Pancasila di Era Scroll Cepat dan Empati yang Menipis

Fakultas ilmu Komputer Unika Santo Thomas Medan
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alda Risma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya sering merasa kehidupan saat ini bergerak begitu cepat. Baru bangun tidur, kita langsung meraih ponsel. Menjelang malam, layar yang sama kembali menemani. Dalam sekali gulir, kita dapat melihat berita bencana, konflik sosial, lalu disusul hiburan ringan. Semuanya bercampur tanpa jeda, seakan tidak memberi ruang untuk benar-benar merenung.
Di tengah derasnya arus informasi itu, saya menyadari bahwa empati perlahan memudar.
Sebagai mahasiswa, saya melihat bagaimana media sosial memengaruhi cara berpikir generasi muda. Kita cepat bereaksi, tetapi jarang memahami. Kita mudah terpancing emosi, namun sulit menunjukkan kepedulian. Banyak yang merasa sudah peduli hanya dengan membagikan unggahan, padahal setelah itu kehidupan berjalan seperti biasa.
Saya pun mulai bertanya, masihkah Pancasila hadir dalam keseharian kita?
Nilai kemanusiaan yang seharusnya tercermin dalam tindakan nyata kini sering berhenti di layar. Di lingkungan kampus, semakin banyak mahasiswa yang tenggelam dalam urusan masing-masing. Ketika ada teman yang kesulitan, tidak semuanya mau membantu. Saat persoalan sosial muncul, banyak yang memilih diam.
Semangat gotong royong perlahan tergeser oleh sikap individualistis. Kita hidup berdampingan, tetapi jarang benar-benar terhubung satu sama lain.
Padahal Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan pedoman hidup. Sila kemanusiaan mengajarkan kepedulian, sila persatuan mengingatkan kita untuk saling menjaga, dan sila keadilan sosial menuntut keberpihakan pada mereka yang lemah. Namun nilai-nilai tersebut semakin kalah bersaing dengan budaya instan dan kepentingan pribadi.
Menurut saya, tantangan terbesar Pancasila saat ini bukan terletak pada konsepnya, melainkan pada penerapannya. Kita hafal bunyinya, tetapi lupa maknanya. Kita bangga menyebut diri bangsa beradab, tetapi sering abai terhadap sekitar.
Sebagai generasi muda, kita tidak bisa terus menyalahkan perkembangan teknologi. Media sosial hanyalah alat. Manusialah yang menentukan arah. Jika empati menipis, itu karena kita membiarkannya.
Menghidupkan kembali Pancasila tidak harus dimulai dari hal besar. Ia bisa berawal dari tindakan sederhana, seperti mau mendengar cerita orang lain, membantu tanpa pamrih, menghargai perbedaan, dan berani bersikap adil.
Di era scroll cepat ini, mungkin yang paling kita butuhkan bukan informasi baru, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dan kembali menjadi manusia.
Sebab Pancasila bukan hanya milik negara. Ia hidup dalam hati warganya. Masa depan nilai itu sangat bergantung pada pilihan generasi muda hari ini: tetap acuh atau mulai peduli.
