Konten dari Pengguna

Pemegang Kunci Transisi Energi, Mengapa Afrika Tidak Bisa Memaksimalkannya?

Albert Saputra

Albert Saputra

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Albert Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Potensi sumber daya. Sumber: GeminiAI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Potensi sumber daya. Sumber: GeminiAI

Pendahuluan

Afrika adalah jantung dari ekonomi global modern, meskipun sering diposisikan sebagai pinggiran dalam narasi pembangunan. mulai dari kobalt di Republik Demokratik Kongo hingga litium di Zimbabwe, benua ini menyuplai bahan mentah krusial bagi industri teknologi dan energi bersih dunia. Ironisnya, negara-negara tersebut tetap terjebak dalam kemiskinan struktural, ketergantungan ekonomi, dan kapasitas industri yang lemah. Di tengah pergeseran menuju dunia multipolar, muncul pertanyaan mendasar bagi kita "apakah meningkatnya persaingan global membuka peluang bagi Afrika, atau justru memperkuat pola eksploitasi lama dalam bentuk baru?"

Masalahnya bukan sekadar “Afrika tidak berkembang,” melainkan bagaimana struktur ekonomi global secara sistematis membatasi kemampuan Afrika untuk naik dalam rantai nilai. Ketika mineral diekspor dalam bentuk mentah dan produk bernilai tinggi diproduksi di luar benua, maka ketimpangan bukanlah kecelakaan, melainkan hasil desain.

Studi Kasus: Kobalt Kongo dan Industri Baterai Global

Ilustrasi Ekspor Kobalt Ke China Sumber: GeminiAI

Kasus paling mencolok dapat dilihat pada produksi kobalt di Republik Demokratik Kongo, yang menyumbang lebih dari 70% pasokan global. Kobalt merupakan komponen penting dalam baterai kendaraan listrik yang merupakan industri yang menjadi tulang punggung transisi energi global.

Namun, meskipun menguasai sumber daya, Kongo tidak menguasai industri. Sebagian besar kobalt diekspor dalam bentuk mentah ke perusahaan asing, terutama dari China, yang kemudian mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi seperti baterai lithium-ion. Bahkan ketika investasi manufaktur mulai masuk ke Afrika, seperti pembangunan pabrik baterai oleh perusahaan Tiongkok, terdapat pembatasan implisit: bahan baku tetap tidak sepenuhnya berasal dari Afrika, teknologi tidak sepenuhnya ditransfer, dan rantai produksi tetap dikendalikan pihak eksternal. Akibatnya, Afrika tetap berada di posisi “extractive economy” yaitu pengekspor bahan mentah, bukan produsen barang jadi.

Analisis: Ketergantungan yang Direproduksi dalam Sistem Baru

Ada asumsi umum bahwa masalah utama Afrika adalah kurangnya kapasitas domestik. Namun asumsi ini perlu diuji. Pertanyaannya bukan hanya apakah Afrika mampu, tetapi apakah sistem global memungkinkan Afrika untuk mampu.

Dari perspektif skeptis, pembatasan seperti larangan penggunaan 100% bahan lokal dalam produksi sebenarnya bukan kebetulan teknis, melainkan strategi geopolitik. Negara dan perusahaan besar mempertahankan diversifikasi rantai pasok untuk menghindari ketergantungan pada satu wilayah tetapi dalam praktiknya, hal ini juga menghambat negara produsen untuk menguasai seluruh rantai nilai. Ini menciptakan ilusi integrasi global, padahal yang terjadi adalah fragmentasi yang dikendalikan.

jika kita gali lebih dalam, jika dilihat melalui teori dependency, Afrika tidak gagal berkembang tapi justru berfungsi persis seperti yang “dibutuhkan” oleh sistem kapitalisme global: sebagai pemasok bahan mentah murah. Dalam konteks ini, bahkan investasi asing yang tampak menguntungkan bisa menjadi bentuk “neo-dependency,” di mana industrialisasi terjadi, tetapi tidak secara mandiri.

Namun, perspektif alternatif juga perlu dipertimbangkan. Tidak semua keterbatasan berasal dari luar. Faktor domestik seperti korupsi, lemahnya institusi, dan konflik internal juga berkontribusi besar terhadap kegagalan industrialisasi. Bahkan jika sistem global lebih terbuka, tanpa reformasi internal, Afrika tetap berisiko gagal memanfaatkan peluang tersebut.

Di sinilah dunia multipolar menjadi ambivalen. Di satu sisi, meningkatnya persaingan antara kekuatan seperti Amerika Serikat dan China memberi Afrika ruang tawar yang lebih besar. Negara-negara Afrika kini dapat memainkan strategi “hedging” untuk mendapatkan investasi, teknologi, dan keuntungan politik. Namun di sisi lain, tanpa strategi kolektif dan kapasitas negosiasi yang kuat, Afrika justru bisa menjadi arena perebutan pengaruh bukan aktor yang menentukan arah.

Kesimpulan

Ilustrasi Afrika Dikunci Oleh Kekuatan Besar. Sumber: GeminiAI

Afrika tidak kekurangan sumber daya, tetapi kekurangan kedaulatan atas bagaimana sumber daya itu diolah dan dimonetisasi. Paradoks ini tidak bisa dijelaskan hanya dengan kegagalan internal atau eksploitasi eksternal secara terpisah tapi keduanya saling menguatkan dalam struktur global yang tidak seimbang.

Dunia multipolar memang membuka peluang baru, tetapi peluang tersebut tidak otomatis menghasilkan transformasi. Tanpa strategi industrialisasi yang tegas, koordinasi regional, dan renegosiasi posisi dalam rantai nilai global, Afrika berisiko mengulang pola lama dalam wajah baru. Pertanyaannya bukan lagi apakah Afrika bisa berkembang, tetapi apakah Afrika mampu mengubah aturan main atau akan terus bermain dalam aturan yang dirancang untuk membuatnya tetap di tempat.