Konten dari Pengguna

Penunjukan Gattuso, Pilihan Terbaik atas Keterbatasan Kandidat?

Albertus Dio Sukma

Albertus Dio Sukma

Unleash your true potential

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Albertus Dio Sukma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penunjukan Gattuso, Pilihan Terbaik atas Keterbatasan Kandidat?
zoom-in-whitePerbesar

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi menunjuk Gennaro Gattuso sebagai pelatih Timnas Italia pada Juni 2025, menggantikan Luciano Spalletti yang dipecat setelah kekalahan memalukan 3-0 dari Norwegia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Penunjukan ini memicu diskusi di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola: apakah Gattuso benar-benar pilihan terbaik, atau hanya solusi terpaksa karena keterbatasan kandidat? Tulisan ini mengulas latar belakang keputusan FIGC, rekam jejak kepelatihan Gattuso, serta peluang Italia lolos ke Piala Dunia 2026 di bawah asuhannya.

Latar Belakang Penunjukan Gattuso

Kepergian Spalletti dipicu oleh performa buruk Italia di awal kualifikasi, termasuk kekalahan telak dari Norwegia, meskipun diakhiri dengan kemenangan 2-0 atas Moldova. FIGC awalnya menargetkan Claudio Ranieri, pelatih berpengalaman yang sukses bersama Leicester City. Namun, Ranieri menolak karena komitmennya sebagai penasihat AS Roma. Nama lain seperti Stefano Pioli, Daniele De Rossi, dan Fabio Cannavaro juga muncul, tetapi Pioli dikabarkan bergabung dengan Fiorentina, sementara De Rossi dan Cannavaro tidak memiliki pengalaman kepelatihan sekuat Gattuso di klub-klub besar. Roberto Mancini bahkan sempat disebut-sebut sebagai opsi kembalinya, tetapi tidak ada kemajuan konkret.

Gattuso, yang baru saja meninggalkan Hajduk Split di Kroasia, akhirnya dipilih. Keputusan ini didukung oleh Gianluigi Buffon, kepala delegasi timnas, yang menyebut Gattuso sebagai "keputusan terbaik" setelah diskusi dengan Presiden FIGC, Gabriele Gravina. Namun, banyak yang mempertanyakan apakah penunjukan ini terpaksa karena kurangnya kandidat berkualitas yang tersedia, terutama mengingat rekam jejak Gattuso yang tidak selalu konsisten.

Data Kepelatihan Gennaro Gattuso

Gattuso, legenda AC Milan dan anggota skuad juara Piala Dunia 2006, memulai karier kepelatihan pada 2013. Berikut adalah ringkasan perjalanan kepelatihannya:

  • FC Sion (Swiss, 2013): Debut sebagai pelatih sekaligus pemain, namun hanya bertahan beberapa bulan dengan performa buruk.

  • Palermo (Italia, 2013): Dipecat setelah enam pertandingan di Serie B karena hasil yang mengecewakan.

  • OFI Crete (Yunani, 2014): Mengundurkan diri karena masalah finansial klub, meskipun sempat menunjukkan potensi taktik.

  • Pisa (Italia, 2015-2017): Sukses promosi ke Serie B, tetapi degradasi di musim berikutnya.

  • AC Milan (Italia, 2017-2019): Mengelola 82 pertandingan dengan rasio kemenangan 46,3%, membawa Milan ke posisi 5 Serie A dan final Coppa Italia, tetapi gagal lolos ke Liga Champions.

  • Napoli (Italia, 2019-2021): Meraih gelar Coppa Italia 2020, satu-satunya trofi kepelatihannya, dengan rasio kemenangan 54,3% dari 81 pertandingan. Dipecat setelah gagal finis di zona Liga Champions.

  • Valencia (Spanyol, 2022-2023): Finis di papan tengah La Liga, dipecat karena konflik dengan manajemen.

  • Marseille (Prancis, 2023-2024): Hasil inkonsisten di Ligue 1, mengundurkan diri setelah tekanan dari suporter.

  • Hajduk Split (Kroasia, 2024-2025): Finis di posisi ketiga liga, mengundurkan diri atas kesepakatan bersama.

Secara total, Gattuso telah menangani 332 pertandingan di berbagai klub dengan rasio kemenangan sekitar 42,5%. Gaya kepelatihannya dikenal keras, disiplin, dan mengutamakan semangat juang, tetapi kerap dikritik karena kurang fleksibel secara taktik dan inkonsisten di level tertinggi. Penunjukan untuk timnas adalah langkah besar, mengingat ia belum pernah melatih di level internasional.

Peluang Italia Lolos ke Piala Dunia 2026

Italia saat ini berada di posisi ketiga Grup I Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona UEFA dengan tiga poin dari dua pertandingan, tertinggal dari tim-tim seperti Norwegia. Dua tim teratas dari setiap grup lolos langsung, sementara peringkat ketiga dan keempat masuk ke babak play-off. Dengan pertandingan melawan Estonia dan Israel pada September 2025 sebagai laga berikutnya, Gattuso memiliki waktu untuk membangun tim.

Faktor Pendukung:

  • Pengalaman Pemain: Italia memiliki skuad berpengalaman seperti Lorenzo Lucca, Gianluigi Donnarumma, dan pemain muda potensial dari tim U-21. Gattuso dikenal mampu memotivasi pemain, yang bisa meningkatkan kohesi tim.

  • Semangat Juang: Gaya kepelatihan Gattuso yang penuh energi dianggap cocok untuk membangkitkan Italia, yang sempat kehilangan identitas setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2018 dan 2022.

  • Dukungan Staf: Kabarnya, Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Gianluca Zambrotta akan bergabung sebagai asisten, membawa pengalaman juara Piala Dunia 2006.

Tantangan:

  • Rekor Inkonsisten: Rekam jejak Gattuso menunjukkan kesulitan mempertahankan performa stabil, terutama di bawah tekanan tinggi.

  • Adaptasi Taktik: Italia membutuhkan filosofi permainan yang jelas, sesuatu yang belum sepenuhnya dikuasai Gattuso di level klub.

  • Persaingan Ketat: Grup I memiliki tim-tim kuat, dan play-off UEFA dikenal sulit, dengan lawan potensial seperti Portugal atau Kroasia.

Berdasarkan situasi saat ini, peluang Italia lolos ke Piala Dunia 2026 diperkirakan sekitar 60-70% jika Gattuso mampu memaksimalkan potensi skuad dan menerapkan disiplin taktikal. Namun, kegagalan membangun kohesi tim bisa mengulang mimpi buruk 2018 dan 2022. Beberapa pengamat di X optimistis dengan semangat Gattuso, tetapi ada pula yang khawatir Italia bisa mencatat "hattrick" gagal lolos.

Kesimpulan

Penunjukan Gattuso tampaknya dipengaruhi oleh keterbatasan kandidat top seperti Ranieri, ditambah kebutuhan mendesak akan pelatih yang memahami budaya sepak bola Italia. Meski rekam jejaknya penuh pasang surut, semangat dan pengalamannya sebagai pemain juara dunia menjadi alasan FIGC mempercayainya. Peluang Italia lolos ke Piala Dunia 2026 cukup terbuka, tetapi bergantung pada kemampuan Gattuso mengatasi kelemahan taktikalnya dan membangun tim yang solid. Apakah ini pilihan terpaksa? Mungkin sebagian iya, tetapi "Si Badak" punya kesempatan untuk membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar opsi darurat.