Merawat Luka dalam Sunyi: Hatinya yang Sakit, Kakinya yang Disiksa
Tulisan dari Albetaldiyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika patah hati lelaki tak selalu terucap, buku, musik, dan olahraga menjadi cara sederhana untuk merawat luka dan menemukan kembali diri sendiri.
Anehnya: Hatinya yang sakit, kakinya yang disiksa.
Patah hati lelaki sering kali hadir dalam diam. Di tengah anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak banyak bercerita, luka emosional kerap disimpan sendiri. Padahal, patah hati bukan sesuatu yang harus dihadapi dengan memendam perasaan. Melalui buku, musik, dan olahraga, seorang lelaki dapat menemukan ruang untuk menerima kehilangan, merawat diri, dan perlahan memulihkan hati.
Pemuda itu bisa jadi teman sekelas kita. Bisa jadi adik angkat di tongkrongan. Bisa jadi kita sendiri.
Selama ini patah hati lebih sering ditulis sebagai kisah perempuan yang menangis di bawah hujan, sementara lelaki hanya kebagian satu baris: “Cowok mah santai, Lanang tidak bercerita” Padahal santai itu kerap hanya topeng tipis. Tulisan ini berangkat dari satu keyakinan sederhana: kesendirian seorang lelaki setelah patah hati tidak otomatis berarti ia kalah. Dengan syarat tertentu, ia bisa menjadi ruang pulih, tempat buku, lagu, dan jalan sore bekerja pelan-pelan seperti perawat yang tak banyak bicara.
Luka yang Tidak Diumumkan
Ada budaya tak tertulis yang mengajari lelaki bahwa kesedihan adalah urusan pribadi yang harus selesai di dalam kamar.
Lelaki dan Badai yang Rapi
Ia menyimpan badainya di saku kemeja,
dilipat rapi, seperti nota yang enggan dibuang.
Di depan dunia ia tertawa pendek,
sebab “aku baik-baik saja”
adalah satu-satunya payung yang pernah diajarkan kepadanya.
Budaya itu bukan sekadar perasaan kita. Tim peneliti University of British Columbia yang dipimpin John Oliffe mewawancarai 47 lelaki di Australia dan Kanada yang baru melewati putusnya hubungan. Banyak di antara mereka mengalami gejala gangguan mental yang baru atau memburuk, mulai dari cemas dan depresi hingga amarah serta pemakaian alkohol atau zat lain untuk meredam rasa. Para peneliti menilai stereotip maskulinitas, yaitu menekan emosi, canggung berbicara, dan enggan meminta tolong, ikut memperburuk keadaan (UBC, 2022).
Menariknya, kisahnya tidak berhenti di situ. Analisis lanjutan atas wawancara yang sama memperlihatkan bahwa para lelaki ini tidak sepenuhnya diam. Upaya mereka mencari pertolongan beragam: ada yang menempuh jalan sunyi seperti berolahraga, membaca, dan merawat diri; ada pula yang bersandar pada jejaring yang sudah ada, kelompok dukungan, hingga layanan profesional (Oliffe dkk., 2022). Artinya, sunyi sering menjadi tempat pertama lelaki mengobati diri sebelum berani membuka pintu.
Bagaimana dengan Indonesia? Saya belum menemukan data nasional yang secara khusus memotret patah hati lelaki muda. Yang ada adalah gambaran yang lebih luas. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) 2022 mencatat satu dari tiga remaja usia 10 sampai 17 tahun mengalami masalah kesehatan mental, tetapi hanya 2,6 persen dari mereka yang mengakses layanan konseling (UGM, 2022). Respondennya memang belum seusia mahasiswa, namun jurang antara “butuh pertolongan” dan “mencari pertolongan” itu terasa akrab bagi siapa pun yang pernah menahan cerita di kamar kos.
Tiga Pelabuhan Sunyi
Halaman: tempat luka belajar tata bahasa
Pelabuhan pertama adalah buku. "Membaca buku dengan cerita lara yang relevan agar patah hatinya tak sendirian". Ada keajaiban kecil ketika kita menemukan kalimat orang lain yang persis menjelaskan isi dada kita: luka yang tadinya tak bernama mendadak punya kosakata. Dunia klinis mengenal praktik serupa sebagai biblioterapi. Tinjauan atas uji acak terkendali menunjukkan buku swabantu berbasis terapi perilaku-kognitif dapat membantu gejala depresi ringan hingga sedang, dengan manfaat yang pada sejumlah studi bertahan dalam jangka panjang (Anderson dkk., 2005; Gualano dkk., 2017).
Buku "DISTILASI ALKENA karya WIRA NAGARA" menjadi buku pertama yang kubaca untuk mencari persamaan cerita dengan hal yang sedang dirasakan. Sajak pertama yang kubaca dan bermakna menurutku dari buku DISTILASI ALKENA tepat pada halaman 10 tersemat kata-kata:
Bagiku, ingatan adalah mesin waktu,
menyapa, mengais lupa
menemukan kita yang pernah kecewa si satu masa.
Menyadari tentang perpisahan. Mendewasakan hati, Awal tegukan yang manis, tengah kenikmatan yang puitis, hingga berakhir pada pahitnya ampas berujung miris.
on
Pelabuhan kedua adalah musik. Berkali-kali ku putar "Strangers Again-Magnolia Celebration" sembari menemaniku sepanjang jalan pulang, lagi-lagi untuk mencari teman agar patah hatinya tak sendirian.
Mengapa orang yang sedang patah hati justru mencari lagu sedih? Survei daring terhadap sekitar 770 responden oleh Taruffi dan Koelsch (2014) menemukan bahwa musik sedih paling sering dicari ketika seseorang sedang dilanda duka emosional, dan hubungan yang hilang termasuk pemicu yang paling banyak disebut. Musik itu memberi empat “hadiah”: ruang bagi imajinasi, sarana mengatur emosi, rasa dimengerti, dan kesedihan tanpa konsekuensi nyata. Emosi yang paling sering muncul pun bukan sedih, melainkan nostalgia, rasa yang getir sekaligus manis (ringkasan di HuffPost UK, 2014).
Tetapi musik punya sisi bermata dua. Penelitian di PLOS ONE terhadap 389 mahasiswa Tiongkok yang pernah putus cinta menemukan bahwa neurotisisme, yaitu kecenderungan mudah cemas dan murung, memengaruhi emosi pasca-putus melalui cara mendengarkan musik yang maladaptif, seperti melampiaskan atau menghindar, dan bukan melalui cara yang adaptif (He dkk., 2025). Jadi lagu bisa menjadi pundak untuk bersandar, tetapi juga kolam tempat kita sengaja tenggelam. Bedanya terletak pada niat: apakah playlist itu mengantar kita pulang, atau mengurung kita?
Langkah: jalan pulang yang dibuat sendiri
Pelabuhan ketiga adalah olahraga, dan bagi pemuda di awal tulisan ini, berlari. Tinjauan payung yang dipimpin Ben Singh dari University of South Australia merangkum 97 tinjauan sistematis yang mencakup 1.039 uji coba dan 128.119 peserta. Hasilnya, aktivitas fisik berefek sedang dalam meredakan depresi (median −0,43), kecemasan (−0,42), dan distres psikologis (−0,60) dibandingkan perawatan biasa. Para penulisnya mencatat bahwa besar efek itu sebanding, bahkan sedikit lebih besar, daripada efek psikoterapi dan obat-obatan (Singh dkk., 2023; Healio, 2023). Semua jenis aktivitas bermanfaat, dari jalan kaki dan latihan beban hingga yoga. Program yang berlangsung 12 minggu atau kurang justru paling efektif, dan intensitas yang lebih tinggi memberi perbaikan lebih besar bagi depresi dan kecemasan.
Catatan penting: studi itu menelaah aktivitas fisik secara umum, bukan lari secara khusus, dan ia bukan pengganti perawatan profesional bagi mereka yang sudah berada di titik berat. Namun bagi pemuda yang tali sepatunya kita bayangkan tadi, kabar baiknya jelas: kebiasaan kecil yang konsisten punya dasar ilmiah.
Tiga Pelabuhan
Pada halaman-halaman yang menua aku berlabuh,
dan belajar bahwa luka pun punya tata bahasa.
Pada nada yang menyala di kedua telinga aku berteduh,
sebab ada yang bernyanyi tentang kehilanganku
tanpa menagih penjelasan.
Pada jalan yang kuinjak tiap senja aku berjalan pulang,
dan tiap helaan napas menjadi kalimat
yang akhirnya sanggup kuselesaikan.
Algoritma yang Tak Pernah Lupa
Namun pemulihan hari ini punya penghalang yang tak dihadapi generasi sebelumnya: layar. Tara Marshall dari McMaster University menggabungkan beberapa studi, dari survei jangka panjang dan catatan harian hingga eksperimen, dan menemukan pola yang konsisten: mengamati mantan di media sosial berkaitan dengan distres putus cinta, suasana hati negatif, dan rasa cemburu yang lebih tinggi (Marshall, 2026). Pengamatan aktif, seperti sengaja membuka profil, memprediksi distres yang lebih besar pada hari yang sama dan keesokan harinya. Pengamatan pasif, seperti tak sengaja melihat di beranda, berkaitan dengan suasana hati yang lebih buruk pada hari itu. Dalam eksperimennya, orang yang melihat mantan lewat media sosial lebih cemburu daripada mereka yang sekadar membayangkan mantan di tempat kerja atau sekolah. Riset Marshall sebelumnya (2012) terhadap 464 partisipan menemukan hal senada untuk Facebook: pemantauan berkaitan dengan distres yang lebih tinggi, kerinduan, dan pertumbuhan pribadi yang lebih rendah.
Laporan McMaster mencatat bahwa banyak orang tetap terhubung dengan mantan lewat teman bersama, foto lama, bahkan konten yang disodorkan algoritma (McMaster University, 2026). Saya tidak bisa memastikan cara kerja tiap platform, tetapi banyak dari kita mengenali sensasinya: kita belum siap, lalu satu unggahan muncul begitu saja, dan hari yang tadinya tenang mendadak retak. Di titik ini, membisukan, mengarsipkan, atau berhenti mengikuti bukanlah tanda dendam. Itu perawatan luka, sama seperti mengganti perban agar tidak terus tersentuh.
Antara Menyepi dan Menghilang
Di sinilah garis tipis itu berada. Menyepi adalah memilih sunyi untuk pulih. Menghilang adalah dikurung oleh sunyi. Ulasan MQ Mental Health atas riset tentang perpisahan pada lelaki menegaskan bahwa kesepian, hilangnya dukungan emosional, dan tekanan untuk menanggung semuanya sendiri dapat memperberat distres, dan masa-masa segera setelah perpisahan merupakan periode yang paling rentan, terutama bagi lelaki muda (MQ Mental Health, t.t.).
Karena itu, buku, lagu, dan lari sebaiknya menjadi pelengkap percakapan, bukan penggantinya. Ceritakan pada satu kawan yang tidak akan menertawakan, orang-orang terpercayamu atau tenaga professional seperti Psikolog.
Jika gelap terasa terlalu pekat, atau muncul keinginan untuk menyakiti diri, itu bukan lagi beban yang harus dipikul sendirian; segera hubungi tenaga profesional atau orang terdekat. Dan bagi kita yang ada di sekitar mereka: berhentilah menjadikan “baperan” sebagai bahan bercanda. Kadang pertolongan terbaik hanyalah ajakan sederhana, “Lari bareng, yuk.”
Kembali Mengikat Tali Sepatu
Esok sore, pemuda itu akan kembali mengikat tali sepatunya. Ia masih berlari, masih membawa buku, masih memutar lagu yang sama. Bedanya, kali ini ia membuka ponsel bukan untuk mengintip layar orang yang telah pergi, melainkan untuk mengedit dan mengunggah STRAVA-nya: “easy-run hari ini.”
Patah hati tidak membuat lelaki lemah. Yang melemahkan adalah keyakinan bahwa ia harus menanggungnya sendirian. Menangislah, bahwa menangis bukan tanda kelemahan tapi tanda bahwa engkau masih punya perasaan.
Pintu
Sunyi boleh menjadi rumah,
asal jendelanya tak kaupaku.
Biarkan ada celah bagi cahaya,
bagi sapa seorang kawan,
bagi tangan yang terulur sebelum malam benar-benar jatuh.
Sebab lelaki yang berani pulih
adalah lelaki yang berani berkata:
“hari ini aku sedang tidak baik-baik saja.”

