya Riau.”

Kelapa Sawit Jadi Musibah?

Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran sawit mengubah Riau. Riau menjadi rumah untuk setiap orang yang ingin mengubah nasib. Orang berbondong-bondong datang ke Riau dan berusaha untuk memiliki lahan sawit. Lahan yang dahulunya masih hutan mulai dibuka dan ditanami sawit.

Perkembangan perkebunan sawit baik milik per orangan maupun perusahaan di satu sisi meningkatkan ekonomi tetapi di sisi lain membawa efek negatif untuk kebaikan/kesejahteraan bersama (bonum communae). Lahan yang awal peruntukkannya bagi lahan persawahan, tanaman palawija, pohon karet, tanaman musiman, dan sejenisnya diganti dengan sawit. Memang tidak ada aturan yang melarang untuk mengganti tanaman-tanaman musiman dengan sawit tetapi dampak negatif yang ditimbulkan dengan mengganti tanaman tersebut dengan kelapa sawit sangat terasa. Salah satu dampak yang paling dirasakan yaitu debit air yang menurun. Debit air di beberapa sungai mulai menurun misalnya di Sungai Rokan Kanan dan Rokan Kiri, dan sungai-sungai kecil lainnya. Di beberapa daerah di pusat pemerintahan setiap kabupaten/kota sudah sulit mendapatkan air bersih yang layak pakai dan konsumsi.

Beberapa tahun belakangan, guna memperluas lahan kebun sawit banyak orang mulai merambah hutan atau deforestasi terhadap hutan negara atau hutan lindung. Hutan negara atau hutan lindung yang dirambah untuk dijadikan lahan sawit terjadi misalnya di daerah Kec. Koto Kampar XIII Kab. Kampar dan Kec. Rokan IV Koto Kab. Rokan Hulu yang berada di sepanjang Bukit Barisan. Hutan lindung merupakan habitat dari aneka satwa dan fauna, dan hutan sebagai penyeimbang ekosistem makhluk hidup. Hutan memiliki banyak fungsi dalam hidup sehingga perusakan dengan segala cara tidak dibenarkan tetapi yang terjadi ialah hutan-hutan di Riau sudah banyak dialihfungsikan menjadi kebun sawit. Deforestasi membuat hilangnya habitat satwa dan fauna sehingga menyebabkan mereka punah. Hutan menjadi penyumbang terbesar oksigen. Udara yang sehat dan segar bisa tersedia ketika hutan terpelihara dan dijaga dengan baik.

Ilustrasi hutan Bukit Suligi yang ditanami sawit (Foto: Irawan)

Deforestasi menyebabkan suhu di Riau menjadi ekstrim. Riau terasa panas sekali saat ini. Di segala daerah, suhu Riau mencapai 33 derajat celsius. Ketika musim kemarau, dengan mudah terjadi kebakaran yang menimbulkan kabut asap yang menyebabkan gangguan pernapasan. Ketika musim hujan, Riau akan dengan mudah banjir di kota seperti di kota Pekanbaru dan mengalami longsor di daerah sekitar Bukit Barisan.

Pertobatan Ekologis: Membatasi Lahan Kelapa Sawit demi Pelestarian Alam

Kelapa sawit menjadi primadona karena menaikkan perekonomian masyarakat Riau. Setiap orang berusaha untuk memiliki lahan sawit sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara baik dengan cara yang wajar dengan mengusahakan tanah pribadi maupun dengan cara negatif dengan merambah hutan. Masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama untuk membatasi penambahan lahan sawit demi bumi yang sehat. Mengutip kata-kata Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, “Sumber daya bumi dijarah karena konsep ekonomi. Hilangnya hutan dan area hutan lainnya menyebabkan hilangnya spesies yang bisa menjadi sumber daya penting di masa depan, bukan hanya untuk makanan, tetapi juga untuk mengobati penyakit dan berbagai manfaat lainnya.”

Bumi yang sudah sakit sudah saatnya dipulihkan kembali. Penanaman sawit yang tak terkendali sudah harus dibatasi. Pemerintah harus tegas dan membuat aturan yang ketat untuk penanaman sawit. Pemerintah jangan membiarkan dan mentolerir oknum-oknum yang ingin memperluas lahan kelapa sawit dengan dalih “manusia butuh makan”. Penanaman sawit secara gencar dengan mengabaikan kenanekaragaman hayati merusak ekosistem yang ada. Masyarakat Riau sudah merasakan dampak negatif dari hilangnya rimba dan hutan lainnya. Peralihan hutan asli dengan perkebunan sawit kurang mendapat kajian yang cukup. Peralihan ini bisa sangat berdampak pada keanekaragaman hayati karena entitas asli tidak bisa bertahan hidup bersama dengan entitas baru (bdk. Laudato Si’, no. 39).

Merawat lingkungan berarti kita harus berpikir ke depan karena jika kita hanya fokus pada mendapatkan uang dengan instan dan gampang, maka tidak akan ada yang peduli dengan pelestarian alam. Namun, kerugian akibat kelalaian yang egois jauh lebih tinggi dibandingkan dengan keuntungan yang kita dapatkan. Ketika suatu spesies punah atau mengalami kerusakan parah, nilainya tidak bisa diukur. Sudah saatnya masyarakat Riau membatasi penanaman kelapa sawit yang mulai tak terkendali dan mengembalikan fungsi hutan seperti awal mula sebagai bentuk pertobatan ekologis (bdk. Laudato Si’, no. 36).

Pertobatan ekologis berarti benar-benar memahami bahwa kita tidak bisa terpisah dari makhluk-makhluk lain, dan semua kita saling terhubung dalam sebuah persaudaraan yang indah dengan seluruh alam semesta. Sebagai orang yang beriman, kita melihat dunia bukan hanya dari sisi luar, tetapi dari dalam, dengan memahami hubungan yang dibangun oleh Allah Bapa antara kita dan seluruh makhluk. Pertobatan ekologis mengajak orang beriman untuk tumbuh dalam semangat dan kreativitasnya dalam menghadapi berbagai masalah dunia dengan memberikan diri kepada Allah, seperti yang tertulis dalam Roma 12:1, “Jadikanlah dirimu persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Orang yang beriman tidak memandang kelebihannya sebagai alasan untuk menipu diri sendiri atau mengendalikan hidup dengan cara tidak bertanggung jawab, melainkan sebagai sesuatu yang istimewa yang memberi tanggung jawab besar kepada kita. Dengan mengingat contoh Santo Fransiskus dari Assisi, kita tahu bahwa memiliki hubungan yang baik dengan alam ciptaan merupakan bagian penting dari pertobatan yang benar (Laudato Si’, no. 220).