Konten dari Pengguna

Propaganda dalam Konflik Energi, Siapa di Balik Serangan Kilang Minyak Saudi?

Albert Saputra

Albert Saputra

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Albert Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Warga Iran berkumpul usai pengumuman tewasnya pemimpin Iran Ali Khamenei oleh Israel and Amerika di Teheran, Iran (1/3/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Warga Iran berkumpul usai pengumuman tewasnya pemimpin Iran Ali Khamenei oleh Israel and Amerika di Teheran, Iran (1/3/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via Reuters

Dalam krisis geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah, narasi bukan hanya alat saja, ia menjadi medan perang itu sendiri. Ketika Amerika Serikat dan sekutunya menuduh Iran bertanggung jawab atas serangan drone terhadap fasilitas minyak besar di Ras Tanura, Arab Saudi pada awal Maret 2026, resonansi tuduhan ini melampaui soal siapa yang menembakkan pesawat tanpa awak. Tuduhan seperti itu, tanpa bukti terbuka dan verifikasi independen, berpotensi menjadi bagian dari strategi propaganda besar yang diabdikan untuk membentuk opini publik global dan membenarkan langkah kebijakan agresif tertentu.

Pemerintah AS dan sekutunya dengan cepat menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi, menyebutnya sebagai akt of war yang mengancam stabilitas energi global. Tuduhan semacam itu terutama ketika dikaitkan dengan musuh geopolitik yang sudah lama mengandung kekuatan naratif yang besar. Tanpa verifikasi yang transparan dan proses forensik publik, narasi Iran sebagai agresor tunggal seringkali ditelan mentah publik dan media global.

Namun, perlu diingat bahwa Islam Republik Iran sendiri telah keras membantah keterlibatannya, bahkan menyebut kemungkinan operasi “false flag” yang dilancarkan oleh aktor lain (termasuk potensi keterlibatan intelijen atau militer negara lain) sebagai dasar dari insiden tersebut. Media semi-resmi Iran menyampaikan bahwa serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Ras Tanura bukan dilakukan oleh Iran tapi merupakan operasi yang disandarkan kepada pihak lain, termasuk kemungkinan keterlibatan Israel, sebuah klaim yang sama-sama belum independen diverifikasi.

Langkah serupa bukan pertama kali di dunia politik kontemporer. Ketika suatu negara besar atau sekutunya berusaha mengukuhkan dukungan multilateral untuk tindakan militer, tuduhan terhadap pihak yang secara historis dianggap musuh seringkali menjadi alat retoris utama, terlepas dari bukti yang tersedia di ruang publik. Dalam media framing, istilah seperti “aksi Iran” atau “ancaman Iran terhadap pasokan energi” dapat memicu dukungan domestik dan internasional untuk sanksi, basis militer tambahan, atau operasi militer langsung. Namun, ini juga menunjukkan bagaimana narasi bisa lebih cepat menyebar daripada bukti independen, apalagi analisis forensik yang terbuka untuk ditelaah publik.

Kritikus skeptis sering menyoroti bahwa mekanisme pemeriksaan bukti seperti citra satelit yang dipakai pemerintah AS dalam insiden serupa di masa lalu (misalnya serangan Aramco pada 2019) tidak selalu transparan atau cukup untuk menarik kesimpulan mutlak tentang pelaku atau asal serangan. Ada kritik yang menilai bahwa justifikasi semacam itu kadang mengabaikan kemungkinan lain — seperti kelompok lokal yang bertindak tanpa komando langsung dari Teheran, peran milisi proksi yang mempunyai motivasi sendiri, atau bahkan operasi yang dirancang untuk memaksa eskalasi konflik oleh aktor yang berkepentingan dalam mempengaruhi arah geopolitik yang lebih luas.

Dari perspektif propaganda, tuduhan tajam terhadap Iran berfungsi untuk menciptakan “musuh jelas” dalam narasi konflik energi sebuah narasi sederhana yang menarik dukungan global tanpa perlu memperlihatkan kompleksitas sebenarnya dari hubungan kekuasaan di kawasan. Tetapi seperti yang pernah terjadi dalam sejarah konflik besar lain, kepercayaan massa terhadap tuduhan ini sangat bergantung pada penerimaan narasi dominan oleh media arus utama dan kepatuhan politik pemerintah lain di panggung internasional.

Ini bukan hanya tentang siapa yang memukul kilang minyak, tapi ini tentang bagaimana tuduhan itu dipetakan ke dalam logika besar antarkekuatan global, yang sering kali mengorbankan kerumitan, bukti independen, dan kesempatan untuk penyelidikan yang kredibel. Keputusan media dan pejabat politik untuk langsung percaya atau menyebarkan tuduhan tanpa transparansi bisa mempersempit ruang diskusi yang jujur di masyarakat global tentang akar konflik dan konsekuensi nyata terhadap rakyat sipil dan ekonomi dunia.

Di akhir hari, jika kita serius tentang kebenaran, kita harus menuntut verifikasi independen yang prasangka-netral, bukti forensik yang ditinjau oleh pihak ketiga yang kredibel, dan diskusi publik yang menghormati kompleksitas konflik. Tanpa ini, kita berisiko jatuh ke dalam nama-calling geopolitik dengan melihat Iran atau negara mana pun sebagai kambing hitam yang cocok dengan narasi tertentu, sementara yang sebenarnya terjadi di lapangan bisa jauh lebih rumit daripada narasi propaganda yang terlanjur mengakar.